24.1 C
Malang
Jumat, April 4, 2025
Lebaran & MudikTakbir di Negeri Tirai Bambu: Begini Uniknya Idulfitri di Tiongkok

Takbir di Negeri Tirai Bambu: Begini Uniknya Idulfitri di Tiongkok

Idulfitri di Tiongkok
Ada yang unik dalam Salat Idulfitri di Tiongkok. Umat Islam memulai Salat Id dengan mengibarkan bendera dan lagu kebangsaan Tiongkok. Foto: Muhammadiyah

MAKLUM AT — Kemeriahan Idulfitri di negara dengan minoritas Muslim seperti Tiongkok tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Banyak dari kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana rasanya beribadah di sana? Apakah suasananya tetap semarak? Kekhawatiran itu wajar, terutama bagi mereka yang baru pertama kali merayakan hari kemenangan jauh dari tanah air.

Namun, semangat Idulfitri tetap membara di hati para perantau Indonesia dan komunitas Muslim lokal di Tiongkok. Hal ini dibuktikan oleh Zanuwar Hakim, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tiongkok, yang membagikan pengalaman uniknya saat merayakan Idulfitri 1446 H di Kota Changchun, Provinsi Jilin.

“Kami melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Songji. Setelahnya, kami menggelar halal bihalal yang dipimpin oleh imam bersama jamaah Muslim lokal. Meskipun jauh dari keluarga, kebersamaan dengan diaspora Indonesia dan warga Muslim di sini sudah seperti keluarga sendiri,” ujar Zanuwar.

Ada satu momen yang cukup unik dan mungkin jarang ditemui di negara lain. Sebelum salat Idulfitri dimulai, imam masjid dan pengurusnya mengibarkan bendera Tiongkok serta menyanyikan lagu kebangsaan.

Tradisi ini mencerminkan bagaimana umat Muslim di sana tetap menghormati aturan dan budaya setempat. Selain itu, takbir dan ibadah dilakukan hanya di dalam masjid karena adanya regulasi ketat mengenai kegiatan keagamaan di ruang publik.

Suasana Lebaran 

Bagaimana dengan perayaan Idulfitri di kota besar seperti Shanghai? Abd. Muin, Ketua Perhimpunan Muslim Indonesia (Permusim) di Shanghai, menceritakan bahwa semangat lebaran tetap terasa meski berada di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan.

“Alhamdulillah, KJRI Shanghai bersama Permusim bekerja sama dalam menggelar perayaan Idulfitri. Open house di KJRI menjadi ajang silaturahmi bagi WNI yang tinggal di sini,” ungkap Muin dilansir dari laman Muhammadiyah.

Meskipun berstatus minoritas, warga Muslim Indonesia di Shanghai tetap berusaha menghadirkan suasana Idulfitri yang hangat. Kebersamaan dengan warga Muslim lokal pun semakin mempererat ikatan persaudaraan, membuat momen lebaran terasa lebih istimewa meskipun jauh dari kampung halaman.

Rindu yang Tertambal 

Bagi banyak perantau, Idulfitri bukan hanya soal merayakan hari kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana menemukan kebersamaan di tanah yang jauh dari rumah. Di Tiongkok, semangat gotong royong dan rasa persaudaraan menjadi kunci utama dalam menjalani hari besar ini.

Meski ada tantangan, keterbatasan, dan rasa rindu pada keluarga di tanah air, perayaan Idulfitri tetap berlangsung penuh makna. Di setiap pelukan silaturahmi, di setiap suapan makanan khas yang dikreasikan di perantauan, ada kehangatan yang mengisi ruang kosong di hati. Karena pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya soal tempat, tetapi tentang dengan siapa kita merayakannya.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL LAINNYA

Populer