UMM Genjot Pengolahan Sampah, 1,2 Ton Limbah per Hari Diolah Mandiri

MAKLUMAT – Upaya pengolahan sampah terus diperkuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih itu membangun sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) untuk menekan volume limbah yang selama ini mencapai 1,2 ton per hari.

Langkah tersebut menjadi solusi konkret atas persoalan sampah di lingkungan kampus dengan populasi sekitar 35 ribu warga akademik. Sebelum sistem ini dibangun, TPS hanya berfungsi sebagai titik kumpul. Sampah masih bergantung pada pengangkutan ke luar kampus tanpa proses pengolahan berarti.

Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa sistem pengolahan sampah ini dirancang sebagai model terpadu dari hulu ke hilir. “Kami ingin ada pengelolaan sampah aga bisa menekan volume sekaligus memberi nilai tambah,” ujarnya.

Tiga Mesin, Satu Sistem Terintegrasi

Program ini menghasilkan tiga unit mesin utama yang dirancang dan diproduksi oleh tim internal UMM melalui Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM).

Pertama, mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam. Mesin ini mengolah botol dan limbah plastik menjadi serpihan kecil berukuran 5–10 milimeter agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Baca Juga  Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM Gelar Dilation untuk Uji Publik Karya Majalah

Kedua, mesin pencacah ranting dengan kapasitas 300–500 kilogram per jam. Limbah dedaunan dan ranting diolah menjadi serbuk biomassa yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam atau kompos.

Ketiga, alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan tingkat efisiensi 90–92 persen. Sampah campuran dari kantin dapat langsung dimasukkan, lalu dipisahkan otomatis antara plastik dan limbah organik. “Alurnya sudah kami desain. Plastik ringan akan terpisah, sementara limbah organik masuk proses lanjutan,” jelas Iis.

Menuju Konsep Zero Waste

UMM juga menyiapkan pengembangan menuju konsep zero waste campus. Limbah organik cair direncanakan difermentasi menjadi biogas dengan memanfaatkan kontur lereng lokasi TPS, sehingga tidak memerlukan pompa tambahan.

Gas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil sekaligus menjadi objek riset mahasiswa. Dengan skema ini, pengolahan sampah tak hanya menekan volume limbah, tetapi juga menciptakan energi alternatif.

Data internal menunjukkan komposisi sampah harian UMM terdiri atas 45 persen plastik (540 kilogram), 30 persen limbah organik tercampur plastik (360 kilogram), dan 25 persen ranting (300 kilogram). Dengan sistem terpadu ini, sebagian besar limbah bisa diproses di dalam kampus.

Baca Juga  Mahasiswa UMM Mulai Diincar Perusahaan Pertanian Jepang

Edukasi dan Inovasi Berkelanjutan

Selain menekan volume sampah, fasilitas ini juga menjadi laboratorium pembelajaran berbasis proyek bagi mahasiswa. Mulai dari desain mesin, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Teknik Mesin.

Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus model pengelolaan limbah mandiri bagi institusi pendidikan lain.