Terungkap Keris Kurang Diminati Masyarakat, Ini Penjelasan Budayawan

keris

MAKLUMAT – Cara pandang masyarakat terhadap keris banyak yang masih salah kaprah. Keberadaan keris yang kini telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan tak benda memiliki sejarah dan filosofi panjang.

Kesalahkapraan cara pandang ini terungkap dalam diskusi ‘Jangan Takut Megang Keris’ di Sasana Bhagavadgita, Surabaya, Sabtu (27/6/2026). Di sini terungkap bahwa cara pandang masyarakat terhadap keris masih terstigma klenik, bertuah, hingga aura mistis.

“Padahal kalau dirunut sejarahnya, keris itu senjata. Rancang bangunnya didesain untuk perkelahian jarak dekat yang mematikan. Nggak bisa dibuat seperti main anggar,” kata budayawan, sekaligus nara sumber diskusi, Antonio Carlos.

Dalam literatur yang ia peroleh menyebutkan keris menjadi senjata terakhir, apabila panah, tombak, dan pedang tidak menyelesaikan pertempuran.

Ia membedah filosofi keris sebagai senjata masyarakat klasik di hadapan mahasiswa dan pecinta budaya. Paparan yang tidak kalah penting adalah cara pandang masyarakat Indonesia yang mengalami kemunduran.

Sebab kebanyakan masyarakat memandang keris bukan sebagai senjata apalagi warisan budaya. Sejauh ini masih banyak yang memandang sebelah mata terhadap keris.

Kondisi ini ditambah dengan banyaknya sinematorafi yang menggambarkan sosok jahat memegang keris yang dilawan ulama bersorban. “Ini seolah-olah mendiskreditkan keris dimiliki orang-orang jahat, yang harus dilawan. Jelas ini cara pandang salah,” tegasnya.

Baca Juga  Resmikan Monumen Keris di Sumenep, Fadli Zon: Simbol Kebangkitan Budaya

Budayawan yang juga pecinta batik ini mengajak masyarakat berpikir rasional. Bahwa keris itu benda seni yang merupakan bagian dari budaya bangsa, sebagaimana batik.

Alumni Universitas Negeri Surabaya ini menduga penyematan keris bertuah tak lepas dari keterikatan emosional pemiliknya. Kemudian mewariskan kepada anak-cucu, ditambah dengan cerita-cerita irasional, yang memicu kemunculan tuah dan pesan mistis.

keris
Sejumlah mahasiswa menyaksikan keris yang dipamerkan dalam diskusi bertajuk Jangan Takut Megang Keris. Foto: RochmanArief/malumat.id

“Ini asumsi, yang kemudian menciptakan transformasi berpikir yang menjadikan keris sebagai senjata menjadi pusaka,” imbuh sarjana psikologi ini.

Dalam diskusi ini Carlos mengajak peserta diskusi berpikir lurus bahwa keris adalah warisan budaya. Sebarannya telah mencapai Sumatera, Kalimantan, bahkan Nusa Tenggara. Tak ketinggalan Malaysia, Filipina bagian selatan dan Thailand bagian selatan juga mengenal budaya keris.

Ia juga mengajarkan cara merawat keris agar tidak mudah lapuk dan berkarat. Bahkan kolektor di luar negeri sangat menghargai keris, yang cukup ironi di dalam negeri.

Pada dasarnya, keris tidak jauh berbeda dengan katana di Jepang, toledo di Spanyol maupun damaskus steel milik Salahuddin Al Ayyubi. Pembuat katana di Jepang jauh lebih dihormati lantaran masih merawat dan melestarikan warisan budaya.

“Mari kita rawat keris sebagai warisan budaya dan jangan sampai terjebak dengan romantisme masa lampau melalui pop culture,” pungkas Carlos.

Baca Juga  Jepang dan Piala Dunia 2026: Merangkai Mimpi Besar dengan Disiplin dan Kerja Keras

Kekonyolan cara pandang terhadap keris juga disampaikan budayawan Wejoseno Juli Nugroho. Seno, sapaannya sependapat dengan Carlos bahwa banyak masarakat terjebak dengan pop culture.

“Keris itu tidak akan baik bila dari masyarakat sendiri tidak menerima tempaan rasional yang matang. Ini yang menyebabkan keris jauh dari kesan warisan budaya.

Di dalam diskusi ini juga memamerkan berbagai jenis keris dari segi ukuran dan harga. Semakin rumit pembuatan dan semakin premium bahannya, makin mahal harga keris.