MAKLUMAT — Tekanan ekonomi yang terus meningkat membuat banyak keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah kondisi itu, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur (PWA Jatim), Rukmini Amar mendorong perempuan untuk memiliki kemandirian ekonomi sebagai bagian dari penguatan ketahanan keluarga.
“Dulu satu piring nasi mungkin cukup untuk satu orang, sekarang harus diperebutkan oleh banyak orang. Kondisi ekonomi semakin menantang. Di sisi lain, banyak orang masih bergantung menjadi pekerja dan belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” ujar Rukmini saat diwawancarai Maklumat.id di Surabaya pada Rabu (15/7/2026).
Rukmini menegaskan, kemandirian ekonomi perempuan bukan berarti mengambil alih peran suami sebagai pencari nafkah utama. Adapun yang dimaksud adalah kemampuan perempuan mengelola sumber daya keluarga secara bijak dan produktif agar kebutuhan rumah tangga benar-benar tercukupi.
“Aisyiyah mendorong perempuan memiliki kemandirian ekonomi. Bukan berarti harus menjadi pencari nafkah utama, tetapi bagaimana perempuan mampu mengelola rezeki yang diberikan Allah melalui keluarga agar mencukupi kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.
Perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam mengelola keuangan rumah tangga, memanfaatkan peluang usaha, sekaligus mendukung terciptanya ketahanan ekonomi keluarga di tengah berbagai tantangan.
Salah satu wujud nyata dorongan itu adalah Sekolah Wirausaha Aisyiyah, di mana perempuan diajarkan membedakan kebutuhan dan keinginan sebagai dasar pengelolaan keuangan keluarga.
“Perempuan harus memiliki keterampilan yang bisa menghasilkan nilai ekonomi. Misalnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur, hasilnya bisa dikonsumsi sendiri, bahkan di era digital dapat dipasarkan melalui media sosial. Jadi, jangan hanya menunggu penghasilan suami, tetapi pikirkan juga bagaimana keluarga memiliki sumber pendapatan tambahan,” katanya.
Ia juga mendorong perempuan untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun di sekitar mereka sebagai sumber pendapatan tambahan. Di sisi lain, ia juga menyoroti bahwa banyak persoalan ekonomi keluarga bukan semata karena penghasilan yang kurang, melainkan karena lemahnya kemampuan mengelola pengeluaran. Iklan yang masif dan tren konsumsi dinilainya sebagai jebakan bagi perempuan terlebih dalam mengatur gaya hidupnya.
“Iklan membuat orang merasa harus membeli sesuatu yang sebenarnya belum dibutuhkan. Karena itu perempuan harus mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Kemampuan inilah yang akan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga,” tegasnya.
Rukmini lalu menekankan bahwa kemandirian ekonomi perempuan akan semakin kuat ketika dibangun di atas fondasi kemitraan yang sehat antara suami dan istri. Komunikasi dan saling mendukung, menurutnya, menjadi kunci agar daya ekonomi keluarga benar-benar tumbuh bersama.
“Dalam pandangan kami, kesuksesan seorang istri juga tidak lepas dari dukungan suami. Rezeki yang Allah berikan bisa datang melalui suami, tetapi bisa juga melalui istri. Yang terpenting adalah membangun komunikasi dan saling mendukung,” pungkasnya
*) Penulis: Nasywa Athirah













