
MAKLUMAT – Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, menyesalkan insiden yang terjadi dalam pentas seni di salah satu SMK di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang mengandung adegan kekerasan hingga menyebabkan seorang siswanya meninggal dunia.
“Kenapa sekolah tidak menyaring teks (naskah pentas seni). Karena kalau memeragakan kekerasan, itu tidak boleh,” ujar Diyah Puspitarini, melansir Antara, pada Rabu (26/2/2025).
Diyah menegaskan, pentas seni yang melibatkan anak seharusnya tidak menyajikan adegan atau unsur apapun yang mengandung kekerasan. Hal itu dikhawatirkan akan memicu anak-anak untuk mencontoh, hingga mengesankan seolah melegalkan kekerasan.
“Misal ada adegan pukul-pukulan, itu tidak boleh. Pertama, karena anak bisa mencontoh. Kedua, seperti melegalkan (adanya kekerasan). Ketiga, ya kalau dipukul bohongan, kalau dipukul sungguhan bagaimana?” katanya.
KPAI Akan Pantau Penanganan Kasus
Lebih lanjut, Diyah mengungkapkan, pihaknya di KPAI rencananya bakal bertolak ke lokasi tersebut di Bandung Barat pada Kamis, 27 Februari 2025, untuk memantau perkembangan terhadap penanganan kasus tersebut.
Saat ini, ia mengaku juga tengah menunggu hasil otopsi terhadap jenazah korban. Hal itu akan menjadi salah satu acuan sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait insiden tersebut.
Pentas Seni ‘Kenakalan Remaja’ Berujung Maut
Sebelumnya, salah satu SMK di Padalarang mementaskan pertunjukan seni bertajuk ‘kenakalan remaja’ pada Kamis (20/2/2025) lalu. Nahas, pentas tersebut memakan korban. Salah seorang pemeran berinisial MDR (17) harus meregang nyawa.
Dalam pementasan tersebut, diketahui terdapat adegan kekerasan yang diperankan oleh MDR. Properti yang digunakan dalam adegan tersebut, termasuk gunting asli, yang akhirnya menyebabkan kejadian fatal hingga merenggut nyawa korban.
Pentas seni ini sebenarnya merupakan agenda tahunan yang dijadikan sebagai bagian dari ujian praktik siswa kelas XII untuk memenuhi syarat kelulusan. Namun, insiden tragis ini menimbulkan pertanyaan besar terkait pengawasan sekolah dalam penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan.
KPAI menekankan pentingnya evaluasi terhadap kurikulum kegiatan ekstrakurikuler dan seni di sekolah agar tidak lagi terjadi kejadian serupa di masa mendatang.