Muhammadiyah Dorong Dai Digital Angkat Konten Islam dengan Sentuhan Sains

Muhammadiyah Dorong Dai Digital Angkat Konten Islam dengan Sentuhan Sains

MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah Saad Ibrahim menilai, dakwah di era digital tidak bisa dilepaskan dari sains. Pengetahuan ilmiah dapat menjadi pintu masuk yang kuat untuk menguatkan keislaman. Ia menilai, konten keagamaan akan lebih hidup jika mampu menyingkap kebesaran ciptaan Tuhan melalui pendekatan ilmiah yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Menurutnya, keseharian masyarakat itu memiliki korelasi dengan sains maupun agama. Oleh karenanya, dakwah digital harus mampu masuk ke ruang tersebut. Dakwah harus menarik perhatian dengan pesan yang bermanfaat, bukan sekadar ramai dan viral. Selain itu, juga harus dikemas dengan berbagai cara selama tujuannya jelas, yakni menghadirkan ajaran Islam ke ruang publik dengan cara yang bisa diterima banyak orang.

“Kontennya itu ya ajaran Islam. Dan itu tidak akan pernah habis. Tapi untuk mengajak orang kepada Islam, kadang-kadang dengan satu ayat orang bisa memeluk Islam,” ujarnya saat membuka acara Akademi Dai Digital Batch II Regional Jawa-Bali-Nusa Tenggara di Gedung BPSDM Provinsi Jawa Timur, Surabaya pada Sabtu (30/8/2025).

Saad menambahkan, tidak semua orang bisa diajak hanya lewat teks atau ayat. Tindakan sederhana pun, jika disampaikan dengan tulus, dapat menjadi bentuk dakwah yang kuat. Ia mencontohkan, menolong sesama dapat meninggalkan kesan mendalam hingga orang lain merasa tergerak untuk lebih dekat dengan Islam.

“Kadang-kadang bukan dengan ayat. Misalnya kita menolong orang, lalu dari situ orang terinspirasi. Nah, inilah dakwah,” katanya. Ia lalu mengaitkan bahwa sains dapat menjadi instrumen dalam hal-hal semacam ini.

Baca Juga  Islamic Green School: Langkah Hijau Berbasis Nilai Islam di Dunia Pendidikan

Menurutnya, dunia digital saat ini juga membuka ruang besar bagi cara-cara dakwah yang lebih kreatif. Konten yang menampilkan pengalaman sehari-hari bisa lebih membumi dan mudah dipahami ketimbang ceramah panjang yang sering kali sulit menjangkau audiens luas. Karena itu, dai Muhammadiyah perlu berani mengemas nilai keislaman dalam bentuk yang sederhana namun mengena.

Saad juga menyoroti pentingnya menghadirkan aspek keilmuan dalam dakwah digital. Ia menilai, konten keislaman akan lebih kuat jika mampu menyingkap kebesaran ciptaan Tuhan melalui pendekatan sains. Penjelasan berbasis ilmiah, menurutnya, dapat membuat orang takjub sekaligus menumbuhkan kesadaran spiritual.

“Yang mungkin harus kita buat juga adalah konten-konten Islam yang diberi sentuhan sains. Dalam sains, ada kebesaran-kebesaran ciptaan Tuhan yang mampu membuat kita takjub,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sains seharusnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang netral tanpa kaitan dengan agama. Sebaliknya, sains justru bisa menjadi jalan untuk memperkuat keyakinan keislaman. “Sains itu bisa menjadi wasilah keislaman,” ujarnya.

Ia kemudian menyinggung dominasi Barat dalam pengembangan sains modern. Menurutnya, selama ini sains di dunia internasional cenderung dilepaskan dari agama. Padahal, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan yang berakar pada nilai spiritual. Dengan begitu, produksi konten dakwah di ruang digital tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga mampu memberi inspirasi berbasis ilmu pengetahuan.

Baca Juga  dr Hud Suhargono Dilantik Jadi Direktur RSU Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan 2025-2029

Saad menekankan, ukuran keberhasilan dakwah digital bukan terletak pada jumlah konten yang dibuat atau seberapa banyak interaksi di media sosial. Yang terpenting, kata dia, adalah sejauh mana konten tersebut dapat membuat orang tertarik dan kemudian terdorong untuk memahami Islam lebih dalam. “Bagaimana kemudian orang itu tertarik, di situ kiranya yang penting,” pungkasnya.

Sebagai informasi, acara ini diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah melalui Lembaga Dakwah Komunitas (LDK). Keseluruhan acara akan berlangsung pada Sabtu–Ahad, 30–31 Agustus 2025. Kegiatan ini mengangkat tema “Dakwah Transformatif di Era Digital” dengan fokus pada penguatan kapasitas dai dalam memproduksi konten yang relevan di ruang daring.

Pembukaan dilakukan pada Sabtu pagi dengan menghadirkan Ketua PP Muhammadiyah, pimpinan PWM Jawa Timur, serta jajaran LDK. Agenda dua hari ini mencakup pemaparan materi, diskusi, hingga pelatihan teknis pembuatan konten digital. Para peserta berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, hingga Nusa Tenggara.

*) Penulis: M Habib Muzaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *