
MAKLUMAT — Setelah mengakhiri masa tugasnya sebagai Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan periode 2019-2024, Prof. Muhadjir Effendy seolah kembali ke rumah besar Muhammadiyah.
Jabatannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, mendapat tantangan besar pasca Tanwir I Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, 4-6 Desember 2024.
Pak Muhadjir mendapat tugas berat untuk menjadikan Muhammadiyah menjadi organisasi yang lebih mandiri secara ekonomi, tanpa melupakan akar sebagai organisasi sosial-keagamaan.
Tantangan ini disampaikan Pak Muhadjir di sela-sela Tanwir I Muhammadiyah. Salah satu konsep yang diusung Muhammadiyah adalah Gerakan Indonesia Berkemakmuran, sebuah visi untuk memanfaatkan potensi ekonomi demi manfaat umat.
“Ini bukan soal keuntungan, tapi manfaat. Muhammadiyah ingin menjadi organisasi benefit seeker yang mendistribusikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” tegas Muhadjir.
Transformasi ini bertujuan menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi social enterprise. Dalam hal ini, Muhammadiyah tidak hanya bergantung pada sumbangan donatur besar, tetapi juga mampu memproduksi manfaat sendiri.
Meski selama ini organisasi telah memainkan peran besar di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial, tantangan ke depan adalah menjadi produsen mandiri.
Menurut Muhadjir, model bisnis Muhammadiyah selama ini lebih banyak berperan sebagai perantara manfaat.
“Kita ingin mulai memproduksi sendiri dan meredistribusikan manfaat itu langsung kepada masyarakat. Ini bukan untuk kekayaan organisasi atau pengurus, tetapi untuk kemakmuran umat,” katanya.
Jaringan Retail Mentari Mart
Salah satu instrumen utama dalam membangun ekonomi umat adalah Mentari Mart, jaringan ritel yang diinisiasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Tiga kios percontohan telah berdiri dengan rencana ekspansi hingga 167 unit per bulan.
Mentari Mart dirancang sebagai jembatan antara produk UMKM Muhammadiyah dengan pasar yang lebih luas. Hambatan distribusi yang sering menjadi kendala bagi UMKM diharapkan dapat teratasi dengan menggandeng pemain besar. “Rencanannya, MoU dilakukan pada Tanwir tapi belum bisa dari sana (perusahaan retail) inginnya perfect,” jelas Muhadjir.
Muhammadiyah juga tetap fokus pada sektor inti, seperti layanan kesehatan. Saat ini, organisasi tersebut sudah bisa memproduksi cairan infus sendiri untuk memenuhi kebutuhan 127 rumah sakit Muhammadiyah. Meski begitu, kapasitas penggunaan baru mencapai 17-20 persen.
Tambang yang Masih Mengambang
Di sektor tambang, Muhammadiyah menghadapi tantangan besar. Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari pemerintah hingga kini belum pasti, sementara gugatan masyarakat terkait lokasi tambang sedang diproses di Mahkamah Konstitusi. “Kita diminta untuk menjadi saksi. Saya sudah menugasi Majelis ekonomi utuk menjadi saksikan tambang ini,” tandasnya.
Muhammadiyah sebenarnya sudah punya infrastruktur pendukung, seperti lima fakultas pertambangan, 12 SMK pertambangan, dan 10 SMK alat berat. “Kita juga punya kader-kader Muhammadiyah yang ahli di pertambangan. Kita tunggu saja dari pemerintah,” ujar Muhadjir.
Meski tantangan terus menghadang, optimisme tetap menjadi kunci. Bagi Muhadjir, upaya ini bukan untuk memperkaya Muhammadiyah, melainkan menghadirkan manfaat nyata bagi umat. “Ini untuk kemakmuran umat, bukan untuk kekayaan organisasi atau pengurusnya,” tutupnya.