
MAKLUMAT– Serangan udara Israel yang terjadi pada Selasa (2/4) dini hari menewaskan seorang pejabat senior Hizbullah, Hassan Bdeir, di pinggiran selatan Beirut. Serangan tersebut juga menewaskan putranya, Ali Hassan Bdeir, serta dua orang lainnya, termasuk seorang wanita.
Serangan udara yang dilancarkan tanpa peringatan itu menghantam lantai atas sebuah gedung sembilan lantai di persimpangan kawasan Sfeir dan Mouawad pada pukul 03.30 waktu setempat. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon dilansir Arab News, tujuh orang lainnya mengalami luka-luka, sementara bangunan di sekitar lokasi kejadian mengalami kerusakan parah.
Serangan ini merupakan yang kedua dalam sepekan terakhir di wilayah selatan Beirut sejak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah diberlakukan pada 27 November 2024.
Media yang dekat dengan Hizbullah melaporkan bahwa Hassan Bdeir adalah “wakil kepala urusan Palestina” dalam organisasi tersebut. Sumber lainnya menyebut bahwa Bdeir, yang dikenal dengan nama samaran “Hajj Rabih,” merupakan tokoh kunci dalam hubungan Hizbullah dengan faksi-faksi Palestina.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota Hizbullah yang diduga terlibat dalam perencanaan serangan terhadap warga sipil Israel. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menuduh bahwa Bdeir merupakan anggota Unit 3900 Hizbullah dan Pasukan Quds yang tengah merancang serangan terhadap pesawat Israel di Siprus. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut terkait dugaan serangan yang direncanakan tersebut.
Serangan tanpa peringatan ini mengejutkan warga sekitar. “Orang-orang sedang tertidur ketika ledakan mengguncang daerah ini. Kami tidak menyangka akan ada serangan udara pada hari kedua Idulfitri,” kata seorang warga setempat.
Pejabat Lebanon segera mengecam serangan ini. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan Lebanon. “Kegigihan Israel dalam agresinya mengharuskan kami untuk memperkuat upaya diplomasi dan menggalang dukungan internasional guna mempertahankan kedaulatan kami,” ujarnya.
Ketua parlemen Lebanon, Nabih Berri, menuding Israel berusaha menggagalkan implementasi perjanjian gencatan senjata. Ia menyerukan kepada negara-negara sponsor gencatan senjata untuk menekan Israel agar menghentikan serangannya terhadap Lebanon.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap Resolusi 1701 PBB yang menjamin kedaulatan Lebanon dan penghentian permusuhan.
Anggota parlemen Hizbullah, Ibrahim Al-Moussawi, menyalahkan komunitas internasional atas serangan ini dan mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil tindakan lebih lanjut. “Tidak ada yang dapat membenarkan pembunuhan warga sipil. Jika Israel mengklaim ada anggota Hizbullah di daerah pemukiman, serangan ini tetap tidak bisa dibenarkan secara hukum,” tegasnya.
Hingga saat ini, Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi terkait serangan tersebut. Namun, Al-Moussawi menegaskan bahwa organisasi tersebut tetap berpegang pada perjanjian gencatan senjata dan akan menentukan langkah selanjutnya pada waktu yang tepat.***