MAKLUMAT — Kepala SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo M Zainul Arifin SKom MM mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari lawatannya bersama rombongan Muhammadiyah Jawa Timur ke Tiongkok pada 13-19 April 2026 lalu.
Ia pun menegaskan bakal mengimplementasi beberapa pengalaman positif dari negeri Tirai Bambu itu di Smamda Sidoarjo. Mulai dari kedisiplinan, pemanfaatan teknologi, hingga keterbukaan data dan informasi.
“Salah satu yang bisa segera diimplementasikan di sekolah itu adalah bagaimana sistem pengelolaan data yang disajikan secara akurat dan cepat, dalam bentuk grafis, dan bisa diketahui tamu maupun orang yang membutuhkan,” ucapnya kepada Maklumat.id, Selasa (21/4/2026).
Misalnya, kata dia, data-data terkait pengembangan sekolah, persentase kehadiran guru dan karyawan, dan sebagainya.
“Insya Allah kita akan implementasikan data itu, ada rencana nanti di depan ruang pimpinan itu disajikan TV begitu, berapa untuk bisa diketahui data-datanya. Modelnya grafis. Misalnya guru ini berapa, yang aktif berapa, karyawan berapa. Misalnya ortom dan ekstrakurikuler, semua data yang bisa dibaca dan bisa dianalisis, termasuk SPMB. Data apa pun yang sifatnya terbuka,” terangnya.
“Insya Allah segera ditindaklanjuti dan saya sudah menyampaikan yang terkait dengan itu Waka Sarpras dan waka yang lain, termasuk dari tim IT,” sambung Zainul.
Atur Pemanfaatan Teknologi
Selain itu, ia juga menyoroti soal aturan penggunaan gawai (gadget) dalam pembelajaran di Smamda Sidoarjo. Belajar dari kunjungannya ke sekolah-sekolah di Tiongkok tersebut, Zainul mengaku bakal menyediakan lemari khusus untuk tempat mengumpulkan gawai para murid ketika pembelajaran berlangsung.
“Kami melihat di Guangzhou kemarin itu, di SMA itu, pembelajaran sangat khusus dan serius karena tidak ada menggunakan HP. Jadi nanti insya Allah yang diimplementasikan di Smamda itu HP akan dikumpulkan selama pembelajaran. Di lemari yang sudah disediakan di setiap kelas,” jelasnya.
Dengan begitu, lanjut Zainul, pembelajaran bisa lebih fokus dan peran guru menjadi lebih sentral. Tidak terpengaruh dengan media yang lain.
Tak cuma itu, Zainul menceritakan pengalamannya selama mengunjungi beberapa sekolah di Tiongkok, bahwa pemanfaatan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI) di lingkungan sekolah meski cukup tinggi, namun dikontrol ketat oleh guru.
“Di sana kemajuan teknologi sangat tinggi dan hampir semua berdasarkan AI, tapi sesungguhnya AI itu hanya boleh digunakan oleh guru. Tidak boleh digunakan oleh siswa sembarangan, siswa cuma boleh saat-saat dibutuhkan. Jadi yang punya akses setiap saat itu hanya guru-guru,” ceritanya.
“Guru itu menggunakan AI untuk media pembelajaran, bagaimana menyampaikan kepada siswa. Tapi siswa itu mengikuti itu. Kalau murid dibebaskan menggunakan AI kan akhirnya anak-anak jadinya instan,” lanjut Zainul.
Tekankan Budaya Disiplin
Lebih jauh, Zainul juga menyoroti soal budaya kedisplinan di Tiongkok yang menurutnya sangat tertib dan disiplin. Ia menegaskan bakal memperketat kedisiplinan di lingkungan Smamda Sidoarjo, baik bagi para murid, guru, maupun karyawan.
“Selama sehari di sana itu kami mengamati. (Kedisiplinan) itu yang harus diterapkan di Smamda. Bagaimana membentuk anak-anak disiplin tingkat tinggi dalam proses mengikuti pembelajaran. Tapi tidak saja anak, tapi gurunya juga. Karena guru sebagai teladannya,” tegasnya.
Ke depan, ia berharap dapat menjalin kolaborasi dan sinergi strategis dengan lembaga-lembaga Tiongkok. Ia juga menyebut kemungkinan untuk melakukan kunjungan lanjutan, terlebih bahwa Smamda Sidoarjo juga memiliki program kelas internasional.












