
MAKLUMAT — Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespon kebijakan tarif timbal balik alias resiprokal yang diterapkan AS per 2 April 2025 lalu, di mana produk-produk asal Indonesia dikenakan tarif impor sebesar 32 persen.
Menko Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, berkunjung ke Malaysia dalam dua hari terakhir. Selain agenda silaturahmi, kunjungan tersebut juga dimaksudkan untuk menjalin komunikasi dan koordinasi terkait tarif resiprokal AS, mengingat Malaysia adalah Ketua ASEAN (Association of South-East Asian Nation) tahun 2025.
“Malaysia selaku Keketuaan ASEAN 2025, menjadi sangat penting untuk mendorong penguatan kerja sama seluruh Negara ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk respons atas kebijakan tarif resiprokal AS,” kata Airlangga dalam keterangannya, dilansir dari Antara pada Jumat (4/4/2025).
Dalam kesempatan itu, Airlangga mengunjungi Deputy Prime Minister of Malaysia (DPM) I Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi di kediaman resminya pada Kamis (3/4/2025). Kemudian, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu juga bertemu Perdana Menteri (PM) Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim di kantornya, Jumat (4/4/2025).
Penguatan Ekonomi Regional ASEAN
Anwar menyampaikan, pertemuan tersebut mendiskusikan perkembangan dari berbagai kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dengan Malaysia.
“Kami memanfaatkan sepenuhnya persahabatan erat kedua negara, terutama dalam memperkuat lebih banyak lagi kegiatan ekonomi dan perdagangan, yang melibatkan pengusaha Indonesia dan Malaysia di berbagai sektor terkait,” katanya.
Di sisi lain, Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia, Tengku Datuk Seri Zafrul Abdul Azis, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, juga membahas strategi untuk penguatan ekonomi regional ASEAN. Terutama menghadapi situasi ekonomi global yang tidak menentu.
“Dalam lingkungan global yang penuh ketidakpastian, persatuan ASEAN bukan lagi pilihan, tetapi menjadi suatu keharusan. Mari kita perkuat ekonomi regional untuk kesejahteraan bersama,” ujar Tengku Zafrul.
Kedua belah pihak, RI-Malaysia, sepakat bahwa suara ASEAN harus semakin lantang, terlebih di tengah situasi ekonomi global yang bergejolak. Airlangga menilai, posisi ASEAN di kawasan Indo Pasifik adalah posisi yang sangat penting. Bahkan, kata dia, dapat menjadi kekuatan besar untuk mendorong penguatan ekonomi regional di kawasan
Sinkronisasi ASEAN Respon Kebijakan AS
Sekadar diketahui, Indonesia dan Malaysia bakal memanfaatkanTrade and Investment Framework Agreement (TIFA) atau Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi, untuk mencari keuntungan dari perdagangan timbal balik dan mengupayakan berbagai perjanjian kerja sama dengan AS.
Sebab itu, Airlangga menandaskan pentingnya sinkronisasi antarnegara anggota ASEAN, yang hampir semuanya terdampak oleh kebijakan tarif resiprokal pemerintah AS. Termasuk Malaysia yang terkena tarif impor 24 persen. Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab secara kolektif oleh negara-negara ASEAN, dengan membangun komunikasi dan engagement dengan Pemerintah AS.
MITI Tengku Zafrul dan Menko Airlangga mengakui, kebijakan tarif resiprokal AS yang diteken Presiden Trump bakal menimbulkan tantangan dan potensi dampak yang besar terhadap dinamika perdagangan global.
Meski begitu, ia menekankan bahwa Indonesia dan Malaysia bakal berupaya untuk tetap menjaga hubungan perdagangan yang kuat, konstruktif, dan saling menguntungkan dengan AS.
“Dengan tetap menghormati kebijakan tersebut, Indonesia dan Malaysia percaya pada hubungan yang konstruktif dan saling menguntungkan. Keduanya berkomitmen untuk menjaga kepentingan ekonomi dengan tetap menjaga hubungan perdagangan yang kuat dengan AS,” tandas Airlangga.