25.5 C
Malang
Kamis, April 3, 2025

KAI Daop 8 Beri Promo Tiket 40% untuk Arus Balik, Cek Tujuannya

PT KAI Daop 8 Surabaya menyediakan tiket promo untuk sejumlah kereta api untuk arus balik selama angkutan lebaran2025.

Pemkot Surabaya Kendalikan Urbanisasi, Ini yang Dimaksud

Eri Cahyadi tak segan pulangkan warga urban yang tidak memiliki kejelasan tujuan di Surabaya.
KilasPuasa dan Idulfitri Sebagai Pembentuk Keterpaduan Kesalehan Pribadi dan Sosial

Puasa dan Idulfitri Sebagai Pembentuk Keterpaduan Kesalehan Pribadi dan Sosial

Ketua MPKS PP Muhammadiyah yang juga Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen RI, Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si., saat menyampaikan khutbah Idulfitri 1446 H di Kota Blora. (Foto: IST)
Ketua MPKS PP Muhammadiyah yang juga Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen RI, Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si., saat menyampaikan khutbah Idulfitri 1446 H di Kota Blora. (Foto: IST)

MAKLUMAT – Ibadah puasa sesungguhnya merupakan sarana latihan agar orang beriman mampu mengalahkan godaan nafsu dan setan. Hal itu ditegaskan Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah Dr. Mariman Darto, SE.,M.Si ketika menjadi khatib Salat Idulfitri 1446 H di GOR Mustika, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Dia menjelaskan, puasa diperintahkan agar manusia memperoleh pengalaman-pengalaman jasmaniyah dan ruhaniyah yang akan membentuk dan mempertinggi daya kekebalan fisik dan jiwanya. Sehingga, menjadi orang yang sehat secara jasmani maupun rohani.

“Inilah manusia takwa yang ingin dicapai melalui ibadah puasa Ramadan. Jadi, orang yang berpuasa pada hakikatnya adalah orang yang menang dalam arti mampu mengalahkan godaan nafsu dan setan,” ujarnya, Senin (31/3/2025).

Sebagai pemenang, kata dia, maka di penghujung bulan Ramadan ini, mereka layak mendapat ucapan selamat dengan iringan doa: minal ‘aidin wal faizin; selamat kembali kepada jiwa yang suci dan selamat telah menjadi pemenang di arena jihad akbar melawan godaan nafsu dan setan.

“Dalam konsep Islam, Idulfitri merupakan akhir dari proses panjang berpuasa selama satu bulan penuh, sekaligus juga merupakan awal hidup baru. Pada hari ini, umat Islam diwajibkan makan dan minum, bahkan diharamkan berpuasa. Namun, bukan berarti hakekat puasa—yakni, menahan diri—yang selama ini mereka terapkan berakhir. Justru, kemampuan untuk menahan diri itu harus terus diasah dan ditingkatkan sampai Ramadhan tahun depan. Begitulah idealnya konsep berpuasa,” tuturnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen ini melanjutkan, hari raya adalah hari kemenangan dan kejayaan seandainya kaum muslimin dapat meletakkan diri dalam ketaatan, kepasrahan, ketakwaan dan kasih sayang. Hari Raya juga akan terus menjadi hari yang penuh dengan berkah dan kebahagiaan sekiranya kaum muslimin terus maju menghadapi masa depan dengan penuh amal saleh, amal kebajikan dan akhlak yang terpuji.

“Hari raya tidak akan menjadi hari yang berbahagia bagi mereka yang mengekalkan sifat-sifat keji, sifat-sifat buruk, sifat-sifat tercela, sifat-sifat syaithoniyah, perilaku tidak bermoral dan tak beradab, seperti khianat, menipu, berbohong, takabur, zalim dan semacamnya,” terangnya.

Sementara, lanjur dia, Idulfitri adalah konsep Sang Khalik untuk memperbarui kehidupan umat manusia dalam nuansa spiritual, bukan dalam nuansa material. Karena itu, Idulfitri tidak harus dirayakan dengan mengenakan baju baru atau mobil baru, apalagi jika untuk mendapatkannya seseorang harus menerobos jalur haram atau dengan mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain. Sekali lagi, Idul Fitri adalah sarana untuk memperbarui dan memperbaiki kualitas kehidupan umat, bukan sebaliknya.

“Jika puasa adalah pembentuk kepribadian utama menuju insan bertakwa atau pembentuk kesalehan personal, maka Idulfitri adalah jembatan penghubung menuju fase pembuktian sejauh mana kesalehan pribadi yang telah terbentuk selama 30 hari ramadhan tersebut mampu memancarkan kesalehan keluarga dan kehidupan masyarakat, bangsa, serta dunia kemanusiaan semesta,” tegasnya.

Karena itu, Mariman mengingatkan, Idulfitri bukanlah sekedar perayaan, tetapi momentum refleksi atas perjalanan spiritual selama Ramadan. Karena kita telah menjalani latihan ketakwaan selama sebulan penuh, kini saatnya membuktikan hasilnya dalam kehidupan nyata. Dimana salah satu bentuk implementasi ketakwaan itu adalah sebuah komitmen baru berdakwah untuk perubahan sosial.

“Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir mengingatkan kita sekalian bahwa cerminan seorang yang bertauhid murni atau insan bertakwa bukanlah hanya sekedar hafal akan ajaran-ajaran agama, hafal akan asmaul husna, membangun gerakan salat berjamaah. Semuanya itu penting. Namun, ada yang lebih penting dari itu yakni mempraktekan ajaran ketauhidan tersebut dalam relasi sosial dan menjaga hubungan baik dengan alam. Dengan kata lain, ibadah yang dijalani selama Ramadan bukan hanya untuk membangun kesalehan pribadi, namun juga untuk memupuk kesalehan sosial,” jelasnya.

Hari ini, sambung dia, kita melihat berbagai tantangan besar yang dihadapi umat Islam dan masyarakat dunia. Setidaknya ada empat tantangan besar yang dihadapi umat Islam:

Pertama, krisis moral semakin mengkhawatirkan: Pergaulan bebas, pornografi, penyalahgunaan narkoba, serta kejahatan digital semakin merusak moral generasi muda.

Kedua, ketimpangan sosial dan ekonomi terus melebar: Masih banyak saudara kita yang hidup dalam kemiskinan, sementara segelintir orang menikmati kemewahan tanpa kepedulian terhadap sesama.

Ketiga, keadilan seringkali dipermainkan: Hukum lebih tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kezaliman dan ketidakadilan sering terjadi, baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial.

Keempat, Islamofobia dan krisis ukhuwah Islamiyah: Di banyak tempat, umat Islam mengalami diskriminasi, konflik internal, dan perpecahan akibat perbedaan mazhab atau kepentingan politik.

“Di tengah fenomena ini, kita harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita hanya akan menjadi penonton atau berpangku tangan? Ataukah kita akan mengambil peran sebagai agen perubahan sosial melalui dakwah yang konstruktif dan solutif?” tanyanya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ’Imran [3]: 110)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ

Mariman menerangkan, ayat ini menegaskan bahwa umat Islam memiliki peran aktif dalam menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kewajiban dakwah bukan hanya tugas para ulama, tetapi tanggung jawab setiap Muslim sesuai dengan kapasitasnya.

“Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan nasihat bagi umat Islam. Ada orang beragama, tetapi tidak berakhlak dan ada orang yang berakhlak, tetapi tidak bertuhan. Nasihat berupa sindiran bagi seseorang yang telah berikrar iman, tetapi tabiat dan perilakunya jauh dari moralitas sehingga ia lebih tepat dikategorikan kafir. Bukankah dari keimanan, idealnya lahir tindakan-tindakan kebaikan yang sejalan dengan prinsip-prinsip kesalehan atau moral universal? Dapatkah disebut beriman ketika tindakan-tindakannya berseberangan dari prinsip-prinsip kesalehan sosial?” ungkapnya.

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tidak termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang, sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR Bukhari). Dari hadis ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa keimanan sejatinya dilandaskan pada kesalehan sosial. Dalam konteks itu adalah anjuran menolong tetangga yang dalam keadaan susah dan miskin. Kesantunan dan kepedulian sosial adalah bentuk nyata keberimanan seseorang.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.” (HR Bukhari).

“Hadis ini mengajak kita untuk memahami bahwa fondasi iman yang lain adalah kesadaran diri. Orang-orang yang sadar telah beriman akan menjalankan perintah agama dengan kedewasaan dan kesabaran. Sehingga, tidak mungkin bisa terjebak dalam lautan emosi hingga menyakiti lainnya. Dengan kata lain, keimanan bukan semata keyakinan yang terpendam dalam diri. Sikap acuh terhadap kesusahan orang lain atau pelanggaran terhadap syariat secara tidak tegas bisa dinyatakan sebagai ‘tidak beriman’, yakni kekafiran terselubung,” urainya.

Rasulullah juga menyatakan dalam hadisnya, “Tidaklah beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.” (HR Muslim).

Sekali lagi, terang dia, kita diajak menumbuhkan empati sosial sebagai motor penggerak keimanan. Kesalehan secara sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan demi kesempurnaan iman. Ketika Nabi ditanya ihwal siapa seorang yang paling utama di sisi Allah, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Dalam Al-Quran juga banyak ditekankan implementasi keimanan dalam bentuk kesalehan, kepedulian, kesadaran, dan empati sosial. Sebagaimana termaktub dalam surah al-Hajj ayat 77, yakni:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, supaya kalian mendapat kemenangan.”

Ayat ini adalah satu dari ratusan ayat lainnya yang menjabarkan arti kebajikan seorang mukmin. Seorang mukmin di samping wajib menyempurnakan ibadah pribadinya kepada Tuhan, seperti shalat, puasa, haji, dan lainnya, juga wajib berperan aktif dan berkontribusi dalam terselenggaranya kehidupan sosial yang aman dan sejahtera.

Puasa dan Idulfitri 1446 H kali ini menjadi momen paling penting dalam memadukan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Kedua kesalehan itu saling terkait satu dengan yang lain. Kesalehan pribadi menjadi penentu bagi kesalehan sosial. Kesalehan sosial merupakan perwujudan ketakwaan diri yang berkualitas akibat tempaan selama puasa Ramadan.

Sumberdaya insani yang telah digembleng selama 30 hari di bulan suci Ramadan harus memiliki kesadaran diri bahwa keimanan yang kuat dan kualitas ibadah yang makin baik dapat melahirkan kesalehan, kepedulian, kesadaran, dan empati sosial bagi sesama. Kesadaran diri inilah yang akan memantik kesejahteraan sosial bagi seluruh bagi semesta.

Agar kesadaran diri ini mampu terlembagakan dalam keseharian kita selama 11 bulan kedepan, maka konstruksi niat, kualitas iman, kualitas ibadah perlu dipadukan dengan kualitas amal sosial kita.

Allah berfirman yang artinya:“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS Al-Ashr: 1-3).

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita ke jalan-Nya yang benar. Jalan orang-orang yang diridhai bukan jalannya orang yang dimurkai. Amin,” pungkas Mariman.***

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL LAINNYA

Populer