MAKLUMAT — Musim panas yang menyebabkan suhu udara nyaris menyentuh 35 derajat, tidak menyurutkan semangat para kader di Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Iran untuk memperkenalkan Persyarikatan Muhammadiyah melampaui batas-batas geografis.
Sejumlah kader PCIM Iran berkunjung ke kantor Ahl al-Bayt World Assembly (ABWA) di bilangan Laleh Park, Teheran, di antaranya Agiel Laksamana Putra, Hisam Sidqi, Laini Misra, Muhammad Taqi Askari, serta Arafah Pramasto, pada Senin (24/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, rombongan PCIM Iran melakukan audiensi dengan Seyyed Hassan Fatemi yang menjabat sebagai manajer utama untuk negara Asia Pasifik, serta Hosein Mahdavi yang merupakan manajer untuk urusan negara-negara di Asia Timur.
ABWA sendiri merupakan organisasi non-pemerintah (NGO) yang berdiri sejak 1990 dan bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam yang berdasarkan Al-Quran dan keteladanan para ahlul bayt (keluarga) Nabi. ABWA juga menegaskan dukungan dan dorongan untuk memperkuat persatuan Islam di seluruh dunia, termasuk dengan mendirikan majelis serta pusat dakwah di sekitar 90 negara.
Seyyed Hassan Fatemi mengapresiasi sikap dan komitmen Muhammadiyah dalam dukungannya terhadap perjuangan Palestina, usai Agiel dan Laini menjelaskan berbagai program dan bantuan Muhammadiyah melalui Lazismu untuk rakyat Gaza.
Sementara itu, diskusi turut membahas sejumlah hal, termasuk mengenai kondisi di Indonesia di mana penghormatan kepada keluarga nabi juga termanifestasi dalam kultur masyarakat, seperti peringatan Tabot di Bengkulu, Tabuik di Pariaman, maupun pembuatan Tajjhin Sora alias bubur khas bulan Muharam di Madura.
PCIM Iran menegaskan bahwa kecintaan kepada ahlul bayt merupakan keniscayaan yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat identitas mazhab tertentu, termasuk rakyat Indonesia yang mayoritas Sunni, juga sangat menghormati dan mencintai keluarga Nabi.
Dalam kesempatan itu, Hosein Mahdavi dari ABWA juga menandadkan bahwa kecintaan kepada ahlul bayt bukan secara “eksklusif” menjadi milik kaum Syiah. “Muhibbin” atau “pecinta”, kata dia, adalah panggilan penghormatan kepada siapa pun yang mencintai serta mengambil keteladanan dari keluarga Nabi.
Mahdavi menegaskan, ABWA tidak membatasi kolaborasi, bukan hanya dengan penganut Sunni, juga bersama umat Kristiani maupun agama-agama lain. Banyak kegiatan sosial ABWA, menurutnya, bersinergi dengan lintasagama.
“Dalam sebuah kegiatan sosial di bidang kesehatan, ABWA (bahkan juga) pernah dibantu sukarelawan para dokter beragama Buddha dari Thailand yang mengaku mengagumi Sayyidina Ali RA,” selorohnya.
Jajaki Peluang Kerja Sama
Pertemuan tersebut juga membahas potensi kerja sama antara kedua belah pihak, dengan mempertimbangkan kondisi prospek maupun kondisi eksisting dari masing-masing organisasi/lembaga.
ABWA adalah organisasi yang membawahi Ahlul Bayt International University di Teheran, kampus yang juga menjadi tempat sejumlah kader PCIM Iran menempuh studi, seperti Agiel, Hisam, Laini, dan Arafah. Selain itu, organisasi tersebut turut membawahi berbagai platform media.
Kerja sama dengan Muhammadiyah, dinilai memiliki prospek yang baik, mengingat Persyarikatan yang telah berdiri sejak tahun 1912 itu memiliki puluhan juta pengikut serta mengelola ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan sosial, yang tersebar di hmpir seluruh penjuru Indonesia, bahkan beberapa di luar negeri.
Peluang kerja sama di bidang pendidikan salah satunya dengan program pertukaran mahasiswa, baik mahasiswa Indonesia untuk belajar ke Iran maupun sebaliknya. Selain itu di bidang riset, kedua organisasi memiliki corak keislaman yang khas, maka penelitian di bidang kemasyarakatan juga dapat digalakkan.
Tak cuma itu, transfer pengetahuan antara kedua negara melalui kegiatan seminar ilmiah juga merupakan potensi yang bagus untuk direalisasikan, baik dilakukan secara luring maupun daring.
Sementara itu, pada bidang pariwisata keislaman, Iran yang dikenal sebagai “pewaris” Persia merupakan salah satu pusat peradaban Islam masa lalu, yang menawarkan banyak hal untuk bisa dieksplorasi. Pengembangan ‘ulum Al-Quran juga dapat diselenggarakan melalui kolaborasi kedua belah pihak.
Sebab itu, penjajakan melalui pertemuan tersebut perlu ditindaklanjuti secara serius melalui diskusi, koordinasi, maupun relasi berkelanjutan antara ABWA dan Muhammadiyah, khususnya melalui PCIM Iran untuk bisa merealisasikan ikhtiar baik dan wacana program kerja sama tersebut.
“Kami sangat senang dapat mengenal organisasi dari Indonesia yang berporos (mengambil inspirasi utama) pada sosok Nabi Muhammad Saw (seperti Muhammadiyah),” ujar Hosein Mahdavi.
Memungkasi pertemuan tersebut, PCIM Iran menyerahkan dokumen buku Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang menjadi landasan ideologis dan gerakan Muhammadiyah kepada kedua tokoh ABWA itu. Buku RIB yang diserahkan merupakan dokumen yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Farsi (Persia).***














