MAKLUMAT — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri dan mengaku optimis bahwa kondisi ekonomi Indonesia tetap aman dan terkendali pasca-invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari lalu.
Menurut Purbaya, respons pasar justru menunjukkan sinyal positif. Ia mengaku sempat terheran-heran ketika melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru menguat ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan serangan militer ke negara Amerika Latin itu.
“Kalau Anda lihat pasar saham kan malah naik kan? Jadi mereka melihat justru sedikit positif kan? Agak aneh sebetulnya. Tapi itu yang dilihat pasar,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Selasa (7/1/2025).
Selain pasar saham, Purbaya juga menyebut nilai tukar rupiah yang berpotensi menguat di tengah konflik AS-Venezuela. “Harusnya positif,” kelakarnya.
Menurutnya, konflik tersebut tidak akan terlalu berdampak pada pasar minyak global. Pasalnya, Venezuela saat ini tidak terlalu aktif di pasar minyak dunia karena keterbatasan kapasitas produksi, meskipun negara itu disebut-sebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
“Harga minyak kan? kalau mungkin di short run mungkin akan turun suplainya. Tapi kan Amerika sudah izinkan drilling di Alaska. Jadi enggak pengaruh ke suplai, dan ke depan kalau memang dijalankan peningkatan produksinya ya akan bagus juga untuk harga minyak, suplai minyak dunia,” terangnya.
Di sisi lain, secara geografis posisi Venezuela yang jauh dari Indonesia, menurut Purbaya juga menjadi faktor minimnya dampak langsung terhadap perekonomian nasional. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kekuatan ekonomi domestik.
“Itu kan jauh dari negara kita. Jadi gini, artinya kita mesti selalu memelihara kekuatan kita. Itu saja,” tandas bendahara negara itu.
Sebelumnya, Presiden AS mengumumkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sang istri, Cili Flores, dalam operasi serangan militer skala besar yang dilakukan pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Operasi tersebut disinyalir dilakukan oleh unit elite Delta Force yang dikenal memiliki reputasi dalam menjalankan misi-misi khusus tingkat tinggi.
Maduro kemudian dibawa ke AS untuk diadili. Ia dituduh sebagai otak di balik jaringan yang diduga menyelundupkan kokain ke Negeri Paman Sam, merujuk pada dakwaan Departemen Kehakiman AS pada 2020.
Dalam operasi militer tersebut, pasukan elite AS juga melancarkan serangan udara presisi yang menghantam ibu kota Venezuela di Caracas, serta melumpuhkan sejumlah titik strategis di Negara Bagian Miranda, La Guaira, dan Aragua.