Tanwir Pemuda Muhammadiyah 2026: Bertumbuh, Mengakar, Memihak Kaum Mustad’afin

Tanwir Pemuda Muhammadiyah 2026

MAKLUMAT — Tema Tanwir Pemuda Muhammadiyah tahun ini cukup keren: “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Raya”. Kalimatnya teduh, optimistis, dan khas bahasa forum organisasi—terdengar penuh harapan sekaligus aman dari potensi membuat gaduh.

Namun, justru karena terlalu indah, tema itu perlu sedikit “diganggu” dengan pertanyaan sederhana: yang bertumbuh ini sebenarnya apa? Ideologinya, keberpihakannya, atau cuma baliho organisasinya?

Sebab, belakangan kita hidup di zaman ketika banyak organisasi tampak besar secara visual, tetapi kurus secara gagasan.

Kadernya ramai, acaranya megah, media sosialnya aktif, tetapi sensitivitas sosialnya makin tipis.

Semua sibuk berbicara soal branding, tetapi lupa mendengar suara rakyat kecil yang makin megap-megap hidup di negeri sendiri.

Indonesia hari ini memang lucu. Negara sering berbicara soal pertumbuhan ekonomi, tetapi rakyat tumbuh dalam kecemasan. Harga kebutuhan naik, pekerjaan makin sulit, rumah makin tidak terjangkau, pendidikan mahal, sementara elite politik sibuk memamerkan senyum di TikTok seolah negeri ini baik-baik saja.

Yang lebih ironis, anak muda juga mulai didorong menjadi generasi yang rajin flexing, tetapi malas berpikir. Semua ingin cepat terkenal, cepat kaya, dan cepat viral. Tidak banyak yang mau repot membaca kenyataan sosial secara serius. Akibatnya, ruang publik penuh motivator dadakan, tetapi miskin pemikir yang benar-benar peka terhadap ketimpangan.

Baca Juga  Sowan ke PWM Jatim, TKD Ungkap Persentase Kemenangan Prabowo-Gibran Capai 44 Persen

Revitalisasi Gerakan Pemuda Muhammadiyah

Di titik ini, Pemuda Muhammadiyah seharusnya tidak ikut-ikutan menjadi organisasi yang sekadar sibuk mengurus pencitraan. Sebab, kalau hanya ingin terlihat besar, buzzer politik juga bisa.

Muhammadiyah sejak awal lahir bukan untuk menjadi dekorasi moral kekuasaan. Ahmad Dahlan membangun gerakan ini dengan kegelisahan sosial, bukan dengan obsesi jabatan.

Spirit Al-Ma’un tidak lahir dari ruang rapat ber-AC, tetapi dari keberanian melihat kemiskinan sebagai problem iman dan kemanusiaan.

Masalahnya, semakin besar organisasi, kadang semakin besar pula godaan untuk menjauh dari rakyat kecil. Aktivis lebih sibuk mencari posisi strategis ketimbang mendampingi masyarakat pinggiran.

Forum-forum organisasi dipenuhi bahasa “kolaborasi”, tetapi minim keberanian mengkritik ketidakadilan struktural. Padahal, rakyat sedang menghadapi banyak hal absurd.

Petani kalah oleh korporasi. Guru honorer digaji memprihatinkan. Anak muda dipaksa bersaing di dunia kerja yang makin tidak manusiawi. Bahkan, pendidikan tinggi pelan-pelan berubah seperti marketplace: siapa punya uang, dia punya akses lebih besar.

Sementara itu, negara sering hadir dengan wajah yang aneh: keras kepada rakyat kecil, tetapi lembut kepada pemilik modal.

Dalam situasi seperti ini, tema “mengakar” mestinya jangan berhenti menjadi spanduk forum. Mengakar berarti berani masuk ke realitas sosial yang tidak nyaman.

Baca Juga  Gelar Pengajian dan Musycab, Pemuda Muhammadiyah Sawahan Punya Nahkoda Baru

Berani berbicara soal oligarki ekonomi, kerusakan lingkungan, korupsi sumber daya, hingga politik yang makin kehilangan etika.

Kalau tidak, organisasi pemuda hanya akan tumbuh sebagai administrasi, bukan sebagai gerakan.

Tantang Organisasi

Dan terus terang saja, tantangan terbesar organisasi Islam hari ini bukan kekurangan kader. Yang kurang adalah kader yang punya keberanian intelektual dan sensitivitas sosial sekaligus.

Banyak yang pintar membuat proposal kegiatan, tetapi gagap membaca penderitaan masyarakat. Padahal, bangsa ini tidak kekurangan orang saleh. Yang kurang adalah orang saleh yang mau berpihak.

Karena itu, Tanwir Pemuda Muhammadiyah 2026 seharusnya menjadi momentum untuk bertanya ulang: apakah kita masih benar-benar berdiri bersama kaum mustad’afin, atau jangan-jangan mulai nyaman berada terlalu dekat dengan lingkar kekuasaan?

Sebab, sejarah biasanya kejam kepada organisasi yang lupa akar sosialnya. Awalnya kehilangan keberpihakan, lalu kehilangan relevansi, dan akhirnya tinggal menjadi kenangan seremoni tahunan.***