Rukmini Amar Dorong Rempah Lokal Kertosari Jadi Peluang Usaha Perempuan

Rukmini

MAKLUMAT — Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Rukmini Amar, mendorong pemanfaatan rempah lokal untuk membuka peluang usaha bagi perempuan di Desa Kertosari, Kabupaten Pasuruan. Tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi produk pangan dan minuman yang memiliki nilai jual.

Rukmini menyampaikan hal tersebut dalam pengembangan Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan SITI KANAYA di ‘Aisyiyah Training Center (ATC) Jawa Timur, Rabu-Kamis (14–15/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) itu melibatkan tim pengelola hutan wakaf.

PWA Jawa Timur turut mendukung kegiatan tersebut. “Potensi rempah ini bisa menjadi daya tarik desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id pada Jumat (16/10/2026).

Pelatihan selama dua hari itu mengajak peserta mengenali tanaman lokal, mempelajari budidayanya, dan mengolah rempah menjadi berbagai produk. Muhamad Yusup Napiri dari Martani mendampingi peserta membuat minuman, sirup, serta makanan seperti ongol-ongol. Ia juga mendorong peserta mencoba resep yang dipelajari di rumah dan menjajaki pemasaran hasil olahan mereka.

Yusup menilai pemanfaatan tanaman di sekitar tempat tinggal dapat menjadi awal bagi perempuan untuk merintis usaha. Peserta perlu mencoba proses pengolahan secara mandiri, termasuk membuat sirup alami tanpa pewarna buatan dan menguji daya simpannya sebelum memasarkan produk.

Baca Juga  Kolaborasi Lintas Sektor Aisyiyah dan Pemprov Jatim untuk Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga

“Rempah-rempah yang tumbuh di sekitar kita bisa diolah menjadi beragam produk bernilai tambah, baik minuman maupun makanan,” katanya.

Direktur ATC, Aminah Asminingtyas, juga melihat keterampilan mengolah rempah sebagai bekal bagi perempuan untuk mengembangkan usaha. Menurutnya, peserta perlu memahami proses budidaya agar dapat mengenali bahan baku yang tersedia dan mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

“Dengan memahami proses pengolahannya, ibu-ibu tidak hanya mengenal produk jadi, tetapi juga terdorong untuk menanam dan mengolah rempah menjadi produk bernilai ekonomi,” jelasnya.

Pengalaman usaha turut hadir melalui Marwiyah dari Ikatan Wirausaha ‘Aisyiyah (Iswara) PWA Jawa Timur. Sebagai observer, ia berbagi pengalaman mengembangkan produk olahan rempah bermerek DIA. Produknya meliputi minuman serbuk kunyit asam, kunyit putih, jahe, dan jahe secang, serta manisan kencur dan jahe.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi peserta untuk melihat kemungkinan pengembangan produk rempah. Dalam kegiatan itu, peserta juga membahas gagasan Café Rempah SITI KANAYA sebagai tempat mengolah dan memperkenalkan produk berbahan tanaman yang dibudidayakan di kawasan ATC.

Ketua LLHPB PWA Jawa Timur sekaligus Koordinator Program Hutan SITI KANAYA, Sumiati, menilai proses belajar perlu berlanjut setelah pelatihan selesai. Ia berharap peserta semakin percaya diri mengembangkan keterampilan dan membagikan pengetahuan kepada perempuan lain di sekitar ATC.

Baca Juga  Dorong Penanganan Kejahatan Digital, FGD Aisyiyah Jatim Hasilkan 4 Rekomendasi

“Semangat belajar ibu-ibu perlu terus diasah agar semakin berani menyuarakan pendapat dan membagikan pengetahuan kepada perempuan lain di sekitar ATC,” ujarnya.

Pengembangan Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan SITI KANAYA merupakan bagian dari Leveraging Education and Research for Networking Program (LEARN) yang didukung Ford Foundation. Eco Bhinneka Muhammadiyah mengembangkan inisiatif ini bersama LATIN, ANGIN, dan INFID, dengan dukungan PWA Jawa Timur.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki