​Tokoh Muda NU: Ada “Panitia Liar” di Muktamar ke-35, Bandingkan Kader NU dan Muhammadiyah

gus lilur

MAKLUMAT – Isu panas menerpa tubuh Nahdlatul Ulama (NU) jelang hari H Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026 .

Tokoh muda NU, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur secara blak-blakan menuding adanya keberadaan “panitia liar” dalam perhelatan Muktamar NU yang diduga sengaja dibentuk demi melanggengkan kepentingan politik tertentu.

Pernyataan menohok ini disampaikan kiai kampung asal Situbondo dalam sebuah diskusi terbuka yang videonya viral di berbagai platform media sosial Instagram dan TikTok Nahdliyyin Bersatu. Ia menilai bahwa kepanitiaan tersebut tidak merepresentasikan mekanisme organisasi yang transparan dan independen.

“Saya tidak percaya panitia sembilan ini disiapkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Berarti ini panitia liar. Ini hasil otak-atik Gus Ipul dan Nusron Wahid agar beliau berdua bisa menduduki jabatan kembali jabatan  stretegis di NU,” ungkap Gus Lilur dalam potongan video viral tersebut dikutip, Rabu (26/8/2026).

Gus Lilur yang juga penulis buku ”Prabowo untuk Indonesia Raya”menduga manuver tersebut digerakkan oleh figur tertentu untuk mengamankan posisi strategis di struktur kepengurusan NU ke depan. Langkah ini jelas mencederai marwah organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Baca Juga  Prabowo Bertandang ke Markas PKB, Cak Imin Serahkan 8 Agenda Perubahan

Tak hanya itu, Gus Lilur juga menyebut PCNU miskin gampang disetir iming-iming uang. Menurutnya, NU bukan Muhammadiyah. Secara finansial, NU kalah jauh sama Muhammadiyah.

“Kalau kita bicara cash, Muhammadiyah punya triliunan. Dan kader-kadernya memasukkan konsep organisasi yang mandiri di hatinya. Sementara kader NU, ngelihat uang 50 juta aja itu niat sudah bisa berubah,” ujarnya.

Gus Lilur mengungkapkan rasa sedihnya karena NU hari ini miskin. Kemiskinan ini kemudian dimanfaatkan oleh sembilan “pembantu” yang ia anggap sebagai “penguasa”. Namun ia percaya bahwa “penguasa” itu tidak mendapatkan restu dari Presiden Prabowo.

“ Ingin membeli suara di NU, menjadikan NU sebagai boneka penguasa guna melanggengkan kursinya Ipul, biar Ipul tidak di-reshuffle, biar Ipul tetap jadi menteri, guna melanggengkan kursinya Nusron Wahid yang di Golkar ya tidak begitu diorangkan, karena pemimpin Golkar tidak dari komunitasnya, maka dia perlu NU sebagai cantolannya,’’ paparnya

​Kemudian, lanjut Gus Lilur,  dua putra NU (Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Nuson Wahid) ini memanfaatkan suksesi NU sebagai sarana mereka bertahan di kekuasaan. Lantas PCNU-PCNU yang miskin dan perlu duit dan mata duitan itu mereka tawari iming-iming uang.

Baca Juga  Gus Mus Tolak Gelar Pahlawan untuk Soeharto: Orang NU Kalau Ikut Dukung Berarti Tidak Ngerti Sejarah!

​“Sayangnya PCNU kami bukan PC Muhammadiyah. Sayangnya PWNU kami bukan PW Muhammadiyah. Muhammadiyah ditawari uang, mereka pasti marah. Kalau kita ditawari uang, kita berlomba datang ambil uang,” cetusnya.

​Krisis Kemandirian Organisasi

​Fenomena “politik uang” dalam tubuh organisasi massa keagamaan sering kali berakar dari lemahnya ketahanan ekonomi struktural di tingkat cabang. Ketika institusi kurang mandiri secara finansial, celah intervensi kekuasaan eksternal menjadi jauh lebih lebar.

​Kritik tajam ini membuka ruang evaluasi penting bagi internal Nahdlatul Ulama agar memperkuat pilar kemandirian ekonomi, sehingga marwah jamiyah tetap terjaga di tengah pusaran pragmatisme politik praktis.