MAKLUMAT — Kabar duka datang dari Universitas Amikom Yogyakarta. Seorang mahasiswa, Rheza Sendy Pratama (20), meninggal dunia usai terlibat dalam aksi demonstrasi besar-besaran di depan Mapolda DIY, Sabtu (30/8).
Informasi awal mengenai kematian Rheza beredar di media sosial. Akun X (Twitter) @maribasuara menulis bahwa mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 itu sempat koma setelah dipukuli aparat. “Dipukuli hingga koma, direnggut paksa, Rheza tewas di tangan aparat negara,” tulis akun tersebut.
Kabar itu diperkuat Forum BEM DIY lewat akun Instagram. Mereka menyebut Rheza terjatuh saat motornya mati ketika hendak berbalik arah. Gas air mata ditembakkan, ia tergeletak, dan kemudian dihampiri aparat. “Rekannya berhasil melarikan diri. Rheza justru tak tertolong,” tulis pernyataan resmi.
Berita duka dari Jogja.
Seorang kawan kita, Rheza Sendy Pratama, meninggal dunia. Dipukuli hingga koma, direnggut paksa, Rheza tewas di tangan aparat negara.
Negara sekali lagi membuktikan kegilaannya: rakyat dipukul, suara dibungkam, nyawa direnggut.
Mari kita teruskan… pic.twitter.com/rig6umlMCv
— basuara (@maribasuara) August 31, 2025
Ada Bekas Sepatu PDL
Ayah Rheza, Yoyon Surono, ditemui wartawan di rumah duka di Mlati, Sleman, membenarkan kabar tersebut. Ia mengaku mendapat informasi dari tetangga bahwa anaknya dibawa ke RSUP Dr Sardjito. Namun ketika sampai di rumah sakit, Rheza sudah terbujur kaku.
“Saya tanya siapa yang antar, katanya cuma ada dua orang dari unit kesehatan Polda,” ujarnya. Yoyon menambahkan, saat memandikan jenazah, ia melihat banyak luka di tubuh anaknya. “Leher kayak patah, perut kanan ada bekas sepatu PDL, tubuh ada sayatan-sayatan, kepala bocor, wajah pucat kena gas air mata, punggung dan kaki lecet-lecet,” bebernya dikutip dari Kumparan. Jenazah Rheza telah dimakamkan keluarga.
Pihak kampus melalui Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Ahmad Fauzi, membenarkan bahwa Rheza adalah mahasiswa Amikom yang ikut dalam aksi di Mapolda DIY. “Betul, dia mahasiswa kami. Info yang kami terima, almarhum ikut dalam aksi unjuk rasa. Kronologi detailnya masih kami telusuri,” kata Fauzi, Ahad (31/8).
Cambuk Bagi Kita Semua
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Amikom juga menyampaikan duka cita. Dalam rilis resminya, BEM menegaskan bahwa kepergian Rheza bukan sekadar musibah biasa. “Kematian ini bukan hanya duka keluarga, tapi cambuk bagi kita semua. Seorang mahasiswa tumbang dalam perjuangan yang seharusnya dijaga kehormatannya,” tulis BEM Amikom melansir laporan Tribun Jogja.
Kabar meninggalnya Rheza memicu gelombang empati sekaligus kemarahan warganet. Ribuan komentar memenuhi unggahan di media sosial.
“Dibunuh bangsa sendiri. Dibunuh orang yang harusnya melindungi,” tulis akun @dina.cen2.
Namun ada juga yang mengingatkan mahasiswa lain agar lebih waspada. “Kalau situasi sudah chaos, lebih baik mundur,” tulis akun @abdlfrds.
Hingga berita ini diturunkan, Polda DIY belum memberikan keterangan resmi terkait insiden yang menewaskan Rheza. Wartawan masih berupaya meminta konfirmasi dari pihak kepolisian.