Presiden Kolombia Tantang AS: Gustavo Petro Siap Angkat Senjata Jika Terjadi Invasi

Presiden Kolombia Tantang AS: Gustavo Petro Siap Angkat Senjata Jika Terjadi Invasi

MAKLUMAT – Presiden Kolombia Gustavo Petro melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat. Petro menegaskan siap mengangkat senjata jika Washington melakukan invasi ke Kolombia.

Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya hubungan Petro dengan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menuding Petro sebagai bandar narkoba. Tuduhan tersebut langsung dibantah keras oleh Presiden Kolombia.

“Saya bukan pengedar narkoba. Trump berbicara tanpa pengetahuan. Berhenti memfitnah saya,” tulis Petro dalam unggahan di platform X, Selasa (6/1/2026).

Petro memperingatkan agresi militer AS akan memicu perlawanan rakyat Kolombia. Ia menyebut para petani bisa berubah menjadi gerilyawan jika negaranya diserang.

“Jika mereka mengebom, para petani akan menjadi ribuan gerilyawan di pegunungan. Jika presiden yang dicintai rakyat ditahan, maka ‘jaguar’ rakyat akan dilepaskan,” tegasnya.

Petro dikenal sebagai mantan anggota kelompok gerilya sayap kiri M-19 pada era 1990-an. Meski demikian, setelah demobilisasi, ia berperan aktif dalam penyusunan Konstitusi Kolombia 1991 dan meniti karier politik sebagai anggota parlemen hingga menjabat Wali Kota Bogota sebelum terpilih sebagai presiden.

“Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi. Namun demi tanah air, saya siap mengangkat senjata,” tandas Petro.

Merespons situasi tersebut, Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sánchez mengumumkan pengamanan presiden diperketat menyusul meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Hubungan kedua negara memburuk sejak AS mencabut visa Petro pada September lalu, usai sang presiden Kolombia menyerukan tentara AS agar tidak mematuhi perintah ilegal. Pada Oktober, Washington juga menjatuhkan sanksi keuangan terhadap Petro, keluarganya, serta sejumlah kolaborator dekatnya.

Baca Juga  Eskalasi Meningkat Usai Ancaman Balasan Iran, AS dan Prancis Peringatkan Warganya

Ketegangan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Karibia dan Pasifik timur. Pasukan AS dilaporkan menggencarkan operasi terhadap kapal-kapal yang diduga terkait jaringan narkoba, termasuk di wilayah dekat pantai Kolombia.***

*) Penulis: R Giordano

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *