MAKLUMAT — Setiap Ramadan datang, pemandangan yang sama selalu terulang. Masjid mendadak penuh. Anak-anak ikut orang tua. Suara imam menggema. Dan setelah Isya, umat Islam berdiri dalam satu ibadah khas bulan suci: salat Tarawih.
Namun di balik suasana khusyuk itu, pertanyaan lama selalu muncul kembali: Tarawih itu wajib atau sunnah? Berapa rakaat yang benar? Haruskah selalu berjamaah di masjid? Jawabannya bisa ditemukan langsung dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw.
Tarawih Sejak Awal Memang Sunnah
Riwayat dari Aisyah ra menceritakan bahwa Nabi pernah salat malam di masjid Ramadan dan diikuti para sahabat. Jamaah semakin banyak dari malam ke malam. Namun pada malam berikutnya Nabi tidak keluar lagi. Keesokan paginya beliau menjelaskan: beliau khawatir jika terus dilakukan, salat tersebut akan diwajibkan atas umatnya. Dari sinilah ulama memahami bahwa Tarawih sejak awal adalah ibadah sunnah, bukan kewajiban.
Hal ini diperkuat hadis Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah menganjurkan qiyam Ramadan tanpa mewajibkannya. Bahkan beliau menjanjikan ampunan dosa bagi yang melaksanakannya dengan iman dan harapan pahala.
Nabi Tidak Selalu Tarawih Berjamaah
Banyak orang mengira Tarawih berjamaah harus dilakukan setiap malam di masjid. Padahal hadis Abu Dzar ra menunjukkan Nabi tidak selalu mengimami Tarawih sepanjang Ramadan.
Namun beliau juga menegaskan satu hal penting: siapa yang salat bersama imam sampai selesai, akan dicatat baginya pahala qiyam satu malam penuh. Artinya, berjamaah sangat dianjurkan — tapi bukan satu-satunya cara.
Berapa Rakaat Tarawih Nabi?
Di tengah perbedaan praktik umat, riwayat Aisyah ra memberikan jawaban yang sangat jelas. Ia menyatakan Rasulullah tidak pernah menambah salat malamnya, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari 11 rakaat termasuk witir. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, sehingga termasuk riwayat paling kuat dalam masalah ini.
Waktu Terbaik Tarawih Ternyata Larut Malam
Tarawih yang paling utama sebenarnya dikerjakan pada waktu larut malam. Rasulullah pernah keluar ke masjid ketika malam sudah cukup larut dan salat bersama para sahabat hingga mendekati waktu sahur.
Meski begitu, Tarawih juga boleh dilakukan setelah Isya di awal malam, karena lebih memudahkan jamaah dan tetap mendapat pahala berjamaah.
Ramadan Bukan Soal Jumlah, Tapi Menghidupkan Malam
Dari seluruh hadis tersebut, satu pesan besar terlihat jelas: Tarawih adalah ibadah untuk menghidupkan malam Ramadan. Ia sunnah, penuh keutamaan, fleksibel dalam pelaksanaan, dan membuka peluang bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuannya.
Perbedaan jumlah rakaat maupun cara pelaksanaan yang berkembang di masyarakat menjadi bagian dari kekayaan fikih Islam — bukan alasan untuk memperdebatkan ibadah. Pada akhirnya, Ramadan bukan soal siapa paling panjang rakaatnya, melainkan siapa paling hidup hatinya.***













