MAKLUMAT – Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Perlis Malaysia menyelenggarakan Pengajian Pekanan Majelis Ilmu Nur al-Qalbi di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Jumat (16/1/2026). Agenda ini menghadirkan Prof Sohirin Mohammad Solihin sebagai narasumber.
Solihin adalah Associate Professor di UMAM. Ia merupakan jebolan Birmingham University, Inggris yang memiliki kepakaran dalam bidang studi perbandingan agama, relasi kristen-muslim, dan masih banyak lagi. Sosok ini juga adalah salah satu murid eks Perdana Menteri Indonesia, Mohammad Natsir.
Kepada para peserta kajian, ia memaparkan pentingnya memahami Islam dan wahyu Allah bagi muslim. Memahami adalah bekal untuk dapat menjalankan ajaran-ajaran Islam. Kendati demikian, hal ini masih menjadi tantangan di banyak komunitas Islam di seluruh dunia.
“Kita bisa melihat bagaimana kondisi umat Islam saat ini. Jika dibandingkan masyarakat nonmuslim dalam menjalankan keseharian, ada yang berislam secara keyakinan dan ada pula yang berislam secara perilaku,” jelasnya.
Pengajar senior di International Islamic University Malaysia (IIUM) itu lantas mengajak kepada semua peserta untuk mampu menjalankan keduanya. “Selayaknya kita menjalankan keduanya, bukan salah satu saja,” ujarnya sembari membawakan QS Ali Imran ayat 110 tentang umat terbaik.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga nilai tauhid dalam setiap aktivitas kader Muhammadiyah, termasuk dapat memberikan kebermanfaatan dalam dunia akademik dengan inovasi berdampak. Solihin lalu menantang para sivitas akademika UMAM agar mampu meneruskan jihad ilmiah para cendekiawan muslim, mulai dari Imam asy-Syafi’i, Ibnu Batutah, Muhammad Rasyid Ridha, dan masih banyak lagi.
Sebagai informasi, ini adalah kajian perdana yang digelar PRIM Perlis pada Januari 2026 ini. Agenda yang rutin diselenggarakan PRIM Perlis ini dihadiri oleh puluhan peserta, baik dari kader Muhammadiyah Perlis maupun sivitas akademika UMAM.
Salah seorang peserta kajian, HMI el Hakim menyampaikan apresiasi dan antusiasme atas agenda ini. Mahasiswa S3 Studi Islam di UMAM yang juga Kader Pemuda Muhammadiyah ini menegaskan bahwa majelis semacam ini harus terus dirawat.
“Majelis mulia ini perlu dirawat sebagai bentuk konkret menjaga ideologisasi Muhammadiyah yang berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah terlebih dalam kerja internasionalisasi gerakan Islam berkemajuan,” tandasnya.













