PWM Jatim Terima Kunjungan BRIN, Diskusikan Fenomena Prekariat

MAKLUMAT — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim menerima kunjungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di kantornya pada Selasa (5/5/2026). Pertemuan ini membahas sejumlah isu kebangsaan, termasuk perubahan gaya hidup warga Muslim hingga fenomena prekariat.

“Prekariat adalah kelas sosial baru yang muncul akibat perkembangan zaman,” ujar Peneliti BRIN, Wahyudi Akmaliah.

Wahyudi menjelaskan bahwa prekariat merujuk pada kelompok pekerja dengan kondisi kerja tidak pasti, rentan, dan minim perlindungan. Fenomena ini kian meluas di berbagai sektor, mulai dari tenaga kontrak, pekerja outsourcing, honorer, hingga pekerja berbasis aplikasi.

Ia menjelaskan bahwa isu mengenai prekariat kini sedang menjadi salah satu fokus riset BRIN. Wahyudi juga menyebut bahwa posisi prekariat kerap berada di antara kelas sosial.

Kelompok ini tidak tergolong sebagai kelompok miskin sehingga kerap luput dari bantuan, tetapi juga tidak memiliki akses dan privilese untuk meningkatkan kapasitas ekonomi seperti kelompok atas.

Kondisi ini dinilai telah memperlemah daya tahan sosial dan ekonomi kelompok tersebut. “Jadi sebagai kelompok saat ini sedang terhimpit dan banyak mendapat tantangan,” jelasnya.

Wahyudi juga menyinggung keterkaitan prekariat dengan dinamika umat Muslim di Indonesia. Ia menilai kondisi kerentanan kelompok prekariat mendorong perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pola konsumsi, cara beragama, hingga relasi sosial di tengah masyarakat.

Baca Juga  Wakil Ketua PWM Jatim Ingatkan Semua Pihak Patuhi Aturan Negara dan Agama saat Kampanye

Ia juga melihat kerentanan kelompok tersebut di tengah meningkatnya kebutuhan ceramah keagamaan. Hal ini dapat memunculkan relasi baru yang rawan komodifikasi, termasuk menempatkan jamaah sebagai sekadar objek.

“Kerentanan itu bisa berkembang ketika kebutuhan spiritual bertemu dengan logika pasar,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Bendahara PWM Jatim, Zainul Muslimin menilai penceramah memang perlu memahami kebutuhan jamaah. Namun, ia mengingatkan agar praktik dakwah tidak menempatkan pendengar sekadar sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang harus diberdayakan.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pendekatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai dakwah yang membangun kesadaran.

“Memang, sebagai penceramah seseorang harus mampu membaca kebutuhan pendengar. Ceramah harus dapat masuk ke hati jamaahnya,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PWM Jatim, Tamhid Masyhudi menilai fenomena prekariat menjadi tantangan yang perlu direspons secara serius. Ia menegaskan bahwa misi Muhammadiyah adalah membangun masyarakat unggul sebagai bagian dari upaya memperkuat peradaban Islam.

Ia berharap riset BRIN dapat menjadi rujukan bagi berbagai pihak dalam merumuskan kebijakan dan langkah konkret untuk mendorong transformasi sosial yang lebih inklusif. “Membangun bangsa ini adalah tugas kolektif, tugas kita bersama,” pesannya.

Baca Juga  Soal Putusan MK, Mirdasy: Harusnya Jika Dipisah adalah Pemilu Eksekutif dan Legislatif