MAKLUMAT — Kata kunci “Minyak” mendadak menjadi trending topic di platform X (dulu Twitter) pada Ahad (4/1/2026), menyusul kabar penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, usai invasi militer Amerika Serikat ke Caracas. Perbincangan warganet tak hanya menyoroti aspek politik dan militer, tetapi juga langsung mengaitkannya dengan kepentingan energi global.
Isu minyak Venezuela menjadi sorotan utama. Banyak netizen menilai langkah Amerika Serikat terhadap Caracas tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa Venezuela merupakan pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi.
Akun X @ArmaZulfikar menulis, “Absolute cinema: Venezuela sudah di kaki USA. Perang tarif dengan China mereda, poinnya Amerika sudah dapat pengganti Arab Saudi dalam masalah energi.” Unggahan tersebut memicu ribuan interaksi dan memperkuat narasi bahwa konflik ini sarat kepentingan ekonomi.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengumumkan aktivasi dekrit pertahanan nasional dan mobilisasi penuh negara. “Hanya ada satu presiden di negara ini, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros,” kata Rodriguez dalam pertemuan Dewan Pertahanan Nasional, seperti dikutip akun @SoftWarNews.
Namun di media sosial, respons publik terbelah. Sebagian menilai pemerintahan Maduro telah “kecolongan” secara internal, sementara yang lain menyebut elite militer Venezuela lebih dulu disabotase melalui tekanan dan janji politik.
Berapa besar cadangan minyak Venezuela? Berdasarkan catatan Worldometers, Venezuela masih bertengger di peringkat pertama dunia dengan cadangan minyak terbukti mencapai sekitar 300,8 miliar barel. Angka ini menempatkannya di atas Arab Saudi yang memiliki sekitar 266,4 miliar barel.
Secara global, kawasan Timur Tengah memang masih mendominasi peta energi. Lima negara Teluk — Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab — menguasai sebagian besar cadangan minyak dunia. Namun, posisi Venezuela sebagai raksasa minyak di Amerika Selatan menjadikannya aset strategis yang tak bisa diabaikan.
Dalam daftar 10 besar negara pemilik cadangan minyak terbukti, selain Venezuela dan Arab Saudi, tercatat Kanada, Iran, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Rusia, Libya, dan Amerika Serikat. Menariknya, AS memang masuk 10 besar, tetapi konsumsi domestiknya sangat tinggi sehingga ketergantungan terhadap sumber eksternal tetap besar.
Perbincangan di X juga menyinggung masa depan energi global. Sejumlah warganet menilai cadangan minyak Venezuela bisa menjadi penentu keseimbangan geopolitik baru, terutama di tengah transisi energi dan ketegangan global yang belum mereda.
Di sisi lain, para pengamat mengingatkan bahwa melimpahnya cadangan minyak juga membawa tantangan. Ketergantungan berlebihan pada komoditas fosil berisiko menjadikan minyak sebagai aset terdampar jika dunia beralih penuh ke energi terbarukan.
Namun untuk saat ini, satu hal tampak jelas di linimasa: penangkapan Nicolas Maduro bukan sekadar isu politik. Di mata publik global, ini adalah soal minyak, kekuasaan, dan peta energi dunia — dan itulah yang membuat kata “Minyak” meledak sebagai trending topic.***