Tinjau Muktamar, Ning Lia: Fatayat Pegang Kendali Kultural Masa Depan NU

lia istifhama

MAKLUMAT — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (PW Fatayat NU) Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama,menegaskan bahwa badan otonom (Banom) seperti Fatayat memposisikan diri sebagai peninjau atau observer pada Muktamar ke-35 NU, sehingga tidak memiliki hak suara struktural dalam pemilihan kepemimpinan.

Meski demikian, perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini memastikan bahwa absennya hak voting sama sekali tidak menyurutkan andil besar kaum hawa dalam menentukan arah masa depan organisasi. Keberlangsungan generasi Nahdliyin justru bertumpu pada pola didikan dan ketahanan keluarga yang digerakkan oleh perempuan NU.

“Ayo kita berperan, jangan sampai baperan,” tegas Ning Lia di Jombang, mendorong kader Muslimat, Fatayat, hingga IPPNU untuk aktif mengisi ruang-ruang strategis publik,” kata putri Tokoh NU Jatim, KH Masykur Hasyim yang arab disapa Ning Lia, Kamis (27/7/2026).

Menerjemahkan Konsep “Jalan Pulang NU ke Jamaah”

Dalam pandangan Ning Lia, gaung “Jalan Pulang NU ke Jamaah” tidak boleh sekadar menjadi retorika elite, melainkan harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang menyelesaikan persoalan sehari-air masyarakat. Kekuatan utama NU terbukti berada pada kemampuan menghadirkan solusi konkret di tingkat akar rumput.

Baca Juga  Terpilih Pimpin PBNU, Muhammadiyah Ucapkan Selamat kepada Gus Kikin dan KH Miftachul Akhyar

Di Jawa Timur sendiri, Fatayat NU telah membuktikan eksistensinya melalui berbagai program riil, seperti forum daiyah, program Desa Sahabat, hingga gerakan lingkungan Mustika Darling. Selain itu, ada pula program pengentasan kemiskinan ekstrem bertajuk Mustika Mesem dan penguatan akses pembiayaan mikro perempuan lewat Baznas Microfinance Majelis Taklim (BMMT).

“Secara kontekstual, NU harus hadir dalam daily life masyarakat sebagai benevolent society, masyarakat kebajikan,” jelas Ning Lia yang juga Anggota DPD RI.

Benteng Keluarga di Era AI dan Penguatan Ekonomi Mikro

Selain isu struktural, Ning Lia menyoroti tantangan transformasi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) yang mengancam generasi muda. Ia menekankan bahwa seorang ibu harus hadir tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai sahabat bagi anak-anaknya agar melek digital tanpa terjebak dampak negatif seperti judi online.

Di sektor ekonomi, ia mendorong agar program pemberdayaan perempuan tidak berjalan sendiri-sendiri atau terjebak ego sektoral antar-Banom. Sinergi lintas sektor melalui pembiayaan modal usaha tanpa bunga (skema qardhul hasan hingga Rp3 juta lewat BMMT) dinilai krusial untuk melahirkan kemandirian ekonomi bagi jamaah perempuan di majelis-majelis taklim.

Baca Juga  Siapa Pun Boleh Maju Jadi Ketum PBNU, Gus Ipul Pastikan Presiden Prabowo Tak Akan Cawe-Cawe

Terkait bursa calon Ketua Umum PBNU, Ning Lia memilih bersikap netral. Ia meyakini seluruh figur yang muncul adalah tokoh-tokoh bangsa terbaik yang kapabel menakhodai ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

“Bagi Fatayat NU Jatim, siapa pun pemimpin yang terpilih kelak, marwah organisasi dan kedekatan dengan jamaah,mulai dari keluarga, pesantren, hingga jutaan akar rumput harus tetap menjadi prioritas utama,” tandasnya.