MAKLUMAT — Berasal dari keluarga petani sederhana di Dusun Ngagik, Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Nemshy Elfa Saputri berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Lulusan S1 Akuntansi UPN Veteran Jawa Timur itu kini bekerja sebagai staf akuntansi di PT IMST setelah melalui perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, dukungan orang tua dan para guru, serta kepedulian banyak orang.
Nemshy mengawali pendidikan di SD Negeri 3 Ngumbul, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 5 Ngadirojo, SMK Negeri Ngadirojo, hingga diterima di Program Studi Akuntansi UPN Veteran Jawa Timur melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) kala itu. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi generasi muda di wilayah pedesaan yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
Ia menceritakan, lingkungan tempat tinggalnya berada di kawasan pegunungan yang saat itu masih memandang pendidikan hingga jenjang SMA sebagai pencapaian yang sudah sangat tinggi. Bahkan, ketika dirinya masih kecil, hanya terdapat seorang sarjana di lingkungan tempat tinggalnya.
Ayah Nemshy bekerja sebagai petani yang mengolah lahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjadi buruh serabutan, mulai dari menggarap lahan milik orang lain, menjadi buruh angkut kayu hingga pekerja bangunan. Sementara sang ibu mengurus rumah tangga sekaligus mencari rumput untuk pakan ternak kambing.
“Sejak kecil kami diajarkan hidup sederhana. Setiap pagi ibu selalu menyiapkan makanan dan air hangat sebelum kami berangkat sekolah. Dari situlah saya belajar bahwa perjuangan orang tua harus dibalas dengan kesungguhan belajar,” ujar Nemshy.
Titik balik perjalanan hidupnya dimulai ketika duduk di bangku SMP dan bertemu dengan guru bernama Sri Rachma Endah alias yang akrab disapanya Bu Ima. Menurut Nemshy, guru tersebut menjadi sosok yang menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah masa depan.
Menjelang kelulusan SMP, Bu Ima menawarkan tempat tinggal secara cuma-cuma agar Nemshy dapat melanjutkan pendidikan di SMK. Selama tiga tahun tinggal di kediaman sang guru, ia tidak hanya memperoleh tempat tinggal dan makan, tetapi juga belajar hidup mandiri, bertanggung jawab, serta membantu pekerjaan rumah setiap hari sebelum berangkat sekolah.
“Saya tidak pernah menganggap itu sebagai bantuan semata, tetapi sebagai amanah yang harus saya balas dengan prestasi. Bu Ima mengajarkan bahwa pendidikan harus diperjuangkan,” kata Nemshy.
Perjuangan berikutnya datang ketika dirinya dinyatakan lolos SNMPTN pada pilihan pertama di UPN Veteran Jawa Timur. Namun, kebahagiaan itu sempat diselimuti kekhawatiran karena orang tuanya mengaku tidak mampu membiayai kuliah.
Nemshy mengaku sempat mengurungkan niat melanjutkan pendidikan tinggi dan menyampaikan kondisi tersebut kepada guru bimbingan konseling (BK). Mendengar hal itu, guru BK, Pak Redy dan Bu Elya, mendatangi rumahnya untuk memberikan motivasi sekaligus meyakinkan keluarga agar tetap mengizinkannya kuliah.
“Pak Redy dan Bu Elya tidak hanya memberi semangat, tetapi juga membantu mencarikan solusi. Berkat kepedulian mereka, saya akhirnya memperoleh kesempatan kuliah tanpa terbebani biaya pendidikan,” kenang Nemshy.
Melalui komunikasi yang dilakukan Bu Elya dengan Rektor UPN Veteran Jawa Timur saat itu, Prof. Fauzi, Nemshy memperoleh kesempatan tinggal di Pesantren Mahasiswi sehingga dapat menjalani kuliah dengan lebih tenang. Kesempatan tersebut menjadi salah satu titik penting yang membuatnya mampu bertahan selama menempuh pendidikan tinggi.
Sebelum kuliah dimulai, Nemshy memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga di Surabaya selama sekitar tiga bulan. Keputusan itu diambil untuk memperoleh biaya hidup awal dan membeli perlengkapan kuliah tanpa membebani kedua orang tuanya, meski saat itu pandemi Covid-19 tengah berlangsung.
“Saya berangkat ke Surabaya dengan keyakinan bahwa saya harus bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri. Saya tidak ingin menambah beban orang tua,” ungkapnya.
Majikan tempatnya bekerja disebut memberikan banyak dukungan, termasuk membantu pembelian telepon seluler yang lebih memadai untuk mengikuti perkuliahan daring. Setelah kembali ke Pacitan, berbagai bantuan dari guru dan para dermawan yang tidak dikenalnya juga mengalir hingga akhirnya Nemshy mampu membeli laptop untuk menunjang perkuliahan.
Selama tinggal di pesantren mahasiswi, Nemshy terus mencari tambahan penghasilan melalui berbagai pekerjaan, mulai dari berjualan secara daring, menjadi admin keuangan lepas, mengajar les, hingga mengelola media sosial. Pengasuh pesantren, Ustaz Novianto, bahkan memberinya kesempatan bekerja dengan imbalan sebuah sepeda motor yang hingga kini masih digunakannya sebagai sarana mobilitas.
Selain itu, pelatihan kewirausahaan di lingkungan pesantren membawanya mengembangkan usaha penjualan besek bambu untuk memenuhi kebutuhan suvenir, katering, dan berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membangun kemandirian selama menempuh pendidikan.
Pada semester akhir, Nemshy mengikuti program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya dan ditempatkan di Puskesmas Ngagel Rejo sebagai administrasi keuangan. Kinerjanya mendapat kepercayaan hingga akhirnya dipanggil kembali bekerja bahkan sebelum mengikuti prosesi wisuda. Setelah itu, ia melanjutkan karier sebagai staf akuntansi di PT IMST sesuai bidang keilmuan yang dipelajarinya.
Nemshy mengatakan keberhasilannya tidak terlepas dari doa kedua orang tua serta dukungan para guru, pengasuh pesantren, dosen, hingga keluarga tempatnya pernah bekerja. Ia berharap kelak dapat meneruskan kebaikan yang pernah diterimanya kepada generasi berikutnya.
“Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat sebagaimana dahulu banyak orang baik membantu saya. Pendidikan bukan hanya mengubah kehidupan seseorang, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengangkat derajat keluarga dan membantu orang lain,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada para orang tua dan generasi muda agar tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan menghentikan pendidikan. Menurutnya, komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, disertai kerja keras, tanggung jawab, doa, serta keyakinan terhadap pentingnya pendidikan akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.***
*) Penulis: Edi Susanto














