Sekolah Terendam Lumpur 2 Meter, Ratusan Pelajar SMA di Pidie Jaya Terpaksa Belajar di Tenda Darurat

Sekolah Terendam Lumpur 2 Meter, Ratusan Pelajar SMA di Pidie Jaya Terpaksa Belajar di Tenda Darurat

MAKLUMATRatusan pelajar SMA Negeri 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat. Kondisi ini terjadi lantaran bangunan sekolah mereka hingga kini masih tertimbun lumpur setinggi sekitar dua meter akibat banjir bandang.

Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, M Diah mengatakan aktivitas belajar kembali dimulai pada Senin (5/1/2026) meski kondisi sekolah belum memungkinkan untuk digunakan. Seluruh proses pembelajaran, termasuk kegiatan administrasi sekolah, terpaksa dilakukan di dalam tenda dengan fasilitas yang sangat terbatas.

“Mulai hari ini anak-anak kembali bersekolah. Proses belajar mengajar berlangsung di tenda darurat, termasuk kegiatan administrasi sekolah. Semuanya dilakukan dengan kondisi seadanya,” ujar M Diah.

Pantauan di lokasi menunjukkan para pelajar datang ke sekolah dengan pakaian bebas. Hanya sebagian kecil siswa yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sebagian besar siswa tampak tidak membawa buku, alat tulis, maupun perlengkapan belajar lainnya.

Menurut M Diah, hampir seluruh perlengkapan belajar siswa rusak dan tidak dapat digunakan akibat terendam banjir dan lumpur. Bahkan, banyak siswa kehilangan seragam sekolah karena hanyut atau tertimbun material banjir.

“Hampir sebagian besar anak-anak kami tidak lagi memiliki seragam dan peralatan belajar. Semuanya rusak atau hilang akibat banjir,” katanya.

Sebelum memulai kegiatan belajar, para siswa mengikuti upacara sederhana di area tenda. Upacara tersebut dipimpin oleh Wakapolres Pidie Jaya, Kompol Iswahyudi dan diikuti oleh para guru serta tenaga kependidikan.

Baca Juga  Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor, Wakil Ketua DPRK Aceh Tengah: Listrik dan Sinyal Komunikasi Paling Urgent Dipulihkan

SMA Negeri 2 Meureudu memiliki total 271 peserta didik dan 55 tenaga pendidik. M Diah menyebut hampir seluruh warga sekolah terdampak langsung oleh banjir bandang yang melanda wilayah Aceh pada akhir November 2025 lalu.

Meski demikian, pihak sekolah tidak memaksa seluruh siswa untuk langsung masuk sekolah. Pasalnya, para pelajar juga merupakan korban bencana yang masih berupaya memulihkan kondisi keluarga dan tempat tinggal masing-masing.

“Kami tidak memaksakan anak-anak untuk hadir. Kami sudah menyampaikan bahwa pembelajaran dimulai 5 Januari 2026, tetapi tidak semua anak menerima informasi karena alat komunikasi mereka juga rusak akibat banjir,” ujar M Diah.

Ia menjelaskan sekolah juga membebaskan siswa mengenakan pakaian apa pun selama proses belajar berlangsung. Kebijakan ini diambil karena banyak siswa yang belum mampu mengganti seragam sekolah mereka.

Salah seorang siswa kelas X A, Nasyila Fonna mengaku kembali bersekolah setelah mendapat pemberitahuan dari guru. Ia datang ke sekolah tanpa seragam dan tanpa membawa perlengkapan belajar.

“Seragam dan alat belajar semuanya sudah tidak bisa digunakan lagi karena banjir. Saya berharap kegiatan belajar bisa segera kembali normal supaya kami tidak tertinggal pelajaran,” ungkap Nasyila.***

*) Penulis: R Giordano

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *