Pemberdayaan Masyarakat di NTT, Dosen Umsida Bina Warga Olah Sampah Organik

Tim Abdimas Umsida melakukan edukasi terkait pengelolaan sampah menggunakan Eco Enzyme sebagai langkah pemberdayaan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Tim pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melakukan edukasi terkait pengelolaan sampah menggunakan Eco Enzyme sebagai langkah pemberdayaan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Abdimas yang dilaksanakan pada Jumat (17/4/2026) di Aula Rumah Dinas Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTT tersebut, dipimpin oleh dosen Agroteknologi Umsida, Intan Rohma Nurmalasari SP MP, serta Nurfi Laili MPsi Psikolog dan Prof Dr Ir Andriani Eko Prihatiningrum MS sebagai anggota tim..

Program ini diikuti oleh perempuan penggerak yang tergabung dalam Dharma Wanita BPKP sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ada pula karyawati BPKP, DWP BPKP NTT, cleaning service, perwakilan keluarga, pelaku UMKM lokal, kader lingkungan desa/ kelurahan, dan aparat desa/ kecamatan sebagai mitra.

Volume Sampah Organik Tinggi

Daerah NTT ia pilih karena masih banyak ditemukan penumpukan sampah organik, keterbatasan fasilitas pengelolaan limbah, dan tingginya potensi bahan baku organik dari rumah tangga dan pasar.

Selain itu, Intan melihat adanya komitmen warga lokal untuk mendukung kegiatan pemberdayaan perempuan. Kaprodi Agroteknologi Umsida itu memaparkan bahwa Abdimas ini memadukan dua peran yakni peran sosial dan ekonomi.

Baca Juga  Wacana “War Tiket Haji” Dinilai Picu Ketimpangan, Dosen Umsida Soroti Aspek Keadilan

“Keduanya kami wujudkan dalam bentuk edukasi pengelolaan sampah dan produksi UMKM menggunakan eco enzyme sehingga tak hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga,” jelasnya.

Menurutnya, melalui pemberdayaan perempuan melalui edukasi pengelolaan sampah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru.

Dalam paparannya, Intan menjelaskan terlebih lebih detail terkait eco enzyme kepada peserta. “Melihat limbah organik yang banyak di sini, bisa bermanfaat jika diolah seperti proses fermentasi yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk seperti pembersih, pupuk, hingga pestisida alami,” tuturnya.

Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi

Berbeda dengan program pengolahan sampah pada umumnya, Abdimas ini berfokus pada pemanfaatan eco enzyme sebagai produk multifungsi sekaligus bahan baku usaha.

Pendekatan yang digunakan juga tidak hanya sebatas edukasi, tetapi dilengkapi dengan pelatihan kewirausahaan agar peserta mampu mengembangkan produk secara mandiri.

Menurut Intan, eco enzyme menjadi solusi yang tepat lantaran mudah di terapkan di lingkungan rumah tangga, tentunya dengan biaya yang rendah dan ramah lingkungan. “Konsep ini juga mendukung ekonomi sirkular, sampah diolah kembali menjadi produk bernilai guna,” tandasnya.

Dalam praktiknya, para peserta diajak memahami proses pembuatan eco enzyme hingga pengembangan produk turunan, seperti sabun dan deterjen.

Baca Juga  6 Mahasiswa UMM Berhasil Lulus Tanpa Skripsi: Kembangkan Proyek Inovasi Sampah

Rencana Pengembangan Eco Enzyme

Kegiatan ini mendapat respon positif dari para peserta. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam memahami proses pembuatan Eco Enzyme serta manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian peserta bahkan mulai tertarik untuk mengembangkan produksi dalam skala kecil sebagai tambahan penghasilan keluarga. “Peserta cepat memahami dan tertarik mencoba karena manfaatnya langsung terasa, seperti mengurangi bau sampah dan menghemat biaya kebutuhan rumah tangga,” ungkap Intan.

Ke depan, ia merencanakan tindak lanjut berupa pembentukan kelompok produksi berbasis UMKM, pendampingan teknis, serta pelatihan pemasaran digital.

Selain itu, akan dilakukan monitoring berkala bersama mitra lokal untuk memastikan keberlanjutan program serta membuka peluang replikasi ke wilayah lain.