Pengurus JALAMU MPM PWM Jatim Dibentuk, Perkuat Peran Muhammadiyah dalam Pemberdayaan Nelayan

Pembentukan struktur kepengurusan JALAMU MPM PWM Jatim, Sabtu (18/4/2026). (Foto: Dok.)

MAKLUMAT — Sulton Hanafi yang merupakan representasi Jamaah Nelayan Muhammadiyah (JALAMU) Lamongan resmi terpilih dan disepakati sebagai Ketua JALAMU di tingkat Jawa Timur.

Kepengurusan JALAMU tersebut dibentuk secara resmi oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Jawa Timur, dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 2 Kantor PWM Jawa Timur, Kota Surabaya, pada Sabtu (18/4/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan PWM Jawa Timur, perwakilan MPM PDM se-Jawa Timur, tokoh masyarakat pesisir, serta para calon pengurus JALAMU dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Ketua MPM PWM Jawa Timur, Lutfi J Kurniawan, menyebut bahwa pembentukan struktur kelembagaan JALAMU merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat pesisir, khususnya para nelayan.

Lutfi berharap agar JALAMU dapat menjadi wadah bagi para nelayan Muhammadiyah untuk meningkatkan kapasitas ekonomi, sosial, dan spiritual, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan mereka secara berkelanjutan.

Sementara itu, Sekretaris MPM PWM Jawa Timur Abdus Salam menekankan pentingnya penguatan kelembagaan nelayan berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan sebagai bagian dari dakwah sosial Muhammadiyah.

Melalui pembentukan pengurus tersebut, JALAMU diharapkan mampu menjadi wadah koordinasi dan konsolidasi nelayan Muhammadiyah di Jawa Timur. Ia juga berharap agar JALAMU mampu mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan melalui program pemberdayaan.

Baca Juga  Kado Milad ke-113 Muhammadiyah, PWM Jatim Kini Punya Balai Diklat di Prigen

Tak cuma itu, Abdus Salam juga berharap agar JALAMU dapat mendorong dan mengembangkan jejaring ekonomi berbasis komunitas pesisir, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat nelayan.

Selain pembentukan struktur kepengurusan JALAMU, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi, hingga penetapan program kerja awal JALAMU ke depan.

Beberapa persoalan mencuat yang disampaikan oleh pengurus JALAMU dari Lamongan, Surabaya, Lumajang, dan Sampang. Mulai dari persoalan harga ikan yang sangat rendah pada puncak musim, penggunaaan alat yang menimbulkan efek kerusakan ekosistem, sinergitas dengan stakeholders strategis, sampai persoalan pendampingan untuk memberikan edukasi termasuk pada isu kesehatan.

Dengan pembentukan kepengurusan JALAMU, Muhammadiyah Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan berkontribusi dalam pembangunan masyarakat maritim yang mandiri, berdaya, dan berkemajuan.

Ketua Divisi Petani, Nelayan, dan Buruh Migran MPM PWM Jawa Timur, Hutri Agustino, menegaskan bahwa pembentukan kepengurusan JALAMU merupakan upaya nyata dalam menghadirkan gerakan pemberdayaan yang terstruktur dan berkelanjutan di kalangan masyarakat pesisir.

Ia menegaskan bahwa JALAMU tidak hanya menjadi wadah organisasi, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi, edukasi, dan penguatan kapasitas bagi para nelayan agar mampu menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari aspek ekonomi, lingkungan, hingga kebijakan yang seringkali belum berpihak secara optimal.

Baca Juga  LKSA Muhammadiyah Jatim Harus Bertransformasi, Bukan Sekadar Kelola Panti

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Muhammadiyah dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun stakeholders lainnya, guna mendorong lahirnya program-program strategis yang mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan serta memperkuat ketahanan ekonomi berbasis komunitas.