MAKLUMAT — Pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia, Paus Leo XIV, mengecam keras eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia mendesak semua pihak segera menghentikan spiral kekerasan yang berpotensi menyeret dunia ke jurang tragedi kemanusiaan lebih besar.
Dalam doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus menegaskan stabilitas global tidak akan pernah lahir dari ancaman militer maupun unjuk kekuatan senjata.
“Perdamaian tidak dibangun melalui ancaman timbal balik atau senjata yang menabur kehancuran. Perdamaian hanya dapat dicapai melalui dialog yang masuk akal, tulus, dan bertanggung jawab,” tegasnya, Senin (2/3/2026).
Seruan moral tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah pasca serangan awal Israel dan AS yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Paus Leo XIV tidak sekadar menyampaikan keprihatinan, tetapi juga mengingatkan adanya tanggung jawab moral kolektif komunitas internasional. Seruannya menjadi suara moral penting di tengah narasi militeristik yang mendominasi ruang publik global. Ia menolak logika “keseimbangan ancaman” sebagai fondasi stabilitas.
Pernyataan Paus Leo XIV memiliki bobot simbolik dan politis yang kuat. Dengan 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia, posisi Vatikan bukan sekadar moral, melainkan juga diplomatik.
Konflik AS–Israel vs Iran berpotensi melebar menjadi perang regional terbuka. Negara-negara Teluk berada dalam posisi rawan, sementara pasar energi global mulai merespons dengan volatilitas tinggi.
Ada tiga risiko besar yang kini membayangi:
1.Perang Proksi Meluas – Milisi-milisi sekutu Iran di kawasan bisa membuka front baru.
2.Gangguan Jalur Energi Global – Selat Hormuz menjadi titik paling krusial.
3.Fragmentasi Diplomasi Global – Dunia terbelah antara blok Barat dan poros anti-Barat.
Seruan Paus menempatkan narasi moral sebagai penyeimbang di tengah dominasi kalkulasi militer. Namun efektivitasnya bergantung pada respons para pemimpin politik.
Sementara itu, situasi di lapangan terus memanas. Operasi balasan rudal Iran yang menargetkan instalasi militer AS di kawasan Timur Tengah dilaporkan menewaskan tiga personel militer Amerika.
Komando Sentral AS atau United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi korban jiwa tersebut. Selain itu, sedikitnya lima tentara mengalami luka parah dan sejumlah lainnya mengalami cedera ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak.
Rangkaian saling serang ini dipicu operasi militer gabungan Israel-AS pada 28 Februari 2026 yang menargetkan sejumlah titik strategis di Iran. Serangan tersebut memicu reaksi keras Teheran sekaligus mengubah lanskap geopolitik kawasan secara drastis.***












