MAKLUMAT — Kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk gencatan senjata (ceasefire) selama dua pekan lamanya menandai resultante peperangan yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Trump—Presiden AS sekaligus inisiator serangan—boleh saja mengklaim kemenangan, bahkan tetap memberikan gertakan untuk mendukung diplomasi dan negosiasi yang sedang berlangsung. Namun, apabila menilik fakta-fakta di lapangan dan konsekuensi multidimensional yang harus ditanggung oleh AS dari peperangan, rasa-rasanya tak akan ada “Rambo Vietnam” yang menyelamatkan muka Trump dan AS di palagan Iran.
Bangsa AS yang mengklaim sebagai negara adidaya perlu untuk mengevaluasi diri. Klaim adidaya tampaknya tidak berlaku bagi AS di bawah kepemimpinan Trump. AS terperosok sangat dalam kejurang kehancuran, baik dari marwah demokrasi, penghormatan terhadap hukum perang atau hukum humaniter internasional, sikap dalam menghormati hak asasi manusia, serta retaknya soliditas di berbagai organisasi internasional, terutama UN (United Nations/ PBB) dan NATO. Apa yang dilakukan oleh Trump di Iran adalah rekam jejak sejarah yang jauh lebih kelam dibandingkan dengan Perang Vietnam yang menjadi penanda bahwa AS pernah melakukan kesalahan dalam kalkulasi perang.
Pembelajaran Perang Vietnam
Perang Vietnam yang berlangsung selama dua dekade, sejak 1 November 1955 hingga 30 April 1975, menjadi palagan kekalahan AS. Kekalahan AS bukan semata dipicu oleh kombinasi taktik perang gerilya Vietkong yang efektif, ketidakpahaman pasukan AS terhadap medan hutan Vietnam, tapi lebih disebabkan oleh kuatnya penolakan publik domestik AS dalam peperangan tersebut, serta rendahnya moral pasukan untuk menjalani perintah perang dari petinggi politik dan militer AS. Selama perang berlangsung, demonstrasi besar-besaran terjadi di seluruh penjuru AS karena brutalnya perang yang dilakukan.
Tentara AS menjelma sebagai pasukan penjahat perang dan penjahat kemanusiaan karena melakukan segala cara untuk memenangkan peperangan. Dukungan yang diberikan kepada Vietnam Selatan—sementara Vietnam Utara didukung oleh Uni Soviet dan Tiongkok—justru berbalik menjadi aksi menentang AS. Tentara AS tak segan untuk merusak fasilitas publik yang notabene bukan menjadi sasaran perang, merusak lahan pertanian tempat rakyat Vietnam menggantungkan hidup, hingga melakukan pembunuhan terhadap warga yang berstatus non-kombatan. Alhasil, AS kalah perang dan kehilangan muka.
Hanya film Rambo yang diproduksi sineas film AS yang menggambarkan bahwa AS menang perang secara bermartabat—propaganda sumir dan dipaksakan.
Repetisi Perang Vietnam di Iran
Apa yang terjadi di Vietnam lima dasawarsa silam, kembali terjadi di Iran. Dan, sentralitas utama kesalahan, kegagalan, dan kekalahan AS tersebut adalah Donald Trump selaku Presiden AS.
Brutalisme serangan AS tercermin dari serangan terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, serta serangan bom terhadap sekolah di Iran yang menewaskan lebih dari 200 orang siswi sekolah tersebut. Jika ditarik mundur ke belakang, AS bahkan mengangkangi etika diplomasi dengan melakukan serangan militer ketika negosiasi dengan Iran masih berjalan di Jenewa, Swiss.
Serangan yang dilakukan terhadap Iran juga dimotivasi oleh kepentingan yang sangat tidak berdasar, yakni tuduhan kepada Iran terkait nuklir dan tuduhan bahwa Iran menjadi dalang dari semua gerakan milisi anti-Zionis di Timur Tengah. AS terjebak dalam pragmatisme politik, salah logika dan taktik karena terjebak oleh hasutan dan intrik politik yang dimainkan oleh penjahat perang Benjamin Netanyahu.
Alhasil, AS terancam kalah perang dan kehilangan muka. Donald Trump sendiri sangat memenuhi persyaratan untuk dimajukan sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Gencatan senjata selama dua pekan antara kedua pihak yang dimediasi oleh Pakistan sejatinya menjadi kode keras kekalahan AS. Iran masih memiliki nafas panjang untuk melanjutkan peperangan. Sebaliknya, AS kehabisan logistik, kehilangan dukungan publik, dan menderita kerugian materi yang tidak sedikit di kawasan. Negosiasi yang dilakukan 11 April ini bahkan memuat klausul dari Iran bahwa perdamaian hanya dapat terwujud apabila AS memberikan ganti rugi yang sepadan atas segala kerusakan materi yang terjadi di Iran selama peperangan. AS lagi-lagi berpotensi kalah telak dengan klausul tersebut.
Jangan Berharap Ada Rambo di Teheran
Publik AS patut untuk benar-benar murka dengan Donald Trump. Dalam diplomasi yang berlangsung di Islamabad Pakistan pada 11 April 2026 lalu, Trump menunjuk JD Vance—Wakil Presiden AS sebagai juru runding bersama Steve Witkoff yang berstatus sebagai Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah dan Jared Kushner menantu Trump. JD Vance sendiri adalah sosok yang disebut-sebut menolak keterlibatan AS terjun memerangi Iran.
Hal ini menjadi penanda bahwa keputusan perang AS bukanlah sebuah keputusan yang bulat. Ada penolakan keras yang tak hanya disuarakan oleh publik awam, tapi juga petinggi politik pemerintahan yang seharusnya didengarkan oleh Trump sebagai bahan formulasi kebijakan. Menjelang negosiasi yang berlangsung hari ini, Trump masih sempat “menggonggong” dengan menyebut bahwa AS siap untuk meluluhlantakkan Iran—sebuah retorika kosong kalah perang. Hasilnya, negosiasi AS-Iran berakhir buntu.
Publik AS perlu mengawal negosiasi dan diplomasi yang disebut-sebut masih terbuka selama masa gencatan senjata dua pekan ini, meski negosiasi di Islamabad berakhir buntu. Gencatan senjata adalah pilihan yang bijak bagi AS. Lebih bijak lagi apabila momen gencatan senjata dan diplomasi yang dilakukan dijadikan momentum untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang.
Bangsa Iran adalah bangsa yang terhormat. Mereka telah mempraktikkan kekhidmatan diplomasi secara bermartabat sejak panggung diplomasi di mulai dari Muscatt hingga Jenewa. Mereka juga telah menunjukkan kekhidmatan berperang dalam menjaga marwah dan martabat mereka sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat. Kesalahan dan kegagalan AS di Perang Iran dapat ditutup dengan mekanisme soft exit melalui diplomasi dan negosiasi secara bermartabat dengan Iran saat ini. Jika tidak, jangan bermimpi ada fiksi Rambo di tanah Bangsa Persia.













