Mogok Kerja Samsung Mengancam Industri Chip Korea Selatan, 50 Ribu Buruh Siap Lumpuhkan Produksi

Toko Samsung di salah satu mall di Jakarta

MAKLUMAT — Produsen semikonduktor terbesar dunia, Samsung Electronics, menghadapi ancaman mogok kerja besar-besaran setelah serikat pekerja terbesar perusahaan menolak ajakan negosiasi terbaru dari manajemen.

Serikat pekerja menegaskan akan tetap melanjutkan mogok kerja selama 18 hari mulai Kamis pekan depan meski perusahaan telah mengirim proposal resmi untuk melanjutkan pembicaraan tanpa syarat.

Aksi mogok kerja ini dinilai berpotensi mengganggu produksi chip memori berbasis kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekspor Korea Selatan. “Kami bersedia berdiskusi setelah 7 Juni,” kata Ketua Serikat Pekerja Samsung Electronics, Choi Seung-ho.
“Kami bermaksud menggunakan hak-hak yang dijamin Konstitusi,” lanjutnya seperti dilansir kantor berita Yonhap, Sabtu (16/5/2026).

Serikat Pekerja Tolak Tawaran Samsung

Dua hari perundingan yang dimediasi pemerintah Korea Selatan berakhir tanpa kesepakatan pada Rabu lalu. Perselisihan utama masih berkutat pada bonus berbasis kinerja yang dikaitkan dengan keuntungan bisnis semikonduktor AI Samsung.

Dalam proposal terbaru, Samsung menawarkan tetap mempertahankan sistem insentif laba berlebih yang berlaku saat ini. Perusahaan juga membuka opsi perhitungan bonus berdasarkan 10 persen laba operasional atau Economic Value Added (EVA).

Selain itu, Samsung mengusulkan skema kompensasi khusus untuk menciptakan sistem insentif yang lebih fleksibel.

Baca Juga  LPDP Biayai 58 Ribu Penerima hingga 2026, Fokus AI, Semikonduktor, dan Hilirisasi

Namun serikat pekerja menolak tawaran tersebut. Mereka menuntut bonus tetap sebesar 15 persen dari laba operasional divisi semikonduktor, sekaligus penghapusan batas maksimal pembayaran bonus.

Menurut serikat pekerja, manajemen belum menunjukkan perubahan sikap yang signifikan.

“Para karyawan telah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap manajemen,” ujar Choi.

CEO Samsung Datangi Kantor Serikat

Menyusul memanasnya situasi, CEO divisi semikonduktor Samsung, Jun Young-hyun, bersama jajaran eksekutif mendatangi kantor serikat pekerja di Pyeongtaek, sekitar 60 kilometer dari Seoul, Jumat (15/5/2026).

Dalam kunjungan itu, pihak manajemen kembali meminta pembicaraan dilanjutkan dengan sikap terbuka tanpa prasyarat.

“Kami memandang serikat pekerja sebagai keluarga dan mitra yang berbagi nasib yang sama,” tulis Samsung dalam pernyataan resminya.

Namun, perusahaan kembali tidak membawa proposal baru yang diminta serikat pekerja.

Serikat pekerja pun tetap bersikukuh bahwa negosiasi hanya bisa berjalan jika tuntutan utama terkait transparansi bonus dan penghapusan batas pembayaran dipenuhi.

50 Ribu Buruh Siap Ikut Mogok Kerja

Choi mengungkapkan sekitar 41 ribu anggota serikat telah menyatakan kesiapan mengikuti mogok kerja. Jumlah tersebut diperkirakan bisa meningkat hingga lebih dari 50 ribu pekerja.

Pemerintah Korea Selatan mulai turun tangan karena khawatir aksi tersebut dapat memukul perekonomian nasional yang sangat bergantung pada ekspor semikonduktor.

Baca Juga  KF-21 Boramae Jadi Simbol Kemitraan Strategis RI-Korsel, Kemlu Soroti AI hingga Pertahanan

Menteri Tenaga Kerja Korea Selatan, Kim Young-hoon, dijadwalkan bertemu manajemen Samsung paling cepat Sabtu untuk melakukan upaya mediasi.

Serikat pekerja juga meminta pergantian kepala negosiator manajemen, Wakil Presiden Kim Hyung-ro, karena dianggap kurang memahami bisnis semikonduktor.

Ancaman Kerugian Rp1.100 Triliun

Pengamat industri memperingatkan mogok kerja penuh di Samsung dapat memicu kerugian ekonomi Korea Selatan hingga 100 triliun won atau sekitar US$66,7 miliar.

Padahal Samsung sedang menikmati lonjakan keuntungan dari booming AI global. Perusahaan mencatat laba operasional kuartal pertama 2026 sebesar 57 triliun won dan diperkirakan bisa meraih laba tahunan hingga 300 triliun won.

Ekspor Korea Selatan sendiri mencapai rekor US$219,9 miliar pada kuartal pertama 2026. Sektor semikonduktor menjadi motor utama dengan nilai ekspor mencapai US$78,5 miliar atau melonjak 139 persen dibanding tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut dipicu tingginya permintaan global terhadap server dan pusat data AI.