MAKLUMAT – Tingginya angka perceraian di Jawa Timur menjadi alarm serius bagi ketahanan keluarga. Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Hj. Lilik Hendarwati, mendorong penguatan keluarga sebagai langkah awal membangun ketahanan sosial masyarakat.
Lilik mengatakan keluarga merupakan unit terkecil sekaligus benteng pertama dalam membentuk masyarakat. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur, ekonomi, dan lingkungan, tetapi juga harus memperkuat keluarga.
“Kalau kita ingin membangun masyarakat yang aman, rukun, peduli, sejahtera dan tangguh menghadapi perubahan, maka jangan hanya membangun lingkungannya. Bangun juga keluarganya,” ujar Lilik, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, keluarga saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kesibukan orang tua, minimnya komunikasi, tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, pergaulan, narkoba, judi online, kekerasan dalam rumah tangga hingga krisis keteladanan dapat memicu keretakan rumah tangga.
Data Pengadilan Tinggi Agama Surabaya mencatat 79.270 perkara perceraian di Jawa Timur pada 2023. Angka tersebut meningkat menjadi 79.309 perkara pada 2024.
Sementara sepanjang Januari-Juni 2026, tercatat 52.185 perkara perceraian. Perselisihan dan pertengkaran menjadi faktor terbesar dengan 17.211 perkara, disusul persoalan ekonomi sebanyak 16.468 perkara.
“Angka ini harus membuat kita aware. Jangan sampai kita baru bicara tentang ketahanan keluarga ketika keluarga sudah berada di ujung perceraian. Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya,” tegasnya.
Lilik menilai keluarga harus kembali menjadi ruang pertama bagi setiap anggotanya untuk merasa aman, didengar, dan mendapatkan dukungan.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan legislatif dalam menciptakan ekosistem yang mendukung ketahanan keluarga. Pembangunan, kata dia, harus mencakup pembangunan manusia, bukan semata aspek fisik dan ekonomi.
“Rumah adalah basis terkecil masyarakat. Kalau rumah-rumah kita kuat, insyaallah masyarakat kita kuat. Kalau keluarga-keluarga kita tangguh, maka ketahanan sosial masyarakat juga akan tumbuh,” katanya.
Gerakan 3M Keluarga Tangguh
Untuk memperkuat ketahanan keluarga, Lilik memperkenalkan Gerakan 3M Keluarga Tangguh, yakni Mendengar, Menguatkan, dan Menjaga.
Pertama, Mendengar. Orang tua diminta menyediakan ruang bagi anak untuk bercerita, sementara pasangan suami istri perlu saling membuka ruang komunikasi tanpa takut dihakimi.
“Dengarkan cerita anak. Beri ruang pasangan berbicara. Jangan terburu-buru menghakimi. Hadir ketika keluarga membutuhkan,” pesannya.
Kedua, Menguatkan. Keluarga harus menjadi tempat pertama untuk mendapatkan dukungan, terutama ketika menghadapi kegagalan.
“Berikan apresiasi, dampingi ketika gagal, jangan mempermalukan anggota keluarga. Jadilah tempat pertama untuk pulang,” ujarnya.
Ketiga, Menjaga. Keluarga harus menjadi benteng pertama dari berbagai ancaman, seperti narkoba, judi online, kekerasan, pergaulan negatif, hoaks hingga penyalahgunaan media sosial.
“Keluarga tangguh bukan keluarga yang sempurna. Keluarga tangguh adalah keluarga yang tidak berhenti saling menjaga, tetap bersama ketika menghadapi masalah, mau berbicara dan mendengarkan, serta saling menguatkan ketika ada yang lemah,” tutur Lilik.
Lilik berharap penguatan ketahanan keluarga tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengajak orang tua, pasangan suami istri, tokoh masyarakat, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat menjadikan keluarga sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Bangsa yang kuat tidak tiba-tiba lahir dari gedung-gedung pemerintahan. Bangsa yang kuat lahir dari rumah-rumah yang di dalamnya ada cinta, komunikasi, keteladanan dan saling menjaga,” katanya.
Lilik mengajak masyarakat memulai perubahan dari rumah dengan tiga prinsip: mendengar sebelum menghakimi, menguatkan sebelum menyalahkan, dan menjaga sebelum kehilangan.
Melalui Gerakan Dulure Bu Lilik, ia mengajak masyarakat memperbanyak mendengar, menguatkan, dan menjaga keluarga.
“Pulang membawa perubahan. Karena keluarga tangguh adalah awal dari masyarakat yang tumbuh, dan masyarakat yang tangguh adalah fondasi bagi bangsa yang kuat,” pungkasnya.













