Sewa iPhone, demi Validasi di Hari yang Fitri

MAKLUMAT – Fenomena mudik Lebaran selalu membawa cerita baru. Tahun ini, bukan hanya arus kendaraan yang padat, tapi juga arus “citra diri” yang ikut pulang kampung.

Di tengah budaya silaturahmi dan kebersamaan, muncul tren yang diam-diam menguat: menyewa iPhone demi terlihat sukses di hadapan keluarga dan lingkungan.

Di Surabaya, permintaan sewa iPhone melonjak tajam sejak pertengahan Ramadan hingga mendekati Idulfitri. Bukan semata soal kebutuhan dokumentasi, melainkan juga soal bagaimana momen itu ingin ditampilkan. Kamera jernih, logo apel yang ikonik, hingga kesan “kelas atas” menjadi daya tarik utama.

Abdullah, salah satu pemilik jasa sewa iPhone, merasakan betul lonjakan itu. Unit yang ia miliki hampir habis dibooking, bahkan harus menambah stok demi memenuhi permintaan.

Menariknya, banyak penyewa justru datang dari luar kota —Sidoarjo, Gresik, Malang, Mojokerto, hingga Yogyakarta. Mereka datang ke Surabaya, menyewa perangkat, lalu menggunakannya untuk membuat konten: buka bersama, berbagi takjil, hingga dokumentasi mudik.

Durasi sewanya pun singkat. Rata-rata hanya 12 jam hingga sehari. Cukup untuk menghasilkan foto dan video yang kemudian diunggah ke media sosial—cukup untuk membangun narasi.

Di sinilah pergeseran itu terasa. Lebaran yang dulu identik dengan kesederhanaan dan kehangatan keluarga, kini perlahan bersinggungan dengan kebutuhan akan pengakuan.

Baca Juga  TPS Jamin Kelancaran Arus Kargo Selama Libur Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2025

Di perantauan, tekanan sosial untuk “terlihat berhasil” bukan hal baru. Namun kini, validasi itu tidak hanya dicari dari keluarga, tapi juga dari layar-layar kecil di genggaman banyak orang.

Tak sedikit yang akhirnya “meminjam citra”. iPhone sewaan menjadi alat untuk membentuk kesan: bahwa hidup di kota besar berjalan baik-baik saja, bahkan sukses. Bahwa perjuangan di rantau telah membuahkan hasil, meski realitasnya mungkin belum sepenuhnya demikian.

Fenomena ini tidak bisa dilihat semata sebagai gaya hidup konsumtif. Ada lapisan psikologis di dalamnya: kebutuhan untuk diakui, rasa gengsi, hingga ketakutan dianggap gagal saat pulang kampung.

Dalam situasi tertentu, validasi itu bahkan dipaksakan—melalui citra yang dibangun, bukan kenyataan yang dijalani.

Promo-promo sewa pun laris manis. Paket “sewa 3 hari gratis 2 hari” hingga “sewa 5 hari gratis 5 hari” diburu menjelang puncak mudik.

“Paling laris disewa ialah seri iPhone 11, 13, dan 15. Untuk tarifnya, iPhone 11 misalnya dipatok Rp90 ribu per hari, sedangkan iPhone 13 Rp160 ribu per hari, dan iPhone 15 Rp180 per hari,” ungkap Abdullah, Kamis (19/3/2026) lalu.

Abdullah mengaku juga menyediakan seri terbaru, yakni iPhone 17 Pro Max yang harga sewanya Rp380 ribu per hari.

Baca Juga  Syiar Idulfitri di Baturraden: Meneguhkan Islam Berkemajuan di Kaki Gunung Slamet

Permintaan begitu tinggi hingga sebagian calon penyewa terpaksa ditolak karena kehabisan unit.

Di balik angka-angka itu, ada cerita yang lebih besar: tentang bagaimana teknologi dan media sosial mengubah cara orang memaknai pulang.

Mudik bukan lagi sekadar kembali ke rumah, tapi juga panggung untuk menunjukkan siapa diri kita—atau setidaknya, siapa yang ingin kita terlihat.

Hari Raya yang seharusnya menjadi momen kembali ke fitrah, justru diwarnai upaya menegaskan status. Antara kenyataan dan pencitraan, batasnya kian tipis.

Dan di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah pertanyaan sederhana muncul: apakah kebahagiaan di Hari yang Fitri masih cukup dengan apa adanya, atau kini harus dibuktikan —bahkan jika itu berarti sedikit meminjam realita?