MAKLUMAT – Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi media membuat radio tidak bisa hanya mengandalkan pola siaran lama. Preferensi pendengar terus bergerak, sementara kehadiran platform digital menghadirkan banyak pilihan hiburan dan informasi.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan monitoring Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Jawa Timur, Aan Haryono, di Radio Suzana FM Surabaya, Senin (24/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Aan berdiskusi dengan pengelola dan kru radio mengenai perkembangan industri penyiaran, perubahan karakter pendengar, hingga pentingnya inovasi agar radio tetap memiliki tempat di tengah ekosistem media yang semakin beragam.
“Pendengar radio sekarang tidak lagi hanya mencari suara. Mereka mencari pengalaman, kedekatan, informasi, sekaligus hiburan yang relevan dengan kehidupan mereka,” ujar Aan.
Menurut dia, perubahan teknologi seharusnya tidak dilihat semata-mata sebagai ancaman bagi radio. Sebaliknya, perkembangan platform digital dapat menjadi ruang baru untuk memperluas jangkauan siaran.
Radio, kata dia, memiliki keunggulan yang sulit sepenuhnya digantikan oleh media digital. Salah satunya adalah kedekatan antara penyiar dan pendengar.
“Penyiar tetap penting. Bahkan ketika orang memiliki banyak pilihan konten, suara manusia yang terasa dekat, akrab, dan memahami pendengar tetap mempunyai nilai,” katanya.
Karena itu, penyiar radio tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara. Penyiar perlu memahami karakter pendengar, mampu membangun percakapan, membaca momentum, serta menghadirkan konten yang terasa personal.
Menurut Aan, inovasi radio juga tidak selalu berarti menghadirkan teknologi yang mahal. Inovasi dapat dimulai dari cara mengemas program, memilih topik, membangun interaksi dengan pendengar, hingga mengembangkan konten siaran menjadi materi digital.
“Yang berubah adalah cara orang mengonsumsi media. Radio harus ikut berubah, tetapi tidak kehilangan identitasnya,” ujarnya.
Ia menilai radio memiliki peluang untuk membangun ekosistem multiplatform. Siaran konvensional dapat diperkuat dengan potongan video, podcast, media sosial, maupun interaksi digital sehingga hubungan dengan pendengar tidak berhenti ketika program siaran selesai.
Dalam konteks pengawasan isi siaran, KPID Jawa Timur juga mendorong lembaga penyiaran untuk terus menjaga kualitas program sekaligus memahami kebutuhan publik.
“Radio yang bertahan bukan hanya radio yang memiliki frekuensi. Radio yang bertahan adalah radio yang memiliki hubungan dengan pendengarnya,” kata Aan.
Monitoring ke Radio Suzana FM menjadi bagian dari upaya KPID Jawa Timur untuk melihat secara langsung perkembangan lembaga penyiaran sekaligus mendengarkan berbagai dinamika yang dihadapi industri radio.












