MAKLUMAT– Orang tua sering kali menghadapi tantangan berat saat mendampingi tumbuh kembang anak, salah satunya ketika balita tiba-tiba menangis histeris atau tantrum di ruang publik. Situasi yang menguras emosi ini kerap membuat orang tua panik akibat tekanan pandangan dari lingkungan sekitar.
Praktisi pengasuhan anak, Farah Diba menegaskan bahwa tantrum di tempat umum merupakan fenomena alami proses perkembangan emosi balita, bukan tanda anak “nakal”.
”Tantrum muncul karena kemampuan komunikasi balita belum matang untuk menyampaikan rasa frustrasi mereka, terutama saat terpapar stimulasi berlebih seperti keramaian atau kebisingan,” kata Farah seperti dilansir scmedia.id .
Untuk mengatasi situasi tersebut, orang tua perlu menerapkan lima langkah taktis:
Pertama, jaga emosi diri sendiri tetap stabil. Anak sangat peka membaca emosi orang tua; jika orang tua panik, ledakan emosi anak justru makin meningkat.
Kedua, segera pindahkan anak ke tempat yang lebih tenang guna mengurangi rangsangan visual maupun suara.
Ketiga, tetaplah konsisten pada batasan. Orang tua tidak boleh mengalah atau menuruti keinginan anak hanya karena merasa malu dilihat orang lain.
Keempat, berikan ruang dan waktu bagi anak untuk meredakan emosinya secara aman tanpa intervensi berlebihan.
Kelima, berikan pelukan hangat serta kata-kata menenangkan begitu emosi anak mulai mereda.
Tantrum sebagai Ruang Edukasi Emosi
Fenomena tantrum di ruang publik bukan sekadar ujian kesabaran, melainkan momen krusial pembentukan kecerdasan emosional (emotional intelligence) anak sejak dini. Kegagalan orang tua dalam mengelola respons saat anak tantrum sering kali berakar dari social anxiety—rasa takut dihakimi oleh masyarakat sekitar. Padahal, mengalah pada tuntutan anak demi menghentikan tangisan secara instan justru membentuk pola manipulasi perilaku di masa depan.
Melalui pendekatan yang tenang dan konsisten, orang tua sebenarnya sedang mengajarkan konsep self-regulation (regulasi diri). Anak belajar memahami bahwa emosi negatif seperti marah atau kecewa adalah hal yang wajar, namun cara mengekspresikannya tetap memiliki batasan. Konsistensi orang tua dalam situasi krisis ini menjadi fondasi utama ikatan emosional (attachment) yang sehat antara anak dan orang tua.











