Pengamat Umsida Soal Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Isi Kontennya Sudah Diskenario

Komika Pandji Pragiwaksono saat pertunjukan stand up comedy bertajuk Mens Rea. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Pengamat media dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Nur Maghfirah Aesthetika, menilai viralnya beberapa potongan video pertunjukan stand up comedy bertajuk Mens Rea yang dibawakan komika senior Pandji Pragiwaksono, tidak bisa dilepaskan dari karakter pertunjukan komedia tunggal itu sendiri.

Seperti diketahui, beberapa potongan video pertunjukan Mens Rea yang dibawakan Pandji belakangan viral di media sosial dan memicu polemik, hingga Pandji juga dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghasutan di muka umum dan peninstaan agama.

Pertunjukan yang Sudah Diskenario

Pengamat media yang juga Kaprodi S2 Ilmu Komunikasi Umsida, Nur Maghfirah Aesthetika.
Pengamat media yang juga Kaprodi S2 Ilmu Komunikasi Umsida, Nur Maghfirah Aesthetika.

Menurut Fira, panggilan akrab Nur Maghfirah Aesthetika, Mens Rea merupakan sebuah pertunjukan yang telah dan memang disusun secara matang. “Kan Pandji itu memang membuat sebuah show. Dia sudah memiliki skenario yang sudah dibuat dengan alur di berbagai topik,” ujarnya dalam keterangan kepada Maklumat.id, Kamis (15/1/2026).

Di dalam alur tersebut, lanjutnya, terdapat banyak subtopik yang rawan disalahgunakan ketika dipotong-potong dan disebarkan secara terpisah di media sosial. Karena itu, publik perlu berhati-hati dalam menyikapi potongan video yang beredar tanpa memahami konteks utuh pertunjukan.

Baca Juga  IMEI, Tim Mobil Listrik Umsida yang Sukses Juara 1Shell Eco-Marathon 2026 di Qatar

Fira menilai, pertunjukan Mens Rea bukanlah pernyataan spontan tanpa perencanaan. Dalam dunia pertunjukan, setiap materi yang disampaikan di atas panggung telah melalui proses kurasi dan penyusunan alur cerita.

“Kalau kita bicara soal show, itu pasti direncanakan. Ada alurnya, ada skenarionya. Jadi apa yang disampaikan di panggung belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” jelasnya.

Ia menilai, banyak potongan yang viral justru tidak mewakili keseluruhan cerita. Cuplikan berdurasi singkat, menurutnya, tidak cukup untuk memahami konteks mengapa sebuah materi disampaikan. “Ketika dipotong-potong, kita tidak tahu konteksnya apa. Padahal dari awal sampai akhir itu satu rangkaian cerita,” ujarnya.

Dalam stand up comedy, Fira menyebut bahwa roasting merupakan strategi yang lazim digunakan. Selain itu, tema politik dan isu sensitif juga cukup sering dipilih karena mudah memancing reaksi audiens.

Ia berpendapat, kekuatan Pandji terletak pada kemampuan public speaking dan penguasaan panggung, sehingga materi yang dibawakan mampu menggiring emosi penonton dan membentuk beragam komentar.

Potongan Video Rentan Disalahartikan

Lebih jauh, Fira menyorot bahwa konten Mens Rea yang tersebar dalam bentuk potongan pendek berpotensi membentuk opini publik yang liar. Media sosial berbasis audio visual membuat pesan mudah diterima, namun juga rentan disalahartikan.

Baca Juga  Raih Berbagai Capaian, Umsida Jadi Salah Satu Jujukan Kampus Swasta Terbaik di Jatim

“Opini itu bebas. Tapi ketika opini dibangun dari potongan yang tidak utuh, maka arah pemahamannya juga bisa keliru,” sorotnya.

Ia menilai konten seperti Mens Rea dapat membentuk opini publik, terutama bagi pengguna media sosial yang sejak awal sudah memiliki kecenderungan tertentu terhadap isu atau tokoh yang dibahas.

“Kalau dari awal sudah tidak suka, lalu melihat konten yang menguatkan, maka orang itu akan semakin yakin,” kelakarnya.

“Tapi bagi orang yang memahami cara kerja media, tidak akan mudah terbawa arus konten,” sambung alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Dalam konteks tersebut, Fira menegaskan bahwa stand up comedy kerap menjadi “jalan aman” untuk menyampaikan kritik karena berlindung pada label hiburan dan opini pribadi. Penggunaan frasa seperti “menurut keyakinan saya”, yang sering diucap Pandji saat show, dinilainya sebagai bentuk pengamanan agar materi sulit disentuh secara hukum.

Logika Bisnis Konten dan Pesan Penting

Tak cuma itu, selain sebagai ekspresi seni, perempuan yang menjabat Kaprodi S2 Magister Ilmu Komunikasi Umsida itu melihat Mens Rea tidak bisa dilepaskan dari logika bisnis konten. Isu yang sedang panas di masyarakat kerap dimanfaatkan untuk menarik perhatian dan keuntungan.

Baca Juga  Kisah Haru Ilma, Wisudawan Umsida yang Mampu Bangkit dari Duka Mendalam

“Konten yang ramai pasti menghasilkan cuan. Tiket mahal tetap laku, media sosial ramai, dan efeknya berlipat,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa konten pertunjukan tidak selalu dapat dijadikan dasar pelaporan hukum karena bersifat skenario dan opini, berbeda dengan pernyataan langsung dalam konteks wawancara atau percakapan tanpa naskah.

Menghadapi derasnya arus informasi, termasuk dalam bentuk video di media sosial, Fira menekankan pentingnya menjadi netizen yang cerdas. Ia mendorong masyarakat untuk melakukan cross-check dan tidak menelan informasi mentah-mentah.

“Kalau lihat potongan, cari versi panjangnya. Bandingkan dari berbagai sumber. Jangan langsung percaya hanya karena kontennya viral,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa teknik editing, musik, hingga efek visual dapat mengubah makna sebuah pesan. “Tidak semua yang kita lihat di layar itu kebenaran. Itu yang harus disadari pengguna media sosial hari ini,” pungkas Fira.