Pendidikan Digital Jadi Senjata Pemerintah Kejar Ketertinggalan Kualitas Pendidikan Nasional

Pendidikan Digital Jadi Senjata Pemerintah Kejar Ketertinggalan Kualitas Pendidikan Nasional

MAKLUMAT – Pemerintah tancap gas mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan nasional. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pendidikan digital menjadi strategi utama mempercepat peningkatan mutu SDM Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Penegasan itu disampaikan Fajar saat memberikan kuliah umum di Fakultas Pendidikan, Komunikasi dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Ia mengakui, kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama kesenjangan akses dan mutu antarwilayah.

“Kalau kita tidak berani melakukan lompatan melalui pendidikan digital, ketertinggalan kualitas pendidikan akan semakin lebar,” kata Fajar.

Menurutnya, pemerintah saat ini fokus mengejar ketertinggalan dengan memastikan seluruh sekolah. Terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), mendapat akses teknologi pembelajaran yang setara. Salah satu langkah konkret adalah penyediaan perangkat pembelajaran digital seperti interactive flat panel (IFP) di sejumlah sekolah.

Agenda dan Skema Percepatan

Untuk mengejar kualitas pendidikan secara menyeluruh, pemerintah menjalankan tiga agenda besar secara paralel. Pertama, percepatan perbaikan infrastruktur fisik dan digital sekolah. Hingga 2025, puluhan ribu sekolah rusak mulai diperbaiki, sementara penguatan infrastruktur digital terus diperluas pada 2026.

Kedua, peningkatan kualitas guru. Fajar mengakui hasil tes akademik siswa masih menunjukkan lemahnya literasi dan sains. Kondisi ini, kata dia, tidak bisa lepas dari kualitas guru yang belum merata.

Baca Juga  Reposisi Pendidikan, Rute Strategis Kebangkitan Nasional

“Masih banyak guru belum tersertifikasi dan belum memenuhi kualifikasi akademik. Ini harus kita kejar,” tegasnya.

Pemerintah pun menyiapkan berbagai skema percepatan, mulai dari beasiswa rekognisi pembelajaran lampau (RPL) bagi guru yang belum S1 hingga kelanjutan ke Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Ketiga, penguatan kepemimpinan kepala sekolah. Menurut Fajar, sekolah yang berkualitas hampir selalu ditopang oleh kepemimpinan yang kuat dan visioner.

Dorong Anak Kreatif Berpikir

Di sisi metode pembelajaran, Fajar menilai sistem lama yang menekankan hafalan sudah tidak relevan. Pendidikan digital, harus berbarengan dengan pendekatan deep learning yang mendorong pemahaman, berpikir kritis, dan rasa ingin tahu siswa.

“Kita terlalu lama mengajarkan ‘apa’, bukan ‘mengapa’. Padahal pendidikan digital seharusnya mendorong anak berpikir dan menemukan sendiri,” ujarnya.

Meski begitu, Fajar menekankan teknologi tidak boleh menggantikan peran guru. Guru tetap menjadi aktor utama, sementara teknologi sebagai alat bantu untuk memperkaya proses belajar.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dapat mempercepat transformasi pendidikan yang berkeadilan. Dengan demikian, ketertinggalan kualitas pendidikan Indonesia bisa melewati ketertinggalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *