Sorot Peningkatan Volume Sampah Saat Ramadan, Prof Syafiq Mughni Dorong Implementasi Ekoteologi di Berbagai Lini

Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq A Mughni MA ketika menyampaikan paparan dalam Kajian Ramadan 1447 Hijriah PWM Jatim di Unmuh Jember, Ahad (22/2/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq A Mughni MA mendorong implementasi pemahaman dan kesadaran ekoteologi di lingkungan Persyarikatan, baik di pengajian-pengajian, hingga di amal usaha.

Hal itu ia ungkapkan ketika menyampaikan paparan pada hari kedua Kajian Ramadan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Ahad pagi (22/2/2026).

“Menjaga lingkungan adalah perintah agama, tugas agama, kewajiban agama, saya yakin iya. Ekoteologi berkeyakinan bahwa alam adalah mulia dan merusaknya adalah melanggar kehendak Tuhan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi, beriring dengan besarnya tanggung jawab dalam mengelola dan menjaganya supaya tetap seimbang.

“Status manusia sebagai khalifah menunjukkan tanggung jawab untuk mengelola dan menjaga bumi untuk menjaga keseimbangan lingkungan,” tandas Syafiq.

Pemahaman dan kesadaran ekoteologi, menurut Syafiq menjadi hal yang penting, terlebih menghadapi berbagai perubahan di dunia saat ini yang semakin dinamis.

Mendorong Implementasi Ekoteologi

Lebih jauh, Syafiq menandaskan bahwa pemahaman dan kesadaran ekoteologi merupakan hal yang sangat penting. Sebab itu, ia mendorong agar kajian-kajian ekoteologi semakin diperbanyak di lingkungan Persyarikatan, terutama di ekosistem Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Baca Juga  Lebih Dari Seperempat Anak Muda Jatim Anggap Money Politic Hal Wajar

“Ekoteologi maka selalu menyangkut dua realitas, yaitu ekologis dan ajaran agama,” tandasnya.

Selain itu, Syafiq juga mendorong agar materi-materi dan diskursus ekoteologi diintegrasikan ke dalam dunia pendidikan, diimplementasikan di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta diimplementasikan di komunitas Muhammadiyah.

Tak cuma itu, ia juga menyerukan agar kajian-kajian ekoteologi diangkat dalam pengajian-pengajian Muhammadiyah. Menurutnya, penting bagi para muballigh Persyarikatan untuk memiliki sensitivitas terhadap isu-isu lingkungan hidup.

Ia menyorot misalnya pada tausiyah-tausiyah atau ceramah yang disampaikan para muballigh ketika Bulan Ramadan, yang menurutnya masih cukup jarang yang mengungkapkan fakta bahwa produksi sampah selama Ramadan meningkat signifikan.

“Kalau Bulan Ramadan ini kan kebanyakan ngaji soal lapar dan dahaga, tidak boleh ngerasani orang, tidak boleh ini dan itu, kemudian kita harus bersedekah, kita harus memperbanyak salat, zikir, dan sebagainya,” sebutnya.

“Tetapi mungkin belum banyak yang menyampaikan fakta bahwa Bulan Ramadan itu adalah bulan yang paling produktif di dalam memperbanyak sampah, memproduksi sampah. Karena selalu menyediakan makanan yang berlebih-lebihan dan tidak habis, lalu dibuang, dan itu menjadi beban, menjadi sampah,” sambungnya.

Akumulasi sampah Ramadan itu, lanjut Syafiq, bisa mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. “Dan ini sama sekali tidak ramah lingkungan,” tegasnya.

Baca Juga  Tonggak Internasionalisasi Pendidikan Muhammadiyah, Kukuhkan Raja Muda Perlis Jadi Canselor UMAM

“Jangan-jangan kita ini sudah termasuk orang yang mubadzirin, orang-orang yang ikhwanu sayatin karena mubazir. Dan juga menjadi tidak disukai oleh Allah,” tambah Syafiq.

Di sisi lain, ia juga menilai bahwa mungkin beberapa muballigh sudah menyampaikan terkait hal tersebut. Namun, kesadaran ekologis tersebut belum menjadi suatu kesadaran kolektif. Sebab itu, Syafiq berharap ekoteologi terus didorong dan supaya menjadi kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan.