Pemuda Muhammadiyah Wonosari Diskusikan Film Pesta Babi di Bondowoso, Soroti PSN dalam Isu Papua

pesta babi

MAKLUMAT — Pimpinan Cabang (PC) Pemuda Muhammadiyah Wonosari menggelar kegiatan bertajuk Ngopi Berkemajuan dan Nonton Film Pesta Babi. Kegiatan ini berlangsung di SD Aisyiyah Cindogo (SDAC), Kabupaten Bondowoso pada Sabtu malam (23/5/2026).

Ketua PC Pemuda Muhammadiyah Wonosari, Bayu Putra Dirgantara mengatakan bahwa forum ini menjadi ruang bersama untuk mendiskusikan terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) dan konflik agraria di Papua.

“Kegiatan ini menjadi agenda pertama semenjak struktur PC Pemuda Muhammadiyah Wonosari terbentuk pasca Musyawarah Cabang (Muscab) yang diselenggarakan pada Ahad, 10 Mei 2026 silam,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran sosial, politik, dan literasi kader muda Muhammadiyah. Selain itu, juga sebagai ruang dialektika dalam merespons isu-isu publik yang berkembang.

‎”Dengan adanya kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang literasi dan refleksi bagi kader muda agar lebih peka terhadap persoalan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia, meskipun judul dari film ini terkesan kontroversi bagi sejumlah pihak,” paparnya.

Setelah menonton film ini, Bayu lalu memberikan komentarnya. Ia berpendapat bahwa permasalahan yang terjadi di Papua disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap aturan atau regulasi terkait agraria dan lingkungan hidup.

Baca Juga  PDIP Bondowoso Klaim Raih Dukungan Muhammadiyah untuk Menangkan Pilkada 2024

Menurutnya, hal ini berawal dari PSN yang kemudian berdampak pada hak hidup masyarakat adat yang sebagian besar masih menggantungkan hidup dari berburu dan meramu. PSN dinilai turut mengancam kelestarian lingkungan sebagai sumber penghidupan masyarakat.

“Dalam film Pesta Babi, ditampilkan potret deforestasi untuk menunjang PSN yang dijalankan Pemerintah Indonesia serta konflik agraria yang menimpa masyarakat adat Papua. Film ini menjadi pemantik diskusi bagi kami,” jelasnya.

Ia lalu memaparkan bahwa di dalam Persyarikatan, terdapat Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang memuat teologi lingkungan dan fikih agraria yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Bayu berpesan agar setelah menyaksikan film dan mengikuti diskusi, para kader dapat menautkan hasil refleksi tersebut dengan PHIWM sebagai dasar dalam menyikapi potensi masalah sosial dan lingkungan yang muncul.

Isu Papua Merupakan Tanggung Jawab Bersama

‎Pada diskusi setelah pemutaran film, Bayu mengatakan bahwa para peserta menyoroti banyak isu krusial. Mulai dari deforestasi skala besar yang menyebabkan krisis ekologis serta ketidakberpihakan terhadap masyarakat adat, hingga pentingnya keadilan dalam persoalan ekologis dan agraria di Papua.

‎“Deforestasi serta perampasan tanah adat dan mengesampingkan peran masyarakat lokal dalam PSN menjadi masalah yang harus mendapat perhatian bersama,” imbuhnya.

Baca Juga  Tokoh Lintas Agama Serukan Penolakan Atas PSN yang Merusak Lingkungan dan Merampas Ruang Hidup

Sejumlah peserta juga menilai bahwa persoalan yang dibahas dalam film Pesta Babi ini memiliki dimensi yang lebih luas dan kompleks. Karena itu, diperlukan cara pandang yang lebih menyeluruh dalam membaca dan meresponsnya.

‎‎Di akhir diskusi, seluruh peserta lalu bersepakat bahwa isu Papua bukan semata persoalan daerah saja, melainkan sudah menjadi persoalan global yang menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pemuda Muhammadiyah Wonosari mendorong agar semua pihak untuk ikut mengawal keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Meski pelaksanaan kegiatan sempat mundur karena hujan deras, agenda ini akhirnya dapat dimulai pukul 19.00 WIB dan ditutup pada pukul 22.00 WIB, sebelum dilanjutkan dengan sesi ngopi dan obrolan ringan.

Kegiatan ini dihadiri puluhan kader dari organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah tingkat cabang, para aktivis dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Wonosari dan sejumlah pihak lainnya, termasuk pengawalan dari Kodim 0822 Bondowoso.