MAKLUMAT — Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar wafatnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Senin (2/3/2026), menghadirkan duka bagi bangsa Indonesia.
Sosok yang meniti karier dari prajurit hingga menduduki jabatan Wakil Presiden RI itu dikenal sebagai figur pengabdian dan keteladanan dalam kehidupan berbangsa.
Bagi Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, almarhum bukan sekadar tokoh nasional, tetapi juga pribadi yang meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan hidupnya.
Muhadjir mengenang pertemuan pertamanya dengan Try Sutrisno pada Februari 1989. Dikutip dari unggahan foto dan naskah akun Facebook Muhadjir Effendy, Rabu (4/3/2026), saat itu, ia terlibat dalam persiapan pembukaan Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke-22 di Malang, Jawa Timur.
Try Sutrisno yang menjabat sebagai Panglima ABRI ditugaskan oleh Presiden Soeharto untuk membuka acara tersebut. Muhadjir ketika itu menjabat sebagai Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Ketua Panitia Pelaksana.
Dari pertemuan tersebut, komunikasi keduanya terjalin baik. Muhadjir mengungkapkan bahwa almarhum selalu mengingat namanya dalam setiap kesempatan pertemuan. Bagi Muhadjir, perhatian tersebut menjadi kesan tersendiri, terlebih saat itu dirinya masih tergolong sebagai akademisi muda.
Hubungan tersebut berlanjut hingga Muhadjir diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016. Try Sutrisno termasuk di antara tokoh yang pertama menyampaikan ucapan selamat melalui sambungan telepon. Muhadjir juga menyempatkan diri bersilaturahmi kepada almarhum sebagai bentuk penghormatan kepada senior bangsa.
Menurut Muhadjir, almarhum dikenal sebagai pribadi yang menjunjung tinggi kesetiaan kepada negara, memiliki kepemimpinan yang tegas, serta memegang nilai integritas dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Atas nama pribadi dan keluarga besar Muhammadiyah, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah beliau dan menempatkannya di tempat terbaik,” tulis Muhadjir.
Bangsa Indonesia kembali mengenang perjalanan seorang prajurit yang menapaki tangga pengabdian hingga jabatan tertinggi di pemerintahan. Jejak tersebut menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa.***













