MAKLUMAT — Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arba’ati, menyoroti tingginya kasus HIV/AIDS di Jawa Timur yang menurutnya harus mendapatkan perhatian serius.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Jawa Timur masih menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia. Sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Sidoarjo, juga mencatat peningkatan temuan kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Terkait hal itu, Nurul mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan tingginya kasus HIV sebagai perhatian bersama dengan mengedepankan langkah pencegahan dan penanganan yang komprehensif.
“Temuan tingginya kasus HIV harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat. Fokus kita bukan mencari siapa yang salah, tetapi memperkuat upaya pencegahan dan penanganan secara komprehensif agar kasus serupa dapat ditekan,” ujarnya, dikutip Rabu (22/7/2026).
Peran Penting Keluarga
Menurut dia, persoalan HIV dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan, sehingga memerlukan penanganan secara menyeluruh. Salah satu aspek penting adalah penguatan ketahanan keluarga sebagai lingkungan pertama dalam membentuk karakter, pola komunikasi, dan perilaku setiap anggota keluarga.
“Kita perlu mempelajari akar persoalannya secara utuh. Bisa jadi dipengaruhi berbagai faktor, termasuk lemahnya ketahanan keluarga, kurangnya edukasi, perilaku berisiko, hingga tantangan sosial lainnya. Karena itu, penguatan keluarga menjadi salah satu ikhtiar penting dalam membangun sistem pencegahan yang lebih baik,” katanya.
Keluarga, kata Nurul, memiliki peran penting dalam membangun generasi yang sehat, berkarakter, dan bertanggung jawab. Ia menekankan, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, penanaman nilai sejak dini, serta pendampingan terhadap remaja dapat membantu mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Ketahanan keluarga bukan sekadar isu domestik, tetapi fondasi ketahanan sosial masyarakat. Jika keluarga kuat, generasi muda akan memiliki ruang dialog, pendampingan, dan penguatan nilai yang membantu mereka mengambil keputusan secara bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai risiko kehidupan,” tegasnya.
Tak Cukup Hanya Layanan Kesehatan
Lebih lanjut, Nurul menandaskan bahwa upaya pencegahan HIV tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Edukasi, literasi kesehatan reproduksi yang bertanggung jawab, pendampingan remaja, penguatan nilai dalam keluarga, serta dukungan lingkungan sosial yang sehat juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Karena itu, Bipeka PKS Jawa Timur mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi masyarakat, serta keluarga untuk memperkuat sinergi dalam menyusun program edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.
PKS Jatim Luncurkan Halo RKI
Sebagai bagian dari upaya tersebut, pada momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 lalu, Bipeka PKS Jawa Timur meluncurkan Halo Rumah Keluarga Indonesia (Halo RKI), layanan call center konsultasi keluarga yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan keluarga.
“Melalui Halo RKI, kami ingin masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan keluarga. Harapannya, masalah dapat dikenali lebih dini sehingga keluarga semakin kuat dan berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan,” ujar Nurul.
Selain Halo RKI, Bipeka PKS Jawa Timur juga menjalankan Sekolah Keluarga Indonesia (SKI), pelatihan konsultan keluarga, serta Pos Pemberdayaan Ekonomi Keluarga (PPEK) sebagai bagian dari penguatan keluarga dari aspek pendidikan, psikologis, sosial, dan ekonomi.
“Bagi kami, keluarga yang kuat adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Ketika keluarga mampu menjalankan fungsi pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang dengan baik, kita sedang membangun fondasi bagi lahirnya generasi Jawa Timur yang sehat, tangguh, dan berdaya saing,” tandas Nurul.














