Piala Dunia: Pergeseran Kekuatan dan Kiblat Sepak Bola?

Para pemain Timnas Prancis berlaga di Piala Dunia 2026. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Selama puluhan tahun, peta kekuatan sepak bola dunia seolah memiliki poros yang nyaris tak tergoyahkan. Brasil dengan lima gelar juara dunia menjadi simbol keindahan permainan, Jerman dengan empat gelar juara dunia identik dengan efisiensi dan mental juara, sementara Italia yang juga punya empat gelar juara dunia dikenal sebagai maestro taktik dan pertahanan. Ketiga negara itu mendominasi sejarah Piala Dunia sepanjang abad ke-20 hingga awal abad ke-21.

Namun, dalam satu dekade terakhir, lanskap tersebut perlahan berubah. Pusat gravitasi sepak bola dunia tampaknya mulai bergeser ke Prancis, negara yang berhasil menjaga konsistensi di level tertinggi ketika para rival tradisionalnya justru mengalami pasang surut.

Pergeseran itu bukan sekadar kesan subjektif. Dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir (2018, 2022, dan 2026), Prancis menunjukkan tingkat konsistensi yang sulit ditandingi negara mana pun. Mereka menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia dengan skuad muda bertabur bintang. Empat tahun kemudian, Les Bleus kembali mencapai final Piala Dunia 2022 di Qatar sebelum takluk dramatis dari Argentina melalui adu penalti. Kini, pada Piala Dunia 2026 yang masih berlangsung, Prancis kembali memastikan tempat di semifinal setelah menyingkirkan Maroko secara meyakinkan.

Capaian tersebut menjadikan Prancis sebagai satu-satunya negara yang mampu menembus semifinal dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun, sejak Jerman melakukannya pada 2002, 2006, 2010, dan 2014. Bedanya, keberhasilan Prancis terasa lebih impresif karena datang di tengah era sepak bola yang dianggap jauh lebih kompetitif dengan kekuatan yang lebih merata.

Kesuksesan Prancis tidak lahir secara instan. Fondasinya dibangun jauh sebelum generasi Kylian Mbappé muncul. Federasi sepak bola Prancis telah lama berinvestasi dalam pembinaan usia muda melalui akademi-akademi elite, terutama Clairefontaine, yang melahirkan banyak talenta kelas dunia. Sistem tersebut memungkinkan regenerasi berjalan nyaris tanpa hambatan.

Baca Juga  Marak Banjir dan Longsor Akibat Ulah Manusia, Wakil Ketua PWM Jatim Ingatkan Kepedulian Lingkungan

Ketika generasi Zinedine Zidane, Thierry Henry, dan Patrick Vieira pensiun, Prancis tidak kehilangan arah. Mereka segera melahirkan Antoine Griezmann, Paul Pogba, N’Golo Kanté, dan Raphael Varane. Kini, ketika sebagian nama itu mulai menepi, estafet diteruskan oleh Mbappé, Aurélien Tchouaméni, Eduardo Camavinga, William Saliba, hingga Warren Zaïre-Emery ataupun Rayan Cherki.

Keunggulan terbesar Prancis dibanding negara-negara lain terletak pada kedalaman skuadnya. Banyak pemain kelas dunia bahkan tidak selalu mendapat tempat utama di tim nasional. Situasi tersebut kontras dengan Brasil, Jerman, atau Italia yang dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami kesulitan regenerasi.

Brasil, misalnya, masih menjadi negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan lima gelar. Namun, sejak menjadi juara pada 2002, Selecao terus-menerus kegagalan mengulang masa kejayaan. Mereka memang sempat mencapai semifinal pada 2014, tetapi kekalahan telak 1-7 dari Jerman di kandang sendiri meninggalkan trauma besar. Pada 2018 dan 2022, Brasil terhenti di perempat final, sementara di Piala Dunia 2026 perjalanan mereka kembali terhenti lebih awal setelah disingkirkan Norwegia.

Jerman mengalami situasi yang tak kalah sulit. Setelah menjuarai Piala Dunia 2014, Die Mannschaft justru terpuruk. Mereka tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022, sebelum kembali gagal berbicara banyak pada edisi kali ini usai takluk dramatis oleh Paraguay melalui babak adu penalti.

Baca Juga  Shin Tae-yong Pulang ke Korea Selatan dengan Haru, Lagu "Sampai Jumpa" Menggema di Bandara Soekarno-Hatta

Italia bahkan menghadapi kenyataan yang lebih pahit. Juara dunia empat kali itu bahkan belum mampu mentas dari fase kualifikasi. Meskipun berhasil menjadi juara Euro 2020, tetapi Gli Azzuri bahkan sudah absen dalam tiga edisi Piala Dunia berturut-turut: 2018, 2022, dan 2026. Sebuah kemunduran yang nyaris tak terbayangkan satu dekade sebelumnya.

Dominasi Prancis juga terlihat di level klub dan pembinaan pemain. Liga Prancis mungkin belum setenar Liga Inggris (EPL), Liga Spanyol (LaLiga), maupun Liga Italia (Serie A), tetapi negara tersebut telah menjelma menjadi “pabrik” talenta besar di Eropa. Klub-klub elite dunia secara rutin memburu pemain muda Prancis karena kualitas teknik, fisik, dan kecerdasan taktik mereka.

Selain Prancis, fenomena serupa tampaknya juga terjadi di Amerika Latin. Jika dahulu Brasil menjadi pusat gravitasi sepak bola di kawasan itu, dalam beberapa tahun terakhir Argentina perlahan mengambil alih posisi tersebut. Keberhasilan Lionel Messi membawa Argentina menjuarai Copa América 2021 dan 2024, serta Piala Dunia 2022 menjadi titik balik penting.

Para pemain Timnas Argentina berlaga di Piala Dunia 2026. (Foto: tangkapan layar)
Para pemain Timnas Argentina berlaga di Piala Dunia 2026. (Foto: tangkapan layar)

Namun, pergeseran kiblat Amerika Latin tidak hanya ditentukan oleh trofi. Argentina menunjukkan sesuatu yang lebih penting: kesinambungan proyek sepak bola nasional. Di bawah Lionel Scaloni, Albiceleste berhasil membangun identitas permainan yang solid, kolektif, dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Messi.

Generasi baru seperti Lautaro Martinez, Julián Álvarez, Alexis Mac Allister, hingga Enzo Fernández ataupun Alejandro Garnacho memberikan harapan bahwa Argentina mampu mempertahankan statusnya sebagai kekuatan utama kawasan. Pencapaian mereka di Piala Dunia 2026—yang kembali melangkah jauh dan berpeluang mencapai semifinal—semakin menguatkan kesan tersebut.

Baca Juga  13 Negara Sudah Pastikan Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Sebaliknya, Brasil masih mencari formula terbaik setelah era Neymar Jr. Negeri Samba memang masih tetap memiliki stok talenta luar biasa dan berlimpah, tetapi belum menemukan kombinasi pelatih, sistem permainan, dan regenerasi yang mampu mengembalikan dominasi mereka di panggung dunia.

Meski demikian, menyebut bahwa era Brasil, Jerman, ataupun Italia telah berakhir tentu terlalu dini. Sejarah sepak bola menunjukkan bahwa dominasi selalu bergerak dalam siklus. Brasil pernah mendominasi pada era Pelé dan Ronaldo Nazario, Italia berjaya pada dekade 1980-an dan awal 2000-an, sementara Jerman membangun supremasi melalui proyek jangka panjang yang berujung pada gelar juara dunia pada edisi 2014 usai puasa selama lebih dari dua dekade lamanya.

Namun, jika berbicara tentang satu dekade terakhir, sulit membantah bahwa Prancis telah menjadi episentrum baru sepak bola dunia. Konsistensi mereka di tiga Piala Dunia terakhir, kedalaman skuad yang nyaris tak habis, serta keberhasilan sistem pembinaan menjadikan Les Bleus sebagai standar baru yang ingin dikejar negara-negara lain.

Sementara itu, di Amerika Latin, Argentina tampak berada di jalur yang sama. Jika Prancis kini menjadi kiblat baru sepak bola Eropa, maka Argentina perlahan mengambil alih peran yang selama puluhan tahun identik dengan Brasil.

Pertanyaannya yang kini menjadi semakin menarik bukan lagi apakah pergeseran itu benar-benar terjadi, melainkan berapa lama Prancis dan Argentina mampu mempertahankan takhta dan dominasi baru mereka di tengah siklus sepak bola yang terus berubah dan semakin kompetitif? Atau negara mana yang mampu menghentikan dominasi mereka dan meraih kejayaan baru?