MAKLUMAT – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana sore di sudut-sudut kampung Kabupaten Banyuwangi mulai berubah. Jalanan yang biasanya lengang perlahan dipenuhi lapak sederhana, aroma gorengan hangat, kolak manis, dan aneka minuman segar. Di saat itulah pasar takjil Ramadan tumbuh.
Pasar takjil bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang perjumpaan, harapan, dan perputaran rezeki warga. Di Kabupaten Banyuwangi, tradisi itu tak dibiarkan tumbuh tanpa arah.
Bupati Ipuk Fiestiandani meminta seluruh jajaran dinas, kecamatan, hingga pemerintah desa ikut turun tangan menyiapkan dan menata pasar takjil Ramadan 1447 Hijriah/2026 sejak awal.
Baginya, pasar takjil bukan hanya rutinitas musiman. Ia adalah panggung ekonomi rakyat kecil.
“Saya minta dinas terkait dan para camat membantu memfasilitasi pasar takjil. Atur dengan baik supaya tertib, aman, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli,” ujar Ipuk dalam siaran pers Selasa (17/2/2026).
Di sejumlah titik kota, denyut pasar takjil Ramadan sudah bisa ditebak tiap tahun. Kawasan Pantai Marina Boom dan sepanjang Jalan Letjen Sutoyo menjadi magnet keramaian menjelang waktu berbuka. Lapak-lapak berdiri rapat, pembeli mengalir, dan transaksi kecil terjadi ratusan kali dalam satu senja.
Namun geliat ekonomi itu, menurut Ipuk, harus berjalan beriringan dengan ketertiban dan perlindungan konsumen.
Ia secara khusus meminta Dinas Kesehatan bersama puskesmas aktif mendampingi para pedagang. Bukan sekadar memeriksa, tetapi juga mengedukasi.
Petugas diminta rutin turun ke lapangan, mengecek bahan, proses pengolahan, hingga cara penyajian. Laboratorium Kesehatan Daerah juga dilibatkan untuk pemeriksaan berkala, memastikan makanan dan minuman yang dijajakan tetap aman dikonsumsi.
“Datangi pedagangnya, beri arahan cara pengolahan yang bersih dan aman. Pastikan higienitasnya terjaga, supaya masyarakat tenang saat membeli takjil,” katanya.
Di balik tenda-tenda sederhana itu, ada cerita dapur yang menyala lebih lama dari biasanya. Banyak pelaku UMKM menggantungkan tambahan penghasilan dari momen Ramadan. Sebagian memulai usaha dadakan, sebagian lain menunggu bulan puasa sebagai musim panen kecil mereka.
Pemerintah daerah pun mendorong agar desa dan kelurahan dapat menggelar pasar takjil sesuai karakter wilayah masing-masing. Kreativitas dibuka lebar, namun tetap dalam koridor koordinasi.
Pesannya sederhana: ramai boleh, semrawut jangan. Laris penting, tapi tetap tertib.
“Silakan berkreasi, tapi tetap koordinasi agar tidak mengganggu lalu lintas dan tetap menjaga ketertiban umum,” tegasnya.
Ramadan pun datang bukan hanya membawa nuansa ibadah, tetapi juga denyut ekonomi—dari meja-meja kecil di tepi jalan, untuk banyak keluarga yang menggantungkan harapan di setiap bungkusan takjil.














