MAKLUMAT — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menandai peringatan 20 tahun tragedi tsunami Pangandaran, Jawa Barat pada 17 Juli 2006 silam.
Penandaan ini dilakukan dalam seminar online (webinar) A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience pada Kamis (16/7/2026).
Penandaan ini merupakan bentuk refleksi untuk terus membangun ketangguhan masyarakat di wilayah pesisir. Tragedi tsunami yang dipicu oleh gempa berkekuatan M7,7 ini telah merenggut 668 korban jiwa. Peristiwa ini menjadi tonggak percepatan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) hingga diresmikan pada tahun 2008.
“Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi,“ ucap Teuku Faisal Fathani selaku Kepala BMKG, dilansir dari siaran pers BMKG pada Jumat (17/7/2026).
Faisal mengingatkan pada pemerintah daerah dan masyarakat untuk benar-benar memahami dan memanfaatkan peringatan ini dan melakukan langkah-langkah dini yang tepat. Karena kecanggihan teknologi pemantauan di hulu tidak akan mampu menyelamatkan nyawa jika terputus dari masyarakat di hilir.
“Kesiapan dalam hitungan detik yang kritis inilah yang menjadi ujung tombak rantai keselamatan,“ ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama menyoroti tantangan psikologis masyarakat terhadap bencana tsunami yang termasuk peristiwa langka. Karakteristik bencana seperti ini yang kerap membuat kesadaran risiko masyarakat memudar seiring berjalannya waktu.
Karena itu melalui peringatan 20 tahun tsunami ini, Nelly mengajak semua pihak untuk merawat ingatan publik. “Kesiapsiagaan akan terwujud selama kita terus menjaga kesadaran tersebut tetap hidup. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama,“ tegasnya.
Dalam mewujudkan aksi dini tersebut, BMKG menjalin sinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan kalangan akademisi melalui program berbasis komunitas Masyarakat Siaga Tsunami (Tsunami Ready Community).
Program yang telah mendapat pengakuan dari UNESCO-IOC secara langsung ini mewajibkan setiap desa untuk memiliki rencana evakuasi yang jelas, peta rawan bencana, serta sistem peringatan dini yang aktif.
Selain itu, BMKG turut meresmikan sejumlah desa di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Desa tersebut meliputi Desa Tua Pejat di Kepulauan Mentawai dan Desa Amping Parak di Sumatera Barat. Lalu Desa Citepus dan Desa Cikakak di Pelabuhan Ratu serta tiga desa di Bengkulu. Yaitu Desa Teluk Sepang, Desa Penurunan, dan Desa Lempuing.
*) Penulis: Fatin Azmi Fauziyah












