MAKLUMAT — Sebanyak 108 siswa kelas 4–6 SD dan MI Muhammadiyah se-Kabupaten Banyuwangi mengikuti kegiatan Pondok Ramadan 1447 Hijriyah di Pondok Pesantren Insatmu Boarding School, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo. Kegiatan bertajuk “Mondok Tenan” ini dilaksanakan dalam tiga sesi.
Sesi I digelar pada Rabu, 25 Februari 2026, diikuti siswa dari SD Muhammadiyah 11 Kradenan, SD Muhammadiyah 9 Setail, SD Muhammadiyah 2 Pakis, SD Muhammadiyah 12 Glagahagung, SD Muhammadiyah 8 Purwo Asri, SD Muhammadiyah 5 Muncar, dan SD Muhammadiyah 15 Sumberasri.
Sesi II berlangsung pada Kamis, 26 Februari 2026, dengan peserta dari SD Muhammadiyah 6 Genteng, SD Muhammadiyah 17 Kalipait, MI Muhammadiyah 1 Gambiran, MI Islamiyah Muhammadiyah Muncar, SD Muhammadiyah 18 Kalibaru, dan MI Islamiyah Sempu.
Sementara itu, Sesi III dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2026, yang diikuti siswa dari SD Muhammadiyah 1 Banyuwangi dan SD Muhammadiyah 19 Rogojampi.
Ketua panitia Pondok Ramadan, Wahid Hadi Santoso, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini mengusung tema pembentukan anak sholeh, cinta ibadah, dan berakhlak mulia. “Tujuannya membentuk karakter siswa SD/MI Muhammadiyah yang beriman, berakhlak mulia, cinta ibadah, serta memiliki kebanggaan sebagai pelajar Muhammadiyah,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan, secara khusus kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap ibadah, mengenalkan dunia pesantren sejak dini, serta membiasakan praktik ibadah yang benar dan disiplin. Selain itu, penanaman akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi fokus utama.
Menurutnya, Pondok Ramadan ini juga menjadi sarana mengenalkan nilai dan identitas Muhammadiyah sejak dini kepada para siswa. Kegiatan ini sekaligus melatih kemandirian, kebersamaan, dan tanggung jawab peserta.
Selama satu hari satu malam, para peserta mengikuti beragam materi dan praktik ibadah. Selain materi seputar Ramadan, ibadah, akhlak, dan kemuhammadiyahan, siswa juga melaksanakan salat berjamaah dan tarawih, buka puasa bersama, sahur, muhasabah malam, serta kultum subuh.
“Format satu hari satu malam ini dirancang agar siswa dapat merasakan nuansa kepesantrenan secara sederhana, tetapi tetap bermakna,” pungkasnya.














