Talkshow Semarak Kartini PC IMM Ponorogo, Ini Pesan Ketua PDA Titi Listyorini

Muhammadiyah Ponorogo

MAKLUMAT — Acara talkshow Semarak Kartini yang digelar Bidang Immawati PC IMM Ponorogo telah berlangsung di Aula Lantai 2 Pimpinan Daerah (PDM) Ponorogo, Jumat (1/5/2026).

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Ponorogo, Titi Listyorini hadir untuk membuka acara yang bertemakan Kartini Masa Kini: Rekonstruksi Jati Diri dan Artikulasi Suara Perempuan di Tengah Dinamika Zaman tersebut.

Dalam sambutannya, Listyorini menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para peserta dan kader muda yang hadir. Ia mengingatkan kembali peran penting mereka sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna Muhammadiyah maupun Aisyiyah.

“Para tokoh perempuan yang saat ini berada di Aisyiyah sangat menantikan kiprah para kader muda untuk melanjutkan estafet perjuangan dan memberikan kontribusi nyata,” ujarnya.

Ia juga mengomentari terkait dengan tema artikulasi suara perempuan. Menurutnya, bersuara tidak boleh sekadar berucap tanpa arah atau berdemonstrasi tanpa etika.

“Suara perempuan harus memiliki metode yang tepat agar mampu menjadi inspirasi yang membawa kebaikan bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” jelasnya.

Listyorini juga menjabarkan karakter dasar yang wajib direkonstruksi dan dimiliki oleh perempuan masa kini melalui nilai filosofis akronim KADER, yakni:

K berarti komunikatif dan kreatif, yakni mampu menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dengan cara yang baik dan inovatif. A berarti aktif, yakni terus bergerak maju mengambil peran, bukan sekadar menjadi penonton yang pasif.

Baca Juga  GEDSI Harus Jadi Agenda Bersama, Jurnalis Muhammadiyah Wajib Ambil Peran

Sedangkan D berarti dedikatif dan dinamis, yakni rela mengorbankan tenaga, pikiran, serta waktu demi kebaikan bersama. Listyorini berpesan bahwa seorang kader harus dinamis, terus berkembang, dan menghargai waktu dengan tidak menunda-nunda pekerjaan.

Lalu E adalah energik, yakni memiliki semangat juang yang tinggi, pantang menyerah, dan tidak mudah mengeluh. Sedangkan R berarti responsif, yakni tanggap dan tidak acuh terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi di sekitarnya.

Ia juga menyoroti keberhasilan emansipasi dan kesetaraan pendidikan di era modern. Saat ini, perempuan telah membuktikan kapasitasnya secara setara, terbukti dengan banyaknya perempuan yang berhasil meraih gelar akademik tertinggi seperti profesor dan doktor.

Oleh karena itu, Listyorini menilai bahwa perempuan masa kini dituntut untuk selalu cerdas, berwawasan luas, dan tidak hanya sekadar mengekor pada tradisi lama tanpa dilandasi pemikiran yang kritis.

“Kader tidak boleh apatis. Kepedulian sosial, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas, sangatlah dibutuhkan. Kita tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan kehidupan sosial,” pesannya.