MAKLUMAT – Mantan Ketua parlemen Israel, Avraham Burg membongkar fakta mengejutkan terkait ancaman terhadap Masjid Al-Aqsa. Ia menyebut, sedikitnya terdapat lima upaya serius dari kelompok ekstremis Yahudi untuk menghancurkan situs suci tersebut sejak 1967.
Dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat Tucker Carlson, Burg menegaskan bahwa ancaman terhadap Al-Aqsa bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang telah berulang kali direncanakan.
“Setidaknya ada lima upaya untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan saya tidak yakin itu semua,” kata Burg seperti dilansir Aljazeera, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan fokus persoalan bukan pada jumlah pendukung, melainkan tingkat fanatisme kelompok ekstremis yang memiliki kesiapan tinggi untuk bertindak.
Pernyataan ini mengejutkan Carlson yang mengaku tidak mengetahui adanya upaya sistematis tersebut. Ia bahkan menyebut kemungkinan adanya konspirasi untuk menghancurkan Kubah Batu dan Al-Aqsa secara bersamaan.
Wawancara ini viral di media sosial dan memicu kekhawatiran baru, terutama setelah penutupan kompleks Al-Aqsa selama 25 hari dengan alasan darurat keamanan.
Situasi ini juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, terutama pasca serangan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Pengakuan Avraham Burg membuka lapisan sensitif yang selama ini jarang diungkap secara terbuka oleh elite Israel. Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa ancaman terhadap Masjid Al-Aqsa bukan hanya berasal dari konflik politik, tetapi juga didorong oleh agenda ideologis kelompok ekstremis.
Burg bukan tokoh sembarangan. Sebagai mantan Ketua Knesset, pernyataannya memiliki bobot politik dan historis yang kuat. Pola ancaman berulang dan jika benar terjadi lima kali percobaan sejak 1967, maka ini menunjukkan adanya konsistensi gerakan yang terorganisir, bukan aksi sporadis.
Pengungkapan ini muncul bersamaan dengan eskalasi konflik regional, khususnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran. Ini berpotensi memperkeruh situasi di Yerusalem, yang selama ini menjadi titik sensitif dunia Islam.
Secara keseluruhan, isu ini tidak bisa dilihat sebagai pernyataan biasa. Ia berpotensi menjadi pemicu reaksi global, terutama dari negara-negara Muslim, jika tidak dikelola secara hati-hati.













