MAKLUMAT — Pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Ahad (1/3/2026), dalam serangan militer gabungan Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) ke kediamannya pada Sabtu (28/2/2026).
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei turut tewas dalam serangan tersebut. Kabar itu memicu gelombang duka dan kemarahan di dalam negeri, sekaligus mempercepat eskalasi militer Teheran terhadap Israel dan sekutunya.
Ayatollah Khamenei merupakan pemimpin tertinggi Iran, yang telah memimpin selama 37 tahun, sejak wafatnya sosok yang menggelorakan Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989.
Usai kematian sang pemimpin tertinggi, Pemerintah Iran mengumumkan “40 hari masa berkabung nasional dan 7 hari libur nasional.”
Duka dan Berkabung di Irak
Di Irak, pemimpin Syiah berpengaruh, Muqtada al-Sadr, menyatakan “kesedihan dan duka citanya” atas kematian Khamenei dalam sebuah pernyataan di platform X.
Ia juga mengumumkan tiga hari berkabung nasional di Irak sebagai bentuk solidaritas.
Serangan Balasan Iran
Sebelumnya, Angkatan Bersenjata Iran telah menanggapi agresi AS-Israel dengan melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke wilayah yang diduduki Israel dan pangkalan Amerika Serikat yang tersebar di sejumlah negara di kawasan teluk, seperti di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Suriah, dan Irak. Sejumlah negara tersebut langsung menutup wilayah udaranya.
Di Israel, sirene peringatan berbunyi dan sistem pertahanan udara diaktifkan untuk mencegat rudal-rudal yang datang. Sementara itu, sejumlah pangkalan militer AS di kawasan dilaporkan menjadi target serangan Iran.
Media pemerintah Iran sebelumnya menyebut serangan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan telah menewaskan sedikitnya 108 orang. Secara keseluruhan, sedikitnya 201 orang dilaporkan tewas di 24 provinsi akibat rangkaian serangan yang berlangsung sehari terakhir.
Trump: Pemboman Berlanjut
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa serangan dan pemboman akan berlanjut “tanpa gangguan sepanjang minggu atau, selama diperlukan” untuk mencapai tujuannya.
Meski banyak analis menilai dua kali serangan AS terhadap Iran di tengah negosiasi program nuklir telah merusak kredibilitas diplomasi Washington, Trump justru mengklaim posisi negaranya kini lebih kuat.
Berbicara kepada CBS News, ia mengatakan diplomasi “jauh lebih mudah” setelah serangan tersebut.
“Jauh lebih mudah sekarang daripada sehari yang lalu, jelas,” kata Trump, seraya menambahkan “karena mereka sedang dihajar habis-habisan”.
Trump juga menyebut respons Iran sejauh ini berada di bawah perkiraan Washington. “Kami pikir akan dua kali lipat,” kelakarnya.














