MAKLUMAT — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 183 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya membangun rocket stove di Desa Mengen, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Senin (13/7/2026).
Tungku yang disusun dari bata ringan itu dirancang sebagai alat pembakar sampah alternatif dengan asap yang lebih minim. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk memperkenalkan cara pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi pencemaran udara di desa.
Pembuatan rocket stove berawal dari hasil observasi dan dialog yang dilakukan mahasiswa bersama warga. Dari kegiatan itu, mereka menemukan bahwa Desa Mengen memiliki kondisi tanah yang subur, tetapi pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi persoalan.
Ketua KKN 183 UINSA, Dian Prahara Batubara, menjelaskan bahwa belum adanya sistem pengangkutan sampah secara rutin membuat sebagian warga masih mengandalkan pembakaran terbuka yang berpotensi mengganggu kualitas lingkungan.
“Warga Mengen selama ini masih kesulitan mengelola sampah rumah tangga karena belum ada sistem pengangkutan rutin. Melalui rocket stove, kami ingin menawarkan solusi yang mudah, murah, dan ramah lingkungan. Harapan kami, alat ini tidak hanya membantu mengurangi penumpukan sampah, tetapi juga mengurangi polusi akibat pembakaran terbuka,” ujarnya.
Dian menjelaskan, pembangunan rocket stove tidak hanya ditujukan untuk memenuhi program kerja KKN. Mahasiswa juga ingin menjadikan alat tersebut sebagai media edukasi agar masyarakat mulai memahami pentingnya mengelola sampah dengan cara yang lebih bertanggung jawab.
Mereka berharap inovasi sederhana itu dapat mendorong tumbuhnya kebiasaan baru dalam menjaga kebersihan lingkungan. Secara teknis, rocket stove dirancang dengan ruang bakar berbentuk huruf L atau J yang memungkinkan aliran udara masuk dari bagian bawah dan samping.
Desain tersebut membuat proses pembakaran berlangsung lebih efisien sehingga menghasilkan suhu yang lebih tinggi dan asap yang lebih sedikit. Alat itu dapat digunakan untuk membakar sampah organik maupun anorganik hingga lebih sempurna dibandingkan pembakaran terbuka.
Inovasi tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Mengen. Sekretaris Desa Mengen, Syaiful Bahri, menilai keberadaan rocket stove menjadi hal baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif dalam mengelola sampah. Menurutnya, program itu tidak hanya menghadirkan sarana, tetapi juga memberi pemahaman kepada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Menurut saya ini merupakan inovasi yang cukup baik dan masih tergolong baru bagi masyarakat Desa Mengen. Selama ini mungkin masyarakat hanya mengenal cara membakar sampah secara biasa,” ujar Bahri.
“Sedangkan rocket stove menawarkan cara yang lebih efisien dengan asap yang lebih sedikit. Tentu ini bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan apabila nantinya dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat,” imbuhnya.
Setelah pembangunan selesai, mahasiswa KKN 183 UINSA bersama jajaran Pemerintah Desa Mengen menggelar aksi simbolis dengan membubuhkan cap telapak tangan pada permukaan rocket stove. Kegiatan itu menjadi penanda komitmen bersama untuk merawat dan memanfaatkan alat tersebut secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Harapan kami, masyarakat bisa memanfaatkan rocket stove ini secara berkelanjutan, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan dan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan juga semakin meningkat,” katanya.
*) Penulis: M Habib Muzaki














