MAKLUMAT — Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, bergerak intens menemui sejumlah tokoh kunci Indonesia sepanjang Maret hingga awal April 2026. Hasilnya, MUI menerbitkan Taujihat tentang Penghentian Agresi, Penegakan Hukum Internasional, dan Keadilan Kemanusiaan.
Dalam surat bernomor Kep-40/DP-MUI/IV/2026, MUI menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak akan terwujud tanpa penghentian kezaliman dan penegakan keadilan sebagai fondasi utama perdamaian berkelanjutan.
MUI menyoroti agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Palestina, Lebanon, dan kawasan Timur Tengah yang memicu korban jiwa, kehancuran infrastruktur, krisis kemanusiaan, serta instabilitas global.
TAUJIHAT MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)#KedubesIran #Iran #UpdateIran #Indonesia #MUI pic.twitter.com/6AOY9FRsTh
— Iran Embassy in Indonesia (@IraninIndonesia) April 3, 2026
Isi Taujihat: Kutuk Agresi, Desak Dunia Bertindak
MUI mengutuk keras agresi militer, invasi, dan kekerasan terhadap negara berdaulat, warga sipil, serta fasilitas publik sebagai bentuk kezaliman yang bertentangan dengan ajaran Islam dan prinsip kemanusiaan.
Lembaga ini juga menyerukan negara-negara dunia mengambil langkah nyata—politik, diplomatik, dan ekonomi—untuk menghentikan perang secara segera dan tanpa syarat, serta mendorong deeskalasi konflik (stop war).
MUI menegaskan pelanggaran hukum humaniter internasional dan HAM harus diproses tanpa standar ganda melalui mekanisme hukum internasional. Selain itu, PBB didesak bertindak tegas, menjatuhkan sanksi terhadap pelaku agresi, serta memberikan perlindungan maksimal bagi warga sipil, tenaga medis, jurnalis, dan fasilitas publik.
MUI juga menyerukan penguatan solidaritas dunia Islam, khususnya negara OKI, serta penolakan terhadap politik adu domba (divide et impera). Di dalam negeri, pemerintah diminta mengambil kebijakan strategis menghadapi dampak krisis energi akibat eskalasi konflik global.
Safari Politik: Jokowi, Megawati, hingga JK
Boroujerdi bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo pada 1 April 2026 untuk membahas dampak konflik terhadap stabilitas global. Ia juga menemui Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam dua kesempatan di Menteng dan kantor DPP PDI-P sepanjang Maret 2026.
Pertemuan lain dilakukan dengan Jusuf Kalla di Markas PMI guna memperkuat jalur komunikasi kemanusiaan. Di tingkat lokal, Boroujerdi lebih dulu bertemu Wali Kota Solo Respati Ardi sebelum agenda dengan Jokowi.
Boroujerdi juga bertemu Din Syamsuddin dan Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi pada 3 April 2026 bersama sejumlah tokoh Islam dan unsur MUI. Pertemuan menekankan pentingnya perdamaian global, solidaritas umat Islam, serta penolakan terhadap agresi militer yang memicu krisis kemanusiaan dan energi dunia. Langkah diplomasi ini sejalan dengan taujihat MUI yang menyerukan penghentian perang, penegakan hukum internasional, dan penguatan solidaritas global.













