Membaca Bagaimana AS dan Iran Pasca-Gencatan Senjata 2 Minggu?

Penulis: Ubay NA. *)

MAKLUMAT — Iran dan Amerika Serikat (AS) telah mencapai kesepakatan gencatan senjata 2 minggu, yang diumumkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, juga disampaikan Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya, serta pernyataan tertulis oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi.

Iran mengajukan proposal berisi 10 butir syarat yang disebut telah diterima Trump untuk menjadi dasar dalam negosiasi lebih lanjut.

“Alasannya adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, dan sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, serta perdamaian di Timur Tengah. Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya itu dapat menjadi dasar yang bisa dinegosiasikan,” kata Trump di akun Truth Social miliknya.

Pengumuman gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perkembangan terkini dalam dinamika geopolitik di kawasan Asia Barat, yang belakangan mencapai titik didih usai AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari dan langsung direspons dengan serangan balasan oleh Teheran.

Konflik tersebut telah menyebabkan tidak hanya kerugian bagi para negara terkait, tetapi juga negara-negara di kawasan, hingga seluruh dunia, terutama akibat mandeknya perdagangan serta distribusi minyak dan gas di Selat Hormuz yang dibatasi Iran. Usai pengumuman gencatan senjata itu, dunia pun menahan napas: apakah ini pertanda meredanya konflik, atau justru hanya “jeda” sebelum babak pertarungan berikutnya?

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana negosiasi akan berlangsung? Bagaimana kesepakatan final yang akan terjadi? Dan bagaimana AS dan Iran pasca-gencatan senjata 2 minggu tersebut? Bagaimana juga posisi dan sikap Zionis Israel terhadap itu?

Pada dasarnya gencatan senjata kali ini hanya sebagai “jeda” atau “istirahat sementara” untuk memungkinkan proses negosiasi kedua belah pihak berjalan secara efektif.

Pernyataan Trump melalui akun Truth Social, yang menyebut bahwa AS telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan menganggapnya layak dijadikan dasar pembicaraan lanjutan, menunjukkan dua hal: Pertama, AS ingin tampil sebagai pihak yang dianggap “mampu mengendalikan keadaan”. Kedua, pada sisi sebaliknya justru Iran berhasil mendorong agenda diplomatiknya masuk ke meja negosiasi dengan posisi tawar yang kuat.

Namun pertanyaan besar segera muncul: apakah ini benar-benar jalan menuju perdamaian jangka panjang, atau sekadar taktik sementara untuk merapikan strategi di masing-masing pihak yang berkonflik?

10 Poin Iran: Cetak Biru Kemenangan?

Iran mengajukan 10 butir syarat yang pada dasarnya tidak ringan. Jika dibaca secara teliti, isi proposal itu bukan sekadar permintaan teknis, melainkan rancangan besar untuk mengubah peta kekuatan dan keseimbangan di kawasan Asia Barat.

Proposal 10 poin yang diminta Teheran, di antaranya mewajibkan Washington untuk: tidak melakukan agresi baru terhadap Iran, menjamin kontrol Iran atas Selat Hormuz, menerima pengayaan uranium, mencabut sanksi utama dan sekunder, menghentikan resolusi-resolusi PBB dan badan internasional lain, membayar kompensasi, menarik pasukan tempur AS dari kawasan, hingga menghentikan perang di semua lini termasuk terhadap Perlawanan Islam Lebanon.

Dengan kata lain, Iran tidak sedang menawar kecil, mereka memiliki posisi tawar yang kuat dalam negosiasi. Iran sedang mengajukan “paket besar”, yang jika diterima sepenuhnya akan berarti pengakuan strategis bahwa Teheran adalah kekuatan utama kawasan yang tidak bisa lagi ditekan dengan cara-cara lama.

Bagi AS, sepertinya nyaris mustahil untuk bisa menerima semua poin tersebut secara politik. Tetapi bagi Iran, mengajukan tuntutan besar adalah bagian dari strategi negosiasi: mulai dari posisi maksimal agar ruang kompromi tetap menguntungkan.

Iran ingin menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukan bentuk menyerah, melainkan hasil dari ketahanan dan konsistensi. Dalam perspektif Teheran, diplomasi hanya dilakukan setelah lawan mengakui bahwa tekanan militer dan ekonomi tidak berhasil menjatuhkan Iran.

Baca Juga  JD Vance Bela Kesepakatan AS-Iran, Kritik Keras Israel: Tak Semua Masalah Diselesaikan dengan Membunuh

Lantas, mengapa Trump mengaku “menerima” 10 poin proposal tersebut sebagai dasar dari negosiasi lebih lanjut antara Washington dan Teheran? Apakah hal itu mengindikasikan AS “menyerah” dalam memerangi Iran? Apakah militer AS sudah tak mampu “menahan” balasan-balasan Iran? Apakah AS sudah menanggung kerugian begitu besar secara moril maupun materiil atas perlawanan Teheran, termasuk secara ekonomi? Apakah gejolak domestik aksi massa yang mencapai 8 juta orang di seluruh negara bagian AS telah memaksa Trump “mundur” dari perang?

Tentu tidak mudah untuk menjawab hal tersebut. Selama 40 hari berperang, memang harus diakui Iran mengalami periode yang sulit, di mana sejumlah petinggi militer dan pejabat elite mereka, termasuk Pemimpin Tertinggi (Rahbar) Ayatollah Ali Khamenei gugur. Berbagai instalasi militer maupun infrastruktur sipil termasuk sekolah dan perguruan tinggi rusak akibat serangan AS-Israel.

Namun, pada sisi sebaliknya, serangan balasan dengan strategi perang atrisi melalui mosaic defense dan asimetric war yang dilancarkan Teheran juga membuat AS dan Israel menderita kerugian yang sangat mahal. Swarm drone disusul dengan rudal jelajah maupun balistik dengan presisi tinggi membuat sistem pertahanan seperti Iron Dome, David Sling, Arrow 3, THAAD, hingga Patriot “tak bertaji”.

Belasan pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, hingga Arab Saudi berhasil dirusak bahkan dihancurkan Iran. Aset-aset strategis AS di kawasan juga tak luput dari sasaran. Di Israel lebih mencekam—meskipun militer Israel memberlakukan pembatasan akses informasi. Serangan-serangan presisi Teheran membuat sirene meraung-raung sepanjang waktu, mulai dari Tel Aviv, Yerusalem yang diduduki, Haifa, Bnei Brak, hingga wilayah yang diyakini sebagai fasilitas nuklir Zionis di Dimona, mampu dijangkau sepenuhnya oleh Iran.

Swarm persenjataan murah Iran memaksa AS dan Israel “merogoh kocek dalam” lantaran biaya untuk memproduksi rudal-rudal pencegat mereka yang begitu mahal, terlebih bahwa satu drone ataupun rudal Iran tidak bisa hanya dihancurkan dengan sekali tembakan pencegat, bisa dua, tiga, bahkan empat kali cegatan untuk memastikan ancaman Teheran betul-betul dinetralisir.

Belum lagi berbagai alutsista mahal AS dan Israel yang harus rusak dan hancur akibat serangan balasan Iran. Mulai dari kapal, jet tempur, sistem radar, sistem pertahanan udara, dan sebagainya.

Bahkan, tingginya biaya perang yang dilancarkan ke Iran telah memicu gejolak domestik di AS, di mana lebih dari 8 juta warga turun ke jalan di seluruh negara bagian, salah satunya menuntut penghentian perang, dan menyebut bahwa perang itu bukanlah kepentingan AS melainkan kepentingan Israel.

Diplomasi di Tengah Ketidakpercayaan?

Durasi gencatan senjata selama dua minggu juga menarik untuk dicatat dan menjadi perhatian. Dalam konflik besar, gencatan senjata yang singkat biasanya bukan tanda perdamaian, melainkan tanda bahwa kedua pihak sedang menghitung ulang langkah.

Gencatan senjata semacam ini lebih tepat disebut “pause button” alias tombol jeda, berhenti sementara, di mana konflik belum sepenuhnya berakhir. Ia memberikan ruang bagi komunikasi politik tanpa kehilangan muka, utamanya bagi Trump sebagai pihak yang memulai perang.

AS membutuhkan waktu untuk membaca respons sekutu-sekutunya, terutama negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan sebagainya, serta utamanya Israel.

Iran pun membutuhkan waktu untuk mengonsolidasikan posisi internalnya, memastikan bahwa jalur diplomasi tidak dilihat sebagai kelemahan, serta menakar apakah AS benar-benar serius atau hanya sedang memainkan taktik pengalihan. Terlebih setelah “pengkhianatan” diplomasi sudah dua kali dilakukan AS—termasuk negosiasi sebelum pecahnya perang 28 Februari 2026—dengan melancarkan serangan militer ketika proses negosiasi tengah berlangsung.

Karena satu hal yang tidak bisa diabaikan: hubungan AS dan Iran bukan hubungan dua negara biasa. Ini hubungan dua kekuatan yang dibangun di atas sejarah panjang kecurigaan, trauma politik, dan perang proksi selama puluhan tahun.

Baca Juga  Komisi VI DPR RI Tekankan Penguatan Proteksi Petani Hadapi Gelombang Impor AS

Maka gencatan senjata dua minggu bukanlah “jaminan damai”, tetapi kesempatan untuk menguji niat sebenarnya. Justru, publik dunia tengah berada dalam ketidakpastian tentang bagaimana selanjutnya? Apakah akan tercipta perdamaian permanen? Atau justru perang berlanjut “semakin brutal” pasca-gencatan senjata 2 minggu?

Jika negosiasi ini benar-benar berjalan, besar kemungkinan prosesnya tidak akan berlangsung secara terbuka ataupun secara langsung. Akan ada jalur diplomasi senyap melalui mediator. Dalam negosiasi nuklir Iran sebelumnya di Oman sebagai mediator, delegasi Iran dan AS juga tidak melakukan negosiasi langsung, melainkan bertukar pesan melalui Oman sebagai perantara. Begitu pula dalam diplomasi gencatan senjata dua minggu kali ini, di mana Pakistan menjadi perantara kedua belah pihak.

Berkaca dari pengalaman tersebut, agaknya proses negosiasi AS dan Iran kemungkinan besar juga bakal dilakukan kurang-lebih seperti itu. Tetapi dalam negosiasi semacam ini, bukan hanya soal siapa yang duduk di meja perundingan, melainkan siapa yang membawa kartu lebih kuat.

Iran membawa kartu strategis: posisi geografis yang kuat dan sangat sulit ditembus, kendali atas Selat Hormuz, jaringan sekutu regional yang turut memberikan dukungan seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, kelompok pro-Iran di Irak, Suriah, hingga Hamas di Palestina. Ketahanan militer Iran juga selama ini terbukti tidak mudah dilumpuhkan, termasuk soliditas masyarakat Iran menyerukan perlawanan atas agresi AS-Israel juga menjadi modal yang penting. Iran juga membawa kartu “ketahanan ekonomi” setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi.

Pada sisi sebaliknya, AS membawa kartu yang berbeda: “cengekeraman” terhadap sistem internasional, kekuatan sanksi finansial, dominasi militer global, hingga kemampuan mempengaruhi negara-negara sekutu agar mendukung tekanan terhadap Iran.

Namun yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir, kartu AS tidak lagi sekuat dulu. Dunia sudah berubah. Rusia dan China punya peran baru, negara-negara Teluk mulai lebih pragmatis, dan ketergantungan global pada stabilitas energi membuat banyak pihak tidak ingin konflik Iran-AS terus membesar.

Kecenderungan “melemahnya pengaruh” Amerika Serikat dapat disaksikan dalam 40 hari perang AS-Israel dan Iran, di mana negara-negara yang “biasanya mendukung” dan merupakan mitra utama Washington, seperti Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, serta berbagai negara anggota NATO lainnya, justru menolak memberikan bantuan ataupun dukungan bagi AS. Bahkan untuk sekadar mengizinkan pangkalan militernya digunakan AS menyerang Iran, mereka pun enggan.

Di sinilah “mungkin” Iran merasa punya ruang untuk menekan. Sebaliknya, psikologis Trump dan AS sebagai adidaya kemungkinan bakal keberatan dengan tuntutan-tuntutan Teheran dalam negosiasi. Lantas bagaimana “pertukaran kepentingan” kedua belah pihak akan terwujud? Dan sebesar apa kemungkinan negosiasi tersebut bakal mewujudkan perdamaian permanen?

Negosiasi kemungkinan akan bergerak pada isu-isu realistis: pencabutan sebagian sanksi, pembatasan program nuklir dengan imbalan ekonomi, dan pembicaraan keamanan kawasan. Tetapi beberapa poin Iran seperti “kompensasi” dan “mengakhiri semua resolusi PBB” tampaknya akan sulit diwujudkan, kecuali terjadi perubahan besar dalam politik global. Atau mungkin Trump punya perhitungan lain, atau mungkin Trump memang “menyerah”, agaknya akan sulit terealisasi.

Kompromi atau Pertukaran Kepentingan?

Jika ada kesepakatan final dalam 2 minggu gencatan senjata, kemungkinan bentuknya bukan kemenangan mutlak salah satu pihak, melainkan pertukaran kepentingan. Saling mengeliminir antara 15 poin usulan Trump dan 10 poin tuntutan Teheran.

AS mungkin akan mencoba mengunci Iran agar tidak melangkah menuju senjata nuklir, atau setidaknya membuat program nuklirnya dapat dipantau lebih ketat. Iran di sisi lain ingin memastikan sanksi ekonomi dicabut dan kedaulatan politiknya tidak lagi menjadi sasaran operasi militer AS, termasuk yang menjadi tanda tanya besar adalah bagaimana kendali Selat Hormuz.

Jika coba diterka-terka, kemungkinan kesepakatan final yang realistis seperti: Pengakuan hak pengayaan Iran dalam batas tertentu; Pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran secara bertahap; Pengurangan eskalasi militer di kawasan; ataupun Kesepakatan tidak saling menyerang melalui perang proksi.

Baca Juga  Hemat Energi: Implementasi Nilai Keagamaan di Tengah Krisis Global

Tetapi yang menjadi pertanyaan besar juga adalah sejauh mana AS mampu menjamin komitmen jangka panjangnya? Sebab, Iran punya pengalaman pahit ketika perjanjian nuklir sebelumnya (JCPOA) ditinggalkan secara sepihak, hingga “pengkhianatan” dalam negosiasi sebelumnya, di mana di tengah pembicaraan yang sedang berlangsung di Oman justru AS melancarkan serangan militer pada 28 Februari 2026.

Mungkin itulah, alasan mengapa Iran menuntut jaminan dan penghapusan resolusi internasional. Iran tidak mau terjebak pada perjanjian yang bisa dibatalkan lagi jika kepemimpinan AS berganti atau tekanan lobi meningkat.

Setelah dua minggu, situasinya mungkin bakal bergerak ke salah satu dari dua jalur ekstrem.

Pertama, de-eskalasi. Jika negosiasi menunjukkan hasil konkret, gencatan senjata bisa diperpanjang, bahkan berubah menjadi kerangka perdamaian regional yang permanen. Ini akan membuka babak baru: AS mungkin mulai mengurangi keterlibatan militernya di kawasan, sementara Iran mendapatkan ruang ekonomi dan legitimasi lebih besar.

Kedua, eskalasi yang berlanjut. Jika negosiasi mandek, dua minggu ini hanya menjadi waktu bagi masing-masing pihak untuk memperkuat posisi militer dan menyusun skenario baru. Dalam skenario ini, gencatan senjata hanya jeda sebelum konflik yang lebih keras.

Kegelisahan Posisi Zionis Israel?

Keduanya kemungkinan tersebut sangat mungkin terjadi, dan sepertinya bakal cukup tergantung pada satu faktor: Israel.

Di antara semua aktor, Zionis Israel kemungkinan menjadi pihak yang paling tidak nyaman dengan perkembangan ini.

Bagi Israel, perdamaian AS-Iran bukan otomatis kabar baik. Justru bisa menjadi ancaman dalam kacamata mereka. Jika AS melunak kepada Iran, maka Teheran akan semakin kuat secara ekonomi dan politik. Dan jika Iran semakin kuat, jaringan perlawanan regional juga berpotensi semakin solid.

Iran melihat Israel sebagai musuh yang harus dilenyapkan, sebagaimana “doktrin abadi” yang digaungkan sejak Revolusi Islam Iran oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1979.

Di sisi lain, Israel selama ini menjadikan “ancaman Iran” sebagai alasan utama untuk memperkuat aliansi dengan AS dan menekan negara-negara Arab agar mendukung agenda keamanan Israel.

Maka, bisa jadi kesepakatan AS-Iran dapat mengganggu “peta permainan” Zionis Israel yang disebut-sebut bercita-cita menciptakan Israel Raya—dengan menduduki Palestina, Lebanon Selatan, serta sejumlah wilayah di kawasan—dan menjadi satu-satunya pemain dominan yang mengendalikan kawasan.

Tidak mengherankan jika Israel berpotensi mengambil langkah-langkah yang mengacaukan proses negosiasi, baik melalui tekanan politik di Washington maupun melalui provokasi militer di kawasan. Dalam sejarahnya, proses diplomasi cukup sering runtuh bukan karena pihak yang bernegosiasi, tetapi karena pihak ketiga.

Israel tidak ingin kehilangan posisi sebagai “sekutu utama” AS di kawasan, dan tidak ingin Iran memperoleh legitimasi internasional.

Dengan demikian, Israel kemungkinan akan bersikap ambigu: secara terbuka mungkin mendukung “stabilitas”, tetapi secara politik bisa menekan AS agar tidak memberi terlalu banyak konsesi. Mengingat betapa kuatnya lobi Zionis di internal AS.

Pada akhirnya, gencatan senjata dua minggu ini memang lebih tepat dipahami sebagai jeda strategis. Ia bukan akhir konflik, melainkan ruang untuk menentukan arah.

Jika negosiasi berjalan efektif, dua minggu ini bisa menjadi awal dari tatanan baru di kawasan Asia Barat: lebih banyak diplomasi, lebih sedikit perang dan konflik, serta pembagian pengaruh yang lebih realistis.

Namun jika gagal, jeda ini hanya akan dikenang sebagai waktu istirahat sebelum babak eskalasi berikutnya—dengan potensi konflik yang lebih luas dan lebih mahal.

Yang jelas, baik AS maupun Iran sama-sama sedang bermain dalam papan catur geopolitik. Dan dalam permainan ini, tidak ada langkah yang benar-benar netral. Gencatan senjata hanyalah jeda. Tetapi jeda itu bisa menjadi titik balik sejarah—atau hanya napas pendek sebelum badai yang lebih besar berikutnya.